Inspiring Monday

Dapatkan informasi terbaru Inspiring Monday melalui email dengan melakukan Subscribe
ariefrosyid.id_bang bahlil

HMI Menjaga Kompas Ideologi, Mengenang Peran Sejarah

Kita sering melihat Kanda Bahlil Lahadalia tampil di panggung publik dengan kelakar segar dan gaya bicara yang blak-blakan. Namun, ada momen langka yang saya saksikan pada Malam Puncak Dies Natalis ke-79 HMI kemarin.

Malam itu, Kanda Bahlil menanggalkan sejenak candaannya. Beliau berbicara dengan nada serius, mendalam, dan penuh refleksi, seolah ingin mengingatkan kita semua—terutama para kader muda—tentang “utang sejarah” yang diemban organisasi hijau hitam ini.

Kontribusi Terbesar: Benteng Pancasila

Di hadapan ribuan kader dan alumni, Kanda Bahlil menegaskan bahwa kontribusi terbesar HMI bagi republik ini bukan sekadar mencetak pejabat atau politisi, melainkan peran vitalnya dalam mengawal ideologi Pancasila di masa-masa paling kritis bangsa.

Beliau memutar kembali memori kolektif kita ke fase pertama pascakemerdekaan:

“HMI telah berkontribusi secara masif dan terukur sejak awal. Kita ingat tahun 50-60an, saat inflasi ekonomi mencapai 650% dan gejolak politik luar biasa hebatnya. Saat itu, ada sekelompok pihak yang ingin mengubah ideologi Pancasila menjadi Komunisme. Namun, HMI berdiri di garis terdepan untuk mencegah perubahan itu.”

Sejarah yang Harus Terus Dituturkan

Pernyataan Kanda Bahlil ini adalah pengingat penting. Di tengah gempuran ideologi transnasional dan tantangan zaman digital, kita seringkali lupa pada akar perjuangan. Fase mempertahankan Pancasila dari ancaman komunisme adalah catatan emas yang membuktikan bahwa HMI adalah anak kandung umat dan bangsa.

Bagi Kanda Bahlil, sejarah ini tidak boleh terkubur. Ia harus terus dituturkan dan diketahui secara luas. Mengapa? Agar kader HMI hari ini tidak kehilangan arah dan menyadari bahwa di pundak mereka ada tanggung jawab untuk menjaga stabilitas negara, sebagaimana para pendahulu kita melakukannya di tengah krisis ekonomi yang mencekik puluhan tahun silam.

Refleksi untuk Hari Ini

Apa yang bisa kita ambil dari pidato serius Kanda Bahlil tersebut?

Pertama, soal Kepekaan Zaman: Kader HMI harus peka terhadap ancaman yang ingin merusak tatanan bangsa, baik itu ancaman ideologi maupun disintegrasi.

Kedua, Kualitas Intelektual: Melawan ideologi berarti mengasah kedalaman gagasan dan keberanian dalam sikap.

Ketiga, Keteguhan Prinsip: Di tengah situasi sesulit apa pun (seperti inflasi 650% di masa lalu), komitmen pada Pancasila adalah harga mati.

Mari kita jadikan momentum Dies Natalis ke-79 HMI ini sebagai titik balik untuk memperkuat kontribusi kita bagi Indonesia. Sejarah telah membuktikan peran HMI, kini giliran kita menuliskan sejarah baru untuk masa depan.

ariefrosyid.id_Diskusi KESDM dan Think Policy

Dari Diskusi KESDM dan Think Policy: Orang Muda Memikirkan Negeri ini Sepanjang Hari

Saya berkesempatan menjembatani silaturahmi antara kawan-kawan Think Policy yang dipimpin oleh Afutami, dengan Sekjen Kementerian ESDM, Prof. Erani beserta tim.

Silaturahmi berfaedah ini intinya membahas Transisi Energi Bersih yang Berkeadilan Antargenerasi.

Mengapa ESDM dan Orang Muda Harus Duduk Satu Meja?

Kita harus objektif melihat bahwa Kementerian ESDM saat ini adalah “pemegang kunci” masa depan lingkungan kita. Melalui berbagai regulasi, ESDM sedang bekerja keras melakukan, Dekarbonisasi Sektor Listrik: Mempensiunkan dini PLTU batu bara dan menggenjot bauran EBT sesuai target; Melaksanakan Hilirisasi Hijau: Memastikan kekayaan mineral kita membawa kesejahteraan lebih besar untuk rakyat; Menciptakan standar kontrak dan tata kelola EBT untuk meningkatkan investasi energi bersih masuk ke Indonesia, yang ujungnya membuka ratusan ribu lapangan kerja bagi kita, orang muda.

Tanpa jembatan kebijakan (policy bridging) antara pemikir muda seperti kawan-kawan Think Policy dan eksekutor di kementerian, agenda besar ini hanya akan jadi wacana di menara gading.

Menjawab Kegaduhan: Alergi Kolaborasi?

Menariknya, usai saya mengunggah foto pertemuan tersebut dengan latar belakang logo KESDM, kolom komentar justru riuh dengan sentimen negatif. Ada yang menuding kawan-kawan Think Policy telah “terkontaminasi” atau “masuk angin” hanya karena berdiskusi dengan pemerintah.

Fenomena ini mencerminkan adanya dikotomi yang keliru di sebagian kalangan kita. Seolah-olah menjadi orang muda yang kritis berarti harus memasang pagar tinggi dan alergi bertemu dengan perwakilan negara.

Pemuda Adalah Pemilik Sah Masa Depan

Rekan-rekan sekalian, masalah bangsa ini—terutama transisi energi—terlalu besar jika hanya dipikirkan sendirian. Kita tidak boleh terjebak dalam sentimen kelompok yang akhirnya menghambat kemajuan.

Orang muda harus berani masuk ke ruang-ruang pengambilan kebijakan. Kita memikirkan negeri ini siang dan malam bukan untuk mencari “panggung pribadi”, tapi untuk memastikan bahwa kebijakan yang lahir hari ini tidak membebani generasi kita di masa depan.

Jangan biarkan pagar-pagar imajiner menghalangi silaturahmi dan dialog yang membangun. Pertemuan antara idealisme pemuda dan realisme kebijakan pemerintah justru menjadi hal yang kita butuhkan sekarang ini.

Mari terus berdialog, karena masa depan Indonesia tidak akan terbangun dari jempol yang menghujat, melainkan dari tangan-tangan yang mau bersalaman untuk mencari solusi. Yuk, positive thinking dan terus urun rembuk buat merah putih!

ariefrosyid.id_rembuk energi

Rembuk Energi dan Hilirisasi, Ikhtiar Bersama Satgas Hilirisasi untuk Pelibatan Orang Muda

Sepertinya belum banyak yang tahu, bahwa hilirisasi adalah salah satu program strategis yang masih berlanjut di pemerintahan Pak Prabowo dan Mas Gibran. Dalam konteks Asta Cita, hilirisasi bahkan melingkupi dua poin sekaligus. 

Selain program, hilirisasi juga diupayakan melalui pendekatan kelembagaan. Oleh karena itu, presiden membentuk Satgas Percepatan Hilirisasi dan Transisi Energi. Satgas ini beranggotakan para pemimpin lintas kementerian. Sebab, hilirisasi memang tak hanya urusan hilirisasi mineral, batu bara, minyak, dan gas, tetapi juga ke cabang-cabang industri lain, yakni pertanian, perikanan, hingga industri digital. 

Membumikan hilirisasi, atau memperkuat pemahaman orang muda dengan hilirisasi lewat ‘bahasa bayi’, adalah pendekatan yang kami terapkan pada Rembuk Energi dan Hilirisasi 2025, yang telah berlangsung pada Rabu, 10 Desember lalu. 

Ide kami ini mendapat dukungan oleh Sekretaris Satgas Hilirisasi, Prof. Ahmad Erani Yustika dan tim. Bersama tim yang dipimpin Bang Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Satgas/Menteri ESDM, tim Satgas Hilirisasi telah 11 bulan berkeliling Indonesia. Fokus mereka adalah masuk ke kampus-kampus, menggalang diskursus bersama sivitas akademika, serta menjalin kolaborasi riset bersama kampus atau lembaga yang relevan. 

Kami melalui Inisiatif Daulat Energi (IDE), merasa bahagia dapat menjalin kolaborasi bersama Satgas Hilirisasi lewat kegiatan Rembuk Energi dan Hilirisasi yang lalu.  Beberapa narasi pada kegiatan tersebut dianggap beberapa pihak telah sukses memotret bahasa bayi dari peristilahan hilirisasi, hingga membuat produk-produk hasil hilirisasi lebih mudah dimengerti karena sesungguhnya dekat dengan kehidupan kita. 

Dari kegiatan itu pula, saya pribadi semakin terpacu untuk mendalami bagaimana orang muda lebih luas lagi peranannya. Tanpa orang muda ikut dalam agenda besar ini, akan sulit bagi kita semua untuk mencapai pertumbuhan ekonomi. Data sudah menunjukkan, dengan hilirisasi pada periode lalu, pendapatan negara terkerek signifikan, serta yang penting, kita tak lagi menjual tanah dan air, tetapi membuat hasil alam kita bernilai tinggi. 

PR kita bersama ke depan, bagaimana hilirisasi ini benar-benar kita jaga tata kelola sosial dan lingkungannya. Sehingga, kita berharap, efek samping kegiatan yang melibatkan alam, bisa kita mitigasi ke depan.

Sekali lagi, terima kasih kepada Satgas Hilirisasi, serta seluruh pihak yang terlibat untuk suksesnya Rembuk Energi dan Hilirisasi 2025. 

Salam hormat!

Masjid Al Hilal atau Masjid Tua Katangka adalah saksi bagaimana penyebaran agama Islam dilawali oleh para ulama lewat pemuda, yaitu Sultan Alauddin, raja Gowa yang saat itu berusia sekitar 17 tahun. Sultan ini juga yang kemudian mendukung penyebaran dakwah Islam ke seluruh Sulawesi Selatan.

Empat abad berlalu, DMI dan Irmahi Katangka, menyadari visi ulama masa lampau, bahwa dakwah Islam harus mengarusutamakan para pemuda.

Lewat kegiatan Tablig Akbar dan Halalbihalal, bertajuk ‘Kebangkitan Kaum Muda Milenial Literat dan Enterpreneurship dari Masjid’, kami membawa misi dakwah Islam kepada para milenial dan Generasi Z. Islam yang toleran dan damai lewat kesadaran literasi dan pemberdayaan ekonomi.

Dan saya bangga dipercayakan untuk berbagi di acara ini. Di hadapan para generasi muda calon pelanjut estafet negara, bangsa, dan Islam ini.

drg. M. Arief Rosyid
Anggota Pokja Pelayanan Kepemudaan