Saya peroleh banyak peringatan baik secara langsung maupun tidak langsung, dari beragam cara pada saat berhadap-hadapan juga melalui berbagai kanal media sosial. Perkara akhlak yang berulang-ulang ditulis dan disampaikan akan jadi jejak digital yang memenjaramu.

Tentu saja, ditengah kekhawatiran banyak orang itu, dalam hati kadang-kadang muncul penyesalan juga. Apakah selamanya saya bisa terus menjaga hal baik yang telah terlempar ke tengah publik? Tentu saja saya berharap seperti itu, nasi telah menjadi bubur, semoga istiqomah.

Sepandai-pandainya pembual dan pembuat alasan, tak mampu lagi membendung sinisme publik jika akhirnya kemudian berlaku nir-akhlak. Kata telah digelar, teladan hadir kemudian.

Mungkin kita mampu mencari berjuta alasan untuk membenarkannya, tapi apakah yang lain bisa memakluminya. Bisa saja kita peroleh kesempatan, tapi sebelum dan sesudahnya tentu saja kadar kepercayaanya menurun, jika tidak dikatakan menukik tajam.

Kesadaran seperti ini secara pribadi perlu berulang-ulang dibangkitkan, di tempat terang juga yang gelap. Kecintaan kita pada kata dan laku baik bin benar berlaku disemua tempat disetiap waktu.

Seperti yang dikutip dalam HR Bukhari, Abu Hurairah ra berkata: “ Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka hendaklah ia mengatakan yang baik atau hendaklah ia diam.” Juga dalam Al Quran Surah As-Shaff ayat 2-3, “Wahai orang-orang yang beriman, kenapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.”

Keteladanan Milenial

Ditulisan sebelumnya “Pahlawan Milenial, Mana Akhlakmu (?)” saya sedikit menjelaskan tentang ekspektasi dari generasi muda terhadap generasi sebelumnya. Mereka seringkali galau karena tak gampang lagi menemukan pahlawannya, atau siapapun yang layak mereka ikuti.

Bertebaran orang yang mengaku berakhlak baik di dunia nyata dan maya, ujungnya ambyar juga. Hampir mereka kehilangan harapan sehingga harus menemukan pahlawannya lewat tokoh di film-film.

Nyala optimisme harus terus dijaga, sekaligus memasang alarm tanda bahaya jika akhirnya kita kehilangan teladan dari generasi sebelumnya. Boleh kita menaruh harapan, tapi tidak untuk menggantungkannya selain kepada Tuhan yang Mahakuasa.

Sebenarnya di sudut-sudut Indonesia ini kita menemukan banyak teladan, mereka berbuat dengan dampak yang luas dalam sunyi. Ada yang sesekali tersorot media, tapi lebih banyak yang tidak sama sekali.

Pekan lalu ketika diundang menghadiri acara Munas Syabab Hidayatullah (Pemuda Hidayatullah) saya mendengar begitu banyak kisah inspirasi mereka dalam berdakwah dan mengkader generasi muda di pelosok daerah tertinggal, terdepan, dan terluar.

Di lembaga pemasyarakatan oleh senior saya Kanda Alam, beliau bekerjasama dengan anak muda disana untuk menghadirkan “Jeruji Pustaka”. Gerakan ini bahkan menghentak kesadaran, bahwa di ruang yang terisolir sekalipun akan muncul banyak kebaikan.

Juga beberapa kali diskusi dengan teman-teman PPI Dunia juga MataGaruda (alumni LPDP), tak sedikit kegiatan-kegiatan produktif yang mereka lakukan pada saat mereka sedang melanjutkan kuliahnya. Mereka ibarat diplomat muda, yang membawa hal-hal baik tentang Indonesia di mata dunia.

Tak cuma mendengar, suatu waktu saya menyaksikan langsung di sebuah taman kota Cairo. Kerja keras anak muda PPMI dibawah Ketuanya Pangeran Ihsanulhaq waktu itu, menjelaskan kepada ratusan warga Mesir yang hadir tentang Indonesia yang memiliki ragam kebudayaan sebagai penopang kekokohan bangsa dan negara kita.

Menjahit Cinta Indonesia

Beberapa contoh cerita di atas, tentu saja menjadi penangkal jitu terhadap kekeringan teladan pada generasi sebelum kita. Bahwa dari dalam generasi kita sendiri dapat menemukan banyak calon pahlawan bagi generasi setelahnya lagi.

Mereka dengan segala keikhlasan berpikir dan bekerja sebesar-besarnya untuk masa depan Indonesia. Mereka tak cuma gelisah, tapi juga berbuat sekecil apapun untuk menunjukkan rasa cintanya pada Indonesia.

Menjahit segala kecintaan pada Indonesia inilah yang perlu terus kita lakukan, agar terhubung kecintaan yang terbentang dari sabang sampai merauke, miangas hingga pulau rote. Mulai dari rumah ibadah, hingga sudut-sudut di lembaga pemasyarakatan.

Terkadang kita tak sadar bahwa sesungguhnya keteladanan kaum muda ini adalah energi yang besar untuk masa depan Indonesia. Kita perlu mulai untuk terus menyambung kebaikan kita satu sama lain, sambil meninggalkan keburukan yang juga menyelimuti pikiran dan perbuatan kita satu sama lain.

Kebaikan itulah yang akan menjelma menjadi keteladanan, akan diingat oleh sesama generasinya dan generasi setelahnya. Kepercayaan juga pelan-pelan memuncak, sampai waktunya mereka menjadi pemimpin di tempat masing-masing.

Asal tidak silau saja, insyaAllah selamat dunia akhirat.

0 CommentsClose Comments

Leave a comment

shares