Akhir pekan ini menjadi momen yang cukup biasa padat sekaligus produktif bagi saya. Perjalanan maraton membawa saya melintasi dua pulau, berlabuh di Kalimantan Timur dan kembali ke tanah kelahiran di Sulawesi Selatan. Pada agenda-agenda ini, saya menemui, mendengar, dan membakar semangat tunas-tunas muda pemimpin masa depan bangsa.
Di Kalimantan Timur, safari saya bergerak melintasi tiga kabupaten/kota penting, yaitu Kutai Kartanegara (Kukar), Samarinda, dan Balikpapan. Di Kukar, saya berkesempatan hadir untuk mengisi materi pada forum Latihan Kepemimpinan (LK) II Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh HMI Cabang Kutai Kartanegara.
Bagi keluarga besar hijau-hitam, LK II atau Intermediate Training adalah fase krusial dalam struktur perkaderan. Jika LK I adalah gerbang masuk untuk menanamkan ke-Islaman dan ke-Indonesiaan, maka LK II adalah kawah candradimuka tempat kader digembleng secara intelektual agar mampu merumuskan arah juang. Di forum inilah kemampuan analitis mereka lebih diuji untuk melihat korelasi antara teori akademik dan realitas sosial di lapangan.
Di hadapan para kader di Kukar, saya menegaskan satu pesan penting: Anak muda hari ini tidak boleh lagi hanya duduk manis sebagai penonton di pinggir lapangan. Mengingat situasi Indonesia saat ini yang sedang menghadapi transisi besar menuju Indonesia Emas 2045, peranan pemuda menjadi penentu. Saya mengajak mereka untuk berani “main ke tengah lapangan”, alias, ikut ambil bagian secara aktif menggerakkan roda ekonomi dan tidak tabu untuk terlibat langsung menjadi pemain dalam panggung politik praktis.
Setelah Kukar, saya lanjut ke silaturrahim dengan sahabat-sahabat di Samarinda dan Balikpapan Kaltim, saya bertolak menuju kampung halaman di Sulawesi Selatan. Di sana, selain energi perkaderan hadir membersamai adik-adik sebagai pemateri LK II di dua cabang sekaligus: HMI Cabang Takalar dan HMI Cabang Bantaeng, tentu agenda silaturrahim dengan sahabat dari warkop ke warkop jalan terus.
Insya Allah, saya akan memulai pekan depan dengan mengisi LK II di Takalar dan Bantaeng tersebut.
Yang pasti, di hadapan para adik-adik peserta LK dan silaturahmi, narasi yang saya bawa tetap konsisten. Kita perlu mengikis skeptisisme anak muda terhadap politik dan ekonomi. Politik tanpa diisi oleh anak-anak muda yang terdidik dan memiliki integritas moral hanya akan melahirkan kebijakan yang menjauh dari kepentingan rakyat. Begitu pula di sektor ekonomi, kemandirian bangsa hanya bisa dicapai jika anak mudanya berani mengambil risiko menjadi penggerak usaha, bukan sekadar pencari kerja.
Aktivitas saya yang terus berkeliling dari satu forum mahasiswa ke forum lainnya seringkali memantik pertanyaan: mengapa di tengah kesibukan politik nasional, saya masih konsisten turun ke daerah?
Buat saya, silaturahmi adalah keharusan. Apalagi, saat ini saya juga sedang mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Umum DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), dan Sekretaris Akademi Partai Golkar. Kekuatan sejati parpol modern dan organisasi kepemudaan terletak pada seberapa kuat dan luas jejaring kita di akar rumput.
Melalui AMPI, kami memiliki tanggung jawab untuk melakukan konsolidasi pemuda secara masif. Kita harus memastikan aspirasi anak-anak muda di daerah, kabupaten, bahkan pelosok desa, terkanalisasi dengan baik. Dengan memperbesar jejaring di akar rumput, kita sedang membangun fondasi politik yang kokoh, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan riil masyarakat.
Di sela-sela padatnya jadwal formal LK II baik di Kaltim maupun Sulsel, saya selalu menyempatkan diri menggelar pertemuan-pertemuan santai. Mulai dari sekadar ngopi bareng di warkop lokal bersama para senior, berdiskusi lepas dengan jejaring KAHMI, hingga bercengkrama tanpa sekat dengan rekan-rekan aktivis mahasiswa.
Bagi saya, pertemuan informal seperti ini justru seringkali memunculkan ide-ide segar dan solusi taktis atas berbagai sumbatan komunikasi. Silaturahmi yang otentik, seperti yang sering ditekankan para senior kita, adalah modal sosial terbesar yang kita miliki untuk menjaga agar simpul kebersamaan ini tidak kendor dimakan waktu.
Akhir pekan telah usai, namun gelora dari Kaltim dan Sulsel akan terus saya bawa sebagai energi untuk terus berkarya. Sampai jumpa di forum-forum pengabdian berikutnya!