Tentang Saya

Arief Rosyid Hasan

Merupakan alumni dari Fakultas Kedokteran Gigi (FKG) Universitas Hasanuddin angkatan 2004. Arief juga memiliki gelar Master Kesehatan Masyarakat (MKM) dari Universitas Indonesia. Arief merupakan dokter yang hijrah menjadi aktivis yang peduli pembangunan SDM muda. Memberdayakan pemuda jadi concern Arief sejak menjadi Ketua Umum Pengurus Besar (PB) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) tahun 2013 – 2015. Bakat entrepreneurship juga mengantarkannya menggeluti dunia usaha.

Riwayat Hidup

Muhammad Arief Rosyid Hasan: Jembatan Kebaikan dan Motor Penggerak Generasi Muda

Bagi Muhammad Arief Rosyid Hasan, kepemimpinan bukanlah tentang jabatan, melainkan tentang seberapa besar inisiatif kebaikan yang dapat digerakkan. 

Lahir di Ujungpandang pada 4 September 1986, Arief lulus perguruan tinggi sebagai seorang praktisi kesehatan. Sejak masih di bangku sekolah, intuisi Arief mengarahkannya untuk selalu peduli kepada orang lain, dan menjadi jembatan kebaikan. 

Dari Kedokteran Gigi ke Gerakan Mahasiswa

Latar belakang akademis Arief bermula di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin. Meski sempat menjalani profesi sebagai dokter gigi, panggilan jiwanya untuk melakukan perubahan sosial membawanya ke Jakarta. Ia melanjutkan studi Magister dan kini menempuh Doktoral Ilmu Kesehatan Masyarakat di Universitas Indonesia.

Kualitas kepemimpinannya teruji saat ia dipercaya menjadi Ketua Umum PB HMI (2013-2015). Tidak mudah memimpin PB HMI saat itu. Arief terpilih kongres yang berpindah-pidnah, di tempat atau kota pelaksanaan yang ketiga kalinya. Di organisasi mahasiswa tertua di Indonesia inilah, Arief mulai menyodorkan visi “HMI untuk Rakyat”. 

Strategis di Sektor Ekonomi Syariah dan Korporasi

Dedikasi Arief pada skala yang lebih besar tecermin dari peran strategisnya di sektor formal. Kepercayaan dari negara kepadanya dibuktikan melalui jabatan Komisaris Independen PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BSI) sejak 2021, setelah sebelumnya menjabat di Bank Syariah Mandiri. Ia juga dikenal sebagai tokoh di balik kebangkitan ekonomi umat melalui perannya sebagai Wakil Kepala Badan Ekonomi Syariah dan Ketua Komite Pemuda Masyarakat Ekonomi Syariah (MES). Arief setuju dengan visi Pak JK, bahwa masjid dan ekonomi adalah dua pilar yang harus berjalan beriringan untuk kemandirian bangsa.

Motor Penggerak di Partai Golkar dan AMPI

Sejak 2025 lalu, kiprah politik Arief tengah menjadi sorotan sebagai motor penggerak bagi regenerasi internal partai. Sebagai Wakil Ketua Umum DPP AMPI, ia menjadi katalisator bagi aspirasi anak muda di lingkungan Golkar. Kepercayaan partai terhadap kapasitas intelektual dan organisasinya semakin dipertegas dengan amanah sebagai Sekretaris Akademi Partai Golkar. Di posisi ini, ia bertanggung jawab langsung dalam peningkatan kapasitas kader, memastikan bahwa masa depan partai diisi oleh individu-individu yang kompeten, berintegritas, dan adaptif terhadap perubahan zaman.

Kontribusi Intelektual

Arief bukan sekadar aktivis lapangan, ia adalah seorang pemikir yang produktif. Hingga kini, ia telah menulis lebih dari 20 buku, mulai dari isu demokrasi, ekonomi syariah, hingga peran milenial dalam kepemimpinan nasional. Karya-karyanya seperti Milenial Memimpin dan Masjid Milenial menjadi rujukan bagi generasi muda dalam memaknai kontribusi mereka untuk Indonesia.

Tak hanya gemar menulis dan membaca buku, Arief juga mendedikasikan kemampuan akademiknya untuk menjadi staf pengajar (dosen) di Universitas Muhammadiyah Jakarta. Pengabdian di UMJ melengkapi kiprah Arief dalam berkontribusi di dua sayar ormas keumatan, yakni Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama (NU). Hingga kini, Arief tercatat sebagai pengurus LPBI PBNU. 

Penghargaan dan Visi Masa Depan

Berbagai penghargaan telah ia kantongi, mulai dari Tokoh Penggiat Ekonomi Syariah Terbaik (BI Award 2021) hingga masuk dalam daftar 10 Pemimpin Muda Inspiratif (TOYP JCI Indonesia 2022). Pendidikan kebangsaan melalui Lemhannas RI (P3N XXVI, 2025) semakin melengkapi profilnya sebagai pemimpin masa depan yang memahami geopolitik dan ketahanan nasional.

Melalui jaringan luas yang ia bangun di ekosistem pemuda, ekosistem ekonomi syariah, hingga organisasi keagamaan, Muhammad Arief Rosyid Hasan terus konsisten menjadi “jembatan” yang menghubungkan berbagai elemen bangsa untuk satu tujuan: Indonesia Maju menuju 100 tahun kemerdekaan pada 2045.

Masjid Al Hilal atau Masjid Tua Katangka adalah saksi bagaimana penyebaran agama Islam dilawali oleh para ulama lewat pemuda, yaitu Sultan Alauddin, raja Gowa yang saat itu berusia sekitar 17 tahun. Sultan ini juga yang kemudian mendukung penyebaran dakwah Islam ke seluruh Sulawesi Selatan.

Empat abad berlalu, DMI dan Irmahi Katangka, menyadari visi ulama masa lampau, bahwa dakwah Islam harus mengarusutamakan para pemuda.

Lewat kegiatan Tablig Akbar dan Halalbihalal, bertajuk ‘Kebangkitan Kaum Muda Milenial Literat dan Enterpreneurship dari Masjid’, kami membawa misi dakwah Islam kepada para milenial dan Generasi Z. Islam yang toleran dan damai lewat kesadaran literasi dan pemberdayaan ekonomi.

Dan saya bangga dipercayakan untuk berbagi di acara ini. Di hadapan para generasi muda calon pelanjut estafet negara, bangsa, dan Islam ini.

drg. M. Arief Rosyid
Anggota Pokja Pelayanan Kepemudaan