Tentang Saya

Drg. Muh. Arief Rosyid, M.KM

Merupakan alumni dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Hasanuddin angkatan 2004. Arief juga memiliki gelar Master Kesehatan Masyarakat (MKM) dari Universitas Indonesia. Arief merupakan dokter yang hijrah menjadi aktivis yang peduli pembangunan SDM muda. Memberdayakan pemuda jadi concern Arief sejak menjadi Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tahun 2013 – 2015. Bakat entrepreneurship juga mengantarkannya menggeluti dunia usaha. Pembangunan SDM dan semangat kewirausahaan tecermin betul dalam program konkret Arief manakala diberi amanah untuk ikut dalam Pengurus Pusat (PP) Dewan Masjid Indonesia (DMI).

Riwayat Hidup

Arief Rosyid, Dokter-Aktivis

Meski jadi mahasiswa kedokteran gigi, Arief sudah memperlihatkan passion-nya di bidang manajemen organisasi dan aktivisme. Di FKG Unhas, Arief aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM). Arief juga berkenalan dan boleh dikata jatuh cinta dengan organisasi ekstra kampus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Kelak, HMI menjadi nadinya dan mengantarkannya menjemput satu per satu mimpinya.

Demi meneruskan kerja – kerja di BEM, Arief menunda sembilan bulan untuk wisuda sarjana kedokteran gigi. Arief juga mendedikasikan waktu di sela jadwal kuliah untuk menjadi relawan sosial dan medis bersama HMI.

Tahun 2010, Arief merantau ke Jakarta. Hingga tahun 2012, Arief sempat “menumpang” praktik dokter gigi di klinik milik seniornya di Cempaka Putih, Jakarta. Tak ingin jadi dokter praktik yang hanya menjalankan rutinitasnya, Arief membawa Klinik Cempaka Putih Pratama menjadi klinik percontohan BPJS.

Pada periode awal merantau ke Jakarta ini, Arief hidup berpindah – pindah dari kosan yang satu ke kosan yang lain. Arief juga pernah menumpang di rumah salah seorang saudagar Bugis-Makassar, bersama para perantau lain.

Menggeluti dunia klinis pada periode tersebut tak membuatnya berhenti dengan diskursus dan kegiatan aktivis. Arief malah merajut langkah untuk menjadi pucuk pimpinan organsasi tertua dan terbesar di Indonesia, HMI.

Ketua Umum PB HMI, Game Changer untuk Arief Rosyid

Kongres untuk memilih Ketum PB HMI tahun 2013 berlangsung alot dan memakan waktu satu bulan. Arief yang membawa identitas sebagai kader asal Cabang Makassar Timur akhirnya terpilih pada 15 April 2013.

Titel sebagai Ketum PB HMI benar – benar dimanfaatkan Arief untuk melakukan lobi dan tindakan konkret agar kalangan pemuda mendapat perhatian. Arief saat itu menyadari betul, pemuda Indonesia akan merasakan suatu momen bernama bonus demografi.

Soal bonus demografi ini diulang-ulang Arief dalam diskusi, pertemuan dengan senior HMI yang sudah jadi tokoh nasional, sambutan di berbagai acara HMI, tulisan di media massa, bahkan dalam beberapa buku yang diterbitkannya.

Sejak 2014, Arief menjadi inisiator berbagai focus group dicussion tentang bonus demografi. Arief mempresentasikan tantangan dan solusi pemdua dalam menghadapi bonus demografi ke Bappenas, LIPI, Kemenkeu, dan Kemenpora.

Mei 2015, Arief menyampaikan dokumen singkat ber-kop PB HMI kepada Presiden Joko Widodo. Isi dokumen tersebut adalah tuntutan dihadirkannya kebijakan pengarusutamaan pemuda.

Selama ber-PB, Arief rajin berdialog dengan pemuda di grass-root dan tidak pernah lelah menimba ilmu dari tokoh pemuda yang saat ini sudah menjadi tokoh nasional. Di antara tokoh nasional yang menjadi mentor Arief antara lain, M. Jusuf Kalla, Akbar Tanjung, Mahfud MD, Harry Azhar Azis.

Kelihaian berkomunikasi dan kepemimpinan mumpuni membawa Arief masuk dalam “70 Tokoh Berpengaruh di Indonesia 2015” versi majalah Men’s Obsession.

Arief Rosyid, Pemuda Islam, dan DMI

Arief Rosyid dipercaya menjadi Ketua Departemen Kaderisasi Pemuda Dewan Masjid Indonesia (DMI) pada tahun 2018. Tak butuh waktu lama, Arief memanfaatkan jejaringnya untuk mengadakan berbagai terobosan.

Juni 2018, Arief Rosyid menggagas pengurus Pemuda Masjid untuk Rumah Tahanan se-Indonesia. Arief juga menjadi inisiator Silaturahmi Nasional Pemuda dan Remaja Masjid. Selain itu, Arief juga sosok di balik Muktamar Pemuda Islam, forum pertama yang mempertemukan 20 organsisasi pemuda Islam dari seluruh Indonesia.

Masih lewat bendera DMI, Arief mendorong terbentuknya Indonesia Youth Islamic Forum (ISYEF). ISYEF menjadi “tangan” DMI untuk memberdayakan pemuda dan remaja masjid yang memiliki minat di bidang kewirausahaan. Awal tahun 2019, Wakil Ketua Umum DMI H. Syafruddin meresmikan ISYEF Point, kafe kontainer di Masjid Cut Meutia yang 100% dikelola oleh pemuda dan remaja Masjid Cut Meutia. Sebelum aktif di DMI, Arief dan masjid juga tidak terpisahkan. Arief mendorong dan aktif dalam komunitas kajian Menteng Muslim Center.

 

Arief Rosyid dan Kegemaran Berkolaborasi

Bekerja sama untuk suksesnya bakti sosial, kegiatan kepemudaan, pelatihan, dan seterusnya, adalah makanan sehari – hari bagi Arief Rosyid.

Tak lagi menjadi Ketum PB HMI tak membuat semangat aktivisme-nya meredup. Arief justru mencatatkan lebih banyak rekam jejak berkolaborasi dengan tujuan yang belum berubah: mendorong perbaikan SDM, khususnya pemuda.

Rekam Jejak Kolaborasi Arief Rosyid : Rabu Hijrah

Rabu Hijrah berlangsung setiap hari Rabu, selama Februari hingga Maret 2019. Arief mengajak para tokoh di bidang usaha dan tokoh agama untuk memberikan literasi bagi pemuda di tujuh kota di Indonesia. Literasi yang diberikan terkait potensi ekonomi umat dan bagaimana kaum muda turut serta.

KAHMI Economic Forum

Kolaborasi ini ada di bawah bendera Korps Alumni HMI (KAHMI). Forum ini bertujuan membangun narasi objektif tentang perekonomian nasional berbasis inovasi dan SDM.

Tim Perumus RUU Kewirausahaan Nasional

Bersama Ketum HIPMI Bahlil Lahadalia, Arief Rosyid masuk tim perumus RUU Kewirausahaan Nasional untuk mendorong kebijakan pro kewirausahaan.

Pergerakan Indonesia Maju (PIM)

Kolaborasi ini bertujuan merawat jejaring dengan para pakar, tokoh bangsa untuk mengulas diskursus kebangsaan.

Merial Institute

Merial Institute didirikan oleh Arief Rosyid untuk mendorong perencanaan dan pelaksanaan pembangunan pemuda. Arief ingin Merial Institute jadi lembaga think thank untuk urusan pemuda. 

Aktivis Milenial

Wadah ini didirikan Arief bersama unsur pemuda multi-profesi. Aktivis Milenial jadi hub untuk kelompok strategis pemuda untuk membangun pengalaman bersama dalam satu agenda. Aktivis Milenial, sepanjang 2018-2019 mengadakan talk show di tiga kota dengan narasumber seperti CEO startup, akademisi, dan tokoh muda. Milenial Fest pada Oktober 2018 menandai kesuksesan Aktivis Milenial goes public.

Suropati Syndicate

Arief Rosyid terinspirasi mendirikan Suropati Syndicate karena melihat beragam aktivitas, termasuk diskusi, yang berlangsung di Hyde Park, London. Arief pun membawa ide diskusi outdoor di taman yang bertempat di Taman Suropati, Menteng, Jakarta Pusat. Tujuannya, ada diskusi rutin di ruang publik kota tentang isu aktual.

Tadarus Hukum

Arief berkolaborasi dengan jejaring sarjana dan praktisi hukum untuk berdiskusi mengenai hukum dan peristiwa ketatanegaraan.

Arief Rosyid dan Deliberasi Politik

Arief diberi amanah oleh Tim Kampanye Nasional (TKN) untuk menjadi Wakil Direktur Milenial TKN Jokowi-Amin. Arief pun mendirikan kelompok milenial KitaSatu. Tidak hanya memimpin beberapa roadshow yang menyasar kalangan milenial untuk mengampanyekan Jokowi-Amin, Arief juga memotori kampanye dari pintu ke pintu yang terintegrasi ke aplikasi Milenial Ketuk Pintu.

Aplikasi Milenial Ketuk Pintu berhasil “mengetuk” 120.000 partisipan di 10 kota di Indonesia.

Arief juga menginisiasi program Jubir Milenial. Jubir Milenial merupakan jejaring aktivis muda partai politik dan relawan muda pendukung Jokowi-Amin yang bertugas melakukan eksposur ke publik.

Pergerakan ke grass root dilengkapi Arief dengan turut melakukan kerja intelektual. Arief membuat Simposium The Jokowi Way sebagai forum intelektual dan peneliti yang pernah menerbitkan karya akademik yang mengupas sosok inspiratif bernama Joko Widodo.

Masjid Al Hilal atau Masjid Tua Katangka adalah saksi bagaimana penyebaran agama Islam dilawali oleh para ulama lewat pemuda, yaitu Sultan Alauddin, raja Gowa yang saat itu berusia sekitar 17 tahun. Sultan ini juga yang kemudian mendukung penyebaran dakwah Islam ke seluruh Sulawesi Selatan.

Empat abad berlalu, DMI dan Irmahi Katangka, menyadari visi ulama masa lampau, bahwa dakwah Islam harus mengarusutamakan para pemuda.

Lewat kegiatan Tablig Akbar dan Halalbihalal, bertajuk ‘Kebangkitan Kaum Muda Milenial Literat dan Enterpreneurship dari Masjid’, kami membawa misi dakwah Islam kepada para milenial dan Generasi Z. Islam yang toleran dan damai lewat kesadaran literasi dan pemberdayaan ekonomi.

Dan saya bangga dipercayakan untuk berbagi di acara ini. Di hadapan para generasi muda calon pelanjut estafet negara, bangsa, dan Islam ini.

drg. M. Arief Rosyid
Anggota Pokja Pelayanan Kepemudaan