Inspiring Monday

Dapatkan informasi terbaru Inspiring Monday melalui email dengan melakukan Subscribe
ariefrosyid.id_makna haji

Bismillah, Berangkat Menunaikan Ibadah Haji 1445 H

Rasa-rasanya belum lama saat hati kecil saya mengatakan “sepertinya, saya perlu beribadah haji”. Setelah niat kecil itu, hari demi hari berikutnya saya merasa semakin kuat niatan untuk menunaikan rukun Islam yang ke-5. Alhamdulillah, ada kemudahan-kemudahan menghampiri dan memberi saya tiket untuk kembali ke Baitullah dan bergabung dengan jutaan Muslim lainnya. 

Beberapa waktu sebelum berhaji, saya bertemu banyak orang, seperti biasa. Salah satunya Habib Kwitang. Beliau memberi nasihat, agar sebelum berhaji, banyak menunaikan amalan-amalan sesuai ajaran agama, mendoakan orang tua, termasuk mendoakan para guru-guru dan habaib. 

Kemudian, beberapa waktu sebelum berhaji pula, saya banyak terlibat dalam silaturahmi, termasuk berkumpul kembali untuk quality time bersama keluarga baik di Jakarta, maupun di Gowa. 

Akhirnya, saya memohon maaf lahir dan batin kepada para pembaca, dan mohon didoakan agar ibadah kami lancar dan mabrur. Amin.

ariefrosyid.id_Dato Sri Ismail Sabri

Bertemu eks-PM Malaysia, Bahas Orang Muda, Tolak Angin, hingga Durian Musangking

Mantan tertinggi pemerintahan Malaysia, Perdana Menteri (PM) ke-9, H.E. Dato Sri Ismail Sabri berkunjung ke Jakarta pada pekan lalu. Atas perkenalan dari seorang teman, sayapun diajak untuk silaturahmi dengan beliau dan tim.

Pada awal pertemuan, salah satu tim dari Dato Sri membawakan sekotak kecil Tolak Angin dan satu strip Panadol berwarna hijau. “Ini obat bagus sangat,” kata beliau. Ternyata sederhana saja oleh-oleh dari saudara serumpun kita manakala berkunjung ke Indonesia. 

Saya pun menimpali, “Lho, sebaliknya. Saat kami jalan-jalan ke Singapura atau Malaysia, yang kami beli justru Panadol biru yang dijual di sana.” Satu meja panjang pun terbahak mendengar intermezzo ini. 

Selain Panadol dan Tolak Angin, perbincangan kami juga tentang flashback pengalaman Pilpres 2024 kemarin. Dato Sri ikut penasaran bagaimana kami meyakinkan mayoritas orang muda untuk menjemput kemenangan bagi Prabowo-Gibran. Obrolan berlangsung seru, diselingi dengan pisang goreng, yang ternyata sangat disukai oleh Dato Sri dan rombongan. 

Berikutnya, giliran saya yang bertanya mengenai Dato Sri dan kesibukannya saat ini. Ternyata, beliau berasal dari daerah Pahang, wilayah yang banyak perkebunan dan bahkan pabrik pengolahan durian Musangking. “Arief kalau suka durian, nanti harus datang ke Pahang. Kita pergi ke ladang durian,” kata Dato Sri.

ARH - FIlm Lafran

Mengawal Film LAFRAN ke Makassar

Film LAFRAN adalah film yang mengisahkan aktivis pemuda Islam. Dalam upaya promosi film ini, film LAFRAN hadir di kota-kota besar di Indonesia dalam penayangan khusus atau special screening. 

Special screening Film LAFRAN tiba di kota ke-9, yakni di Makassar, Sulawesi Selatan. Nobar berlangsung di XXI Panakkukang Square, Minggu (02/06). 

Bersama Koordinator Presidium MN KAHMI Ahmad Doli Kurnia, saya pribadi ikut mengawal film ini ke kota tempat saya besar dan belajar berhimpunan.  

Tak kurang dari 1.000 orang mengikuti nobar sebelum film LAFRAN tayang serentak di bioskop seluruh Indonesia, Kamis, 20 Juni 2024 nanti. Para tokoh HMI di Makassar maupun Indonesia Timur juga hadir di acara ini. 

Bang Doli pun menyampaikan, “Dari sekian banyak kota, Makassar ini marketnya paling kuat. Banyak yang hadir. Yang dari Jakarta juga, ada Sesdirjen, deputi di BNPB juga dating, saya juga bawa istri saya di sini, baru pertama kali ke Makassar. Antusiasmenya luar biasa. Semua calon gubernur, calon bupati dan wali kota datang.”

Para kandidat yang akan berkontestasi di Pilkada yang hadir di nobar ini adalah sosok-sosok muda.

Mereka yakni Bupati Gowa Adnan Purichta dan pengusaha muda Munafri Arifuddin. 

Kembali ke topik tentang perfilman. Saya banyak bertemu teman-teman ekosistem perfilman nasional. Semua setuju bahwa Makassar ini punya movie goers alias penikmat film yang loyal terhadap film Indonesia. Kami berharap masuknya film LAFRAN di tengah gempuran film horor bisa menjadi pilihan baru bagi penikmat film di Makassar. 

Film LAFRAN mengisahkan sosok aktivis pemuda Islam, Lafran Pane. Film dimulai dengan menggambarkan kehidupan Lafran kecil hingga remaja di Sipirok, Sumatra Utara. Pada masa tersebut, Lafran dikisahkan sempat merasakan kelamnya pendudukan Belanda lalu Jepang. Bahkan, ayah Lafran yang diperankan aktor kawakan Mathias Muchus berkali-kali berkonflik dengan penjajah.

Beranjak dewasa, Lafran yang diperankan aktor muda berbakat Dimas Anggara, lalu merantau ke tanah Jawa. Lafran yang berjiwa pemberontak mulai tekun membaca buku, dan bergaul dengan tokoh-tokoh muda yang terlibat langsung dalam persiapan kemerdekaan Indonesia. 

Lafran lalu mengenyam pendidikan tinggi di Yogyakarta, lalu berpikir untuk mendirikan basis perjuangan pemuda Islam yang sesuai asas Pancasila. Basis perjuangan tersebut yang menjadi cikal-bakal Himpunan Mahasiswa Islam.

Ada beberapa teladan dan pondasi yang ditanamkan Almarhum Prof. Lafran. Pertama, soal anak daerah yang berjuang ke pusat. Aspek ini relevan dengan teman-teman pemuda di Makassar, yakni hijrah untuk mendorong perubahan. Kedua, tentang Islam dan Indonesia yang tak terpisahkan. HMI adalah berpadunya perjuangan untuk bangsa dan nilai-nilai keislaman.

Usai Makassar, masih ada beberapa kota yang menjadi sasaran penayangan khusus Film LAFRAN. MN KAHMI menargetkan total 1,5 juta penonton film biopik ini.

Mohon dukungan untuk Film LAFRAN!

Masjid Al Hilal atau Masjid Tua Katangka adalah saksi bagaimana penyebaran agama Islam dilawali oleh para ulama lewat pemuda, yaitu Sultan Alauddin, raja Gowa yang saat itu berusia sekitar 17 tahun. Sultan ini juga yang kemudian mendukung penyebaran dakwah Islam ke seluruh Sulawesi Selatan.

Empat abad berlalu, DMI dan Irmahi Katangka, menyadari visi ulama masa lampau, bahwa dakwah Islam harus mengarusutamakan para pemuda.

Lewat kegiatan Tablig Akbar dan Halalbihalal, bertajuk ‘Kebangkitan Kaum Muda Milenial Literat dan Enterpreneurship dari Masjid’, kami membawa misi dakwah Islam kepada para milenial dan Generasi Z. Islam yang toleran dan damai lewat kesadaran literasi dan pemberdayaan ekonomi.

Dan saya bangga dipercayakan untuk berbagi di acara ini. Di hadapan para generasi muda calon pelanjut estafet negara, bangsa, dan Islam ini.

drg. M. Arief Rosyid
Anggota Pokja Pelayanan Kepemudaan