Inspiring Monday

Dapatkan informasi terbaru Inspiring Monday melalui email dengan melakukan Subscribe
ariefrosyid.id_Mas Bahlil Ganteng

MBG dan Haji Energik Punya Golkar

Pekan ini, ruang publik kita masih saja diwarnai oleh demam lagu AI fenomenal: MBG (Mas Bahlil Ganteng). Saking masifnya tren ini, beberapa hari lalu saya diundang menjadi narasumber dalam sebuah sesi podcast bersama rekan-rekan Ansor. Pertanyaan utama yang mereka lemparkan tentu saja seputar bagaimana saya melihat fenomena internet yang satu ini dari kacamata sosial-politik.

Di podcast Anshor tersebut, saya memaparkan analisis menarik dari pakar komunikasi kreatif, Mas Ipank Wahid. Beliau menyebut tren lagu MBG ini sebagai “Viral Kasta Tertinggi”. Mengapa? Karena sebuah konten yang awalnya diproduksi dengan intensi menyindir, justru berbalik menjadi gelombang simpati publik yang masif secara organik. Pengamat politik Adi Prayitno dalam ulasannya juga melihat fenomena ini sebagai bentuk kedekatan emosional (engagement) publik yang tidak berjarak dengan sosok pemimpin. Publik menyukai Bang Bahlil karena ia tampil apa adanya, autentik, dan tidak jaim.

Bahkan, daya tembus lagu MBG ini terbukti sudah melintasi batas negara. Baru-baru ini viral sebuah video yang memperlihatkan fenomena ini sudah sampai ke luar negeri. Di Madinah, seorang konten kreator yang juga bekerja sebagai pramuniaga di toko oleh-oleh lokal ikut melantunkan “MBG Mas Bahlil Ganteng” dengan fasih. Lirik tersebut ia gunakan sebagai strategi kreatif untuk menarik perhatian dan merayu para jemaah haji serta umrah asal Indonesia yang sedang berbelanja. Ini membuktikan bahwa pesona jingle jenaka ini benar-benar telah menjadi bahasa universal yang melekat di benak siapa saja.

Setelah itu, ada satu momen lagi yang ‘pecah’ di akhir pekan ini. 

Manifestasi dari julukan “Haji Energik” itu kembali terbukti. Sebuah video mendadak viral memperlihatkan momen jenaka saat Bang Bahlil menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) KOSGORO.

Saat namanya dipanggil untuk memberikan sambutan, dengan ciri khasnya yang penuh stamina, beliau berlari kecil (lari energik) menuju podium. Menariknya, panitia di ruangan justru memutar lagu MBG sebagai backsound kedatangan beliau!

Seketika seluruh ruangan riuh rendah. Bang Bahlil yang berada di atas podium sempat terlihat salah tingkah mendengarnya. Namun, alih-alih emosi, beliau justru senyam-senyum, melambaikan tangan, dan melanjutkan pidato dengan penuh wibawa. Kedewasaan sikap seperti inilah yang justru membuat martabat beliau semakin naik di mata kader dan publik.

Melihat semua rentetan kejadian ini, saya menarik sebuah kesimpulan spiritual. Jika di tengah masyarakat kita sering mendengar idiom “rezeki anak soleh”, maka fenomena meledaknya popularitas Bang Bahlil lewat jalur MBG ini adalah hadiah untuk “Kanda Soleh”.

Hujatan yang diubah menjadi berkah, ejekan fisik yang berbalik menjadi lagu pemersatu yang disukai lintas generasi, hingga pencapaian politiknya yang stabil, adalah buah dari hati yang bersih dan bakti yang tak pernah putus pada orang tua dan agama. Golkar beruntung memiliki nakhoda yang tidak hanya cerdas dan energik, tetapi juga diberkahi kelapangan hati yang luar biasa.

Keep shining, Kanda!

ariefrosyid.id_Bahlil Pulang Haji

Cerita Bang Bahlil Pulang Haji

Di balik riuhnya algoritma media sosial, saya beruntung bisa menyaksikan sisi lain dari sang Ketua Umum yang jauh dari sorotan kamera. Tepat setelah beliau kembali dari tanah suci menunaikan ibadah haji, kami datang untuk menyambut dan bersilaturrahim di kediaman Bang Bahlil dan keluarga.

Hari itu, kami bertemu juga dengan istri beliau, Caca Sri, serta ibu kandung Bang Bahlil yang bersahaja. 

Berada di tengah keluarga mereka membuat saya tersadar: energi yang dimiliki Bang Bahlil hari ini, ketenangannya menghadapi badai ujian, serta ketulusannya memaafkan perundungan digital, tidak pernah lepas dari doa tulus seorang ibu dan kehangatan dukungan sang istri. Beliau kembali ke tanah air bukan hanya sebagai pemimpin parpol, melainkan sebagai seorang “Haji Energik” yang jiwanya telah diperbarui.

Pada salah satu podcast pekan lalu, saya juga menceritakan keteladanan dari Bang Bahlil. 

Bagi saya, Bang Bahlil adalah personifikasi dari ketangguhan anak daerah yang menolak tunduk pada keadaan. Beliau mengisahkan kembali bagaimana dirinya kerap diremehkan sejak awal memimpin HIPMI hingga dipercaya menakhodai BKPM (Kementerian Investasi). Alasan penolakan dari para kritikus saat itu selalu sama dan klise: karena beliau bukan lulusan universitas kenamaan, apalagi lulusan luar negeri mentereng sekelas Harvard.

Namun, dunia mencatat bahwa keberhasilan beliau meningkatkan realisasi investasi Indonesia secara masif di masa-masa sulit bukanlah hasil dari deretan gelar luar negeri, melainkan buah dari kerja nyata di lapangan. Bagi Bang Bahlil, anggapan remeh dari kaum elitis itu tidak pernah membuatnya berkecil hati. Sebaliknya, hal itu justru diubah menjadi “vitamin” dan bahan bakar untuk membuktikan kualitas kepemimpinan yang sesungguhnya—mentalitas pembuktian yang kini juga beliau bawa dalam memimpin Partai Golkar.

Kembali ke momen Bang Bahlil pulang haji.
Setelah silaturahmi dan berdoa bersama, Bang Bahlil juga mengundang kami berbincang di meja makan, dan menceritakan pengalaman berkesannya di Tanah Suci.

Beliau mengisahkan berbagai refleksi spiritual, serta hakikat kekayaan dan kekuasaan yang tidak akan dibawa ke liang lahat. Ia mengajak untuk mengungkit kesadaran kolektif bahwa harta dan sifat-sifat material lainnya dijadikan instrumen pengabdian untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. 

Saya seringkali dicap sebagai ‘penjilat’ Bang Bahlil. Padahal, motivasi saya adalah berbagi cerita dan makna di balik layar dari interaksi bersama beliau. 

Saya yakin, pemimpin-pemimpin lainnya juga punya banyak cerita inspirasi, dan nasihat-nasihat. Tak heran, para tokoh biasa meluncurkan biografi ataupun autobiografi selepas menjabat. Nah, yang saya lakukan, adalah memotret kepingan-kepingan kecil catatan saya untuk juga dibagikan ke publik. 

Mari kita terus belajar bersama, dan menjadi hari esok lebih baik dari hari ini.

Bahlil Pulang Haji

ariefrosyid_Majelis Bulanan Menteng

Majelis Bulanan Menteng: Hikmah dari Abu Hurairah dan Rezeki yang Thayyib

Kamis malam, 29 Mei lalu, Majelis Bulanan Menteng kembali hadir dengan kehangatan yang khas. Seperti biasa, malam dibuka dengan pembacaan salawat dan Ratibul Haddad yang mengalun khidmat, sebelum kami masuk ke kajian utama yang diasuh oleh KH. Faiz, Ketua MUI DKI Jakarta. Malam itu kami juga bersyukur atas kehadiran Guru Besar Unhas dan ex-Ketua Bawaslu dan DKPP, Prof. Muhammad Al Hamid, Guru Besar UIN Gus Dur Prof. Sam’ani, serta kawan-kawan lainnya baik aktivis, rekan-rekan di lingkup Golkar, dan lainnya. 

Malam itu kami mengaji Hadits Kesepuluh, yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah. KH. Faiz membuka dengan sesuatu yang langsung menghunjam: Abu Hurairah baru masuk Islam pada Perang Khaibar, tahun ke-7 Hijriyah. Ia bergabung sekitar dua puluh tahun lebih lambat dari Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Namun ia meriwayatkan lebih dari 5.300 hadits, jauh melampaui para sahabat senior yang lebih lama bersama Nabi.

Rahasianya satu: mulazamah. Kedekatan yang total dan konsisten. Abu Hurairah memilih tidak sibuk bertani seperti kaum Anshar, tidak berdagang seperti kaum Muhajirin. Ia memilih satu hal: ‘nyantol’ kepada Nabi selama masih bisa. Dan hasilnya melampaui mereka yang lebih dulu hadir namun perhatiannya terbagi.

Inti kajian malam itu berputar pada hadits: “Innallaha thayyibun wa la yaqbalu illa thayyiban”—Allah Maha Baik dan tidak menerima kecuali yang baik.

Faiz menekankan perbedaan yang sering kita kabur-kaburkan: antara sah dan diterima. Keabsahan amal bisa kita ukur, ada rukunnya, ada syaratnya. Tapi penerimaan amal? Itu hak prerogatif Allah semata. Dan salah satu yang menghalangi penerimaan itu adalah ketika yang kita hadirkan kepada Allah tidak thayyib, tidak baik, tidak bersih, tidak tulus.

Yang paling menggugah bagi saya adalah pesan soal rezeki. Halal itu soal status hukum. Tapi thayyib adalah soal keberkahan. Bisa jadi sesuatu yang kita dapat secara halal, namun cara mendapatkannya, niat di baliknya, atau pemanfaatannya membuat ia kehilangan barokah.

Ilustrasi yang disampaikan KH. Faiz sangat membekas: seorang musafir yang kelelahan, berdebu, mengangkat tangan berdoa dengan penuh harap, namun makan, minum, dan pakaiannya dari yang haram. Bagaimana doanya akan diijabah, jika hidupnya sendiri bertentangan dengan perintah Dia yang ia minta?

Pesan yang paling saya bawa pulang malam itu adalah tentang menjaga hati dari kesombongan dan ketidakjujuran niat. KH. Faiz mengingatkan: yang sampai kepada Allah bukan darah kurban, bukan nominal sedekah, bukan gelar atau jabatan yang kita sandang. Yang sampai adalah hati.

Maka pertanyaannya bukan hanya “apakah ini halal?” tetapi “apakah ini thayyib?”—apakah niat saya bersih, apakah cara saya bermartabat, apakah hati saya hadir ketika melakukannya.

Terima kasih untuk seluruh jamaah yang hadir malam itu, untuk KH. Faiz atas ilmu yang selalu membumi, dan untuk Prof. Muhammad Al Hamid, Prof. Sam’ani, dan rekan-rekan atas kehadirannya yang menyejukkan. Sampai jumpa di Majelis Bulanan Menteng berikutnya.

Masjid Al Hilal atau Masjid Tua Katangka adalah saksi bagaimana penyebaran agama Islam dilawali oleh para ulama lewat pemuda, yaitu Sultan Alauddin, raja Gowa yang saat itu berusia sekitar 17 tahun. Sultan ini juga yang kemudian mendukung penyebaran dakwah Islam ke seluruh Sulawesi Selatan.

Empat abad berlalu, DMI dan Irmahi Katangka, menyadari visi ulama masa lampau, bahwa dakwah Islam harus mengarusutamakan para pemuda.

Lewat kegiatan Tablig Akbar dan Halalbihalal, bertajuk ‘Kebangkitan Kaum Muda Milenial Literat dan Enterpreneurship dari Masjid’, kami membawa misi dakwah Islam kepada para milenial dan Generasi Z. Islam yang toleran dan damai lewat kesadaran literasi dan pemberdayaan ekonomi.

Dan saya bangga dipercayakan untuk berbagi di acara ini. Di hadapan para generasi muda calon pelanjut estafet negara, bangsa, dan Islam ini.

drg. M. Arief Rosyid
Anggota Pokja Pelayanan Kepemudaan