Inspiring Monday

Dapatkan informasi terbaru Inspiring Monday melalui email dengan melakukan Subscribe
ariefrosyid.id_keteladanan kanda bahlil

Mengawal Mandat Kedaulatan Energi: Keteladanan Kanda Bahlil di Garis Depan

Saat menghadiri silaturahmi bersama generasi muda di Samarinda, Kalimantan Timur, baru-baru ini, saya kembali sharing soal arah besar pembangunan nasional kita. Di tengah upaya kolektif menuju kemandirian bangsa, ada salah satu figur yang saat ini tengah berdiri di garda terdepan untuk memastikan kekayaan alam kita tidak lagi tercecer atau sekadar dinikmati segelintir pihak. Figur itu adalah Kanda Bahlil Lahadalia.

Sebagai Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Kanda Bahlil mengemban tugas yang sangat spesifik dan krusial dari Presiden Prabowo Subianto: memperbaiki total tata kelola sektor energi dan sumber daya mineral nasional. Bagi saya, apa yang sedang dikerjakan beliau saat ini adalah sebuah keteladanan nyata tentang bagaimana menerjemahkan amanat konstitusi ke dalam tindakan konkret di lapangan.

Baru-baru ini, saat mengobrol di podcast Kasihtahu, saya sempat melakukan spill atau membocorkan satu cerita di balik layar mengenai keberanian dari seorang Kanda Bahlil Lahadalia. Saya menilai, sikap itu adalah sebuah keberanian yang mungkin tidak dimiliki oleh banyak pemimpin lain di negeri ini.

Dalam suatu kesempatan, Kanda Bahlil pernah dengan tegas menolak mentah-mentah salah satu pengusaha besar yang berniat menanamkan investasi di bidang minerba (mineral dan batu bara). Nilai investasi yang disodorkan tidak main-main, mencapai angka triliunan rupiah. Namun, di hadapan Kanda Bahlil, duit triliunan itu tidak laku.

Mengapa? Karena beliau memegang teguh perintah Presiden untuk selalu mengambil kebijakan dan keputusan yang bersifat “Merah Putih”. Beliau menolak berkompromi jika investasi tersebut berpotensi merugikan negara atau mengabaikan hak-hak rakyat. Kanda Bahlil, kedaulatan bangsa dan kemaslahatan rakyat adalah harga mati yang tidak bisa ditukar dengan nominal uang sebesar apa pun.

Ini berkaitan dengan hukum tertinggi, yakni Undang-Undang Dasar 1945. Seringkali Pasal 33 UUD 1945 hanya berakhir menjadi bahan diskusi di ruang-ruang kuliah atau naskah pidato politik. Namun, dengan keberanian seperti yang saya ceritakan di podcast tadi, Kanda Bahlil sedang membuktikan bahwa bumi, air, dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya benar-benar dikelola secara lebih adil, produktif, dan hasilnya kembali sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat Indonesia.

Langkah-langkah taktis dan berani yang diambil beliau mencerminkan komitmen itu, di antaranya:

  • Legalisasi Sumur Rakyat: Sebuah kebijakan humanis dan berkeadilan yang memberikan kepastian hukum serta ruang ekonomi bagi penambang kecil di daerah.
  • Peningkatan Produksi Energi Nasional: Ikhtiar tanpa lelah untuk menjaga ketahanan energi nasional di tengah ketidakpastian global.
  • Percepatan Program Hilirisasi Industri: Melanjutkan strategi besar agar Indonesia tidak lagi sekadar mengekspor bahan mentah, melainkan menikmati nilai tambah ekonomi di dalam negeri.

Perjuangan mewujudkan kedaulatan energi ini bukanlah tugas yang ringan. Kanda Bahlil tidak bisa berjalan sendiri; beliau membutuhkan dukungan dari seluruh elemen bangsa, terutama dari generasi muda.

Oleh karena itu, dari Samarinda, saya mengajak seluruh anak muda Kaltim dan Indonesia untuk tidak tinggal diam. Mari kita kawal agenda besar ini dengan terus meningkatkan kapasitas diri, mengasah keahlian, dan mengambil peran aktif dalam pembangunan. Keteladanan kerja nyata dan keberanian “Merah Putih” yang ditunjukkan Kanda Bahlil harus menjadi inspirasi bagi kita semua untuk ikut turun tangan, mengawal kekayaan negeri demi kemaslahatan seluruh rakyat Indonesia.

ariefrosyid.id_hmi Kutai

Menjemput Masa Depan dari Akar Rumput: Catatan Safari Perkaderan Kaltim-Sulsel

Akhir pekan ini menjadi momen yang cukup biasa padat sekaligus produktif bagi saya. Perjalanan maraton membawa saya melintasi dua pulau, berlabuh di Kalimantan Timur dan kembali ke tanah kelahiran di Sulawesi Selatan. Pada agenda-agenda ini, saya menemui, mendengar, dan membakar semangat tunas-tunas muda pemimpin masa depan bangsa.

Di Kalimantan Timur, safari saya bergerak melintasi tiga kabupaten/kota penting, yaitu Kutai Kartanegara (Kukar), Samarinda, dan Balikpapan. Di Kukar, saya berkesempatan hadir untuk mengisi materi pada forum Latihan Kepemimpinan (LK) II Tingkat Nasional yang diselenggarakan oleh HMI Cabang Kutai Kartanegara.

Bagi keluarga besar hijau-hitam, LK II atau Intermediate Training adalah fase krusial dalam struktur perkaderan. Jika LK I adalah gerbang masuk untuk menanamkan ke-Islaman dan ke-Indonesiaan, maka LK II adalah kawah candradimuka tempat kader digembleng secara intelektual agar mampu merumuskan arah juang. Di forum inilah kemampuan analitis mereka lebih diuji untuk melihat korelasi antara teori akademik dan realitas sosial di lapangan.

Di hadapan para kader di Kukar, saya menegaskan satu pesan penting: Anak muda hari ini tidak boleh lagi hanya duduk manis sebagai penonton di pinggir lapangan. Mengingat situasi Indonesia saat ini yang sedang menghadapi transisi besar menuju Indonesia Emas 2045, peranan pemuda menjadi penentu. Saya mengajak mereka untuk berani “main ke tengah lapangan”, alias, ikut ambil bagian secara aktif menggerakkan roda ekonomi dan tidak tabu untuk terlibat langsung menjadi pemain dalam panggung politik praktis.

Setelah Kukar, saya lanjut ke silaturrahim dengan sahabat-sahabat di Samarinda dan Balikpapan Kaltim, saya bertolak menuju kampung halaman di Sulawesi Selatan. Di sana, selain energi perkaderan hadir membersamai adik-adik sebagai pemateri LK II di dua cabang sekaligus: HMI Cabang Takalar dan HMI Cabang Bantaeng, tentu agenda silaturrahim dengan sahabat dari warkop ke warkop jalan terus.

Insya Allah, saya akan memulai pekan depan dengan mengisi LK II di Takalar dan Bantaeng tersebut.

Yang pasti, di hadapan para adik-adik peserta LK dan silaturahmi, narasi yang saya bawa tetap konsisten. Kita perlu mengikis skeptisisme anak muda terhadap politik dan ekonomi. Politik tanpa diisi oleh anak-anak muda yang terdidik dan memiliki integritas moral hanya akan melahirkan kebijakan yang menjauh dari kepentingan rakyat. Begitu pula di sektor ekonomi, kemandirian bangsa hanya bisa dicapai jika anak mudanya berani mengambil risiko menjadi penggerak usaha, bukan sekadar pencari kerja.

Aktivitas saya yang terus berkeliling dari satu forum mahasiswa ke forum lainnya seringkali memantik pertanyaan: mengapa di tengah kesibukan politik nasional, saya masih konsisten turun ke daerah?

Buat saya, silaturahmi adalah keharusan. Apalagi, saat ini saya juga sedang mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Umum DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI), dan Sekretaris Akademi Partai Golkar. Kekuatan sejati parpol modern dan organisasi kepemudaan terletak pada seberapa kuat dan luas jejaring kita di akar rumput.

Melalui AMPI, kami memiliki tanggung jawab untuk melakukan konsolidasi pemuda secara masif. Kita harus memastikan aspirasi anak-anak muda di daerah, kabupaten, bahkan pelosok desa, terkanalisasi dengan baik. Dengan memperbesar jejaring di akar rumput, kita sedang membangun fondasi politik yang kokoh, inklusif, dan responsif terhadap kebutuhan riil masyarakat.

Di sela-sela padatnya jadwal formal LK II baik di Kaltim maupun Sulsel, saya selalu menyempatkan diri menggelar pertemuan-pertemuan santai. Mulai dari sekadar ngopi bareng di warkop lokal bersama para senior, berdiskusi lepas dengan jejaring KAHMI, hingga bercengkrama tanpa sekat dengan rekan-rekan aktivis mahasiswa.

Bagi saya, pertemuan informal seperti ini justru seringkali memunculkan ide-ide segar dan solusi taktis atas berbagai sumbatan komunikasi. Silaturahmi yang otentik, seperti yang sering ditekankan para senior kita, adalah modal sosial terbesar yang kita miliki untuk menjaga agar simpul kebersamaan ini tidak kendor dimakan waktu.

Akhir pekan telah usai, namun gelora dari Kaltim dan Sulsel akan terus saya bawa sebagai energi untuk terus berkarya. Sampai jumpa di forum-forum pengabdian berikutnya!

ariefrosyid.id_Mas Bahlil Ganteng

MBG dan Haji Energik Punya Golkar

Pekan ini, ruang publik kita masih saja diwarnai oleh demam lagu AI fenomenal: MBG (Mas Bahlil Ganteng). Saking masifnya tren ini, beberapa hari lalu saya diundang menjadi narasumber dalam sebuah sesi podcast bersama rekan-rekan Ansor. Pertanyaan utama yang mereka lemparkan tentu saja seputar bagaimana saya melihat fenomena internet yang satu ini dari kacamata sosial-politik.

Di podcast Anshor tersebut, saya memaparkan analisis menarik dari pakar komunikasi kreatif, Mas Ipank Wahid. Beliau menyebut tren lagu MBG ini sebagai “Viral Kasta Tertinggi”. Mengapa? Karena sebuah konten yang awalnya diproduksi dengan intensi menyindir, justru berbalik menjadi gelombang simpati publik yang masif secara organik. Pengamat politik Adi Prayitno dalam ulasannya juga melihat fenomena ini sebagai bentuk kedekatan emosional (engagement) publik yang tidak berjarak dengan sosok pemimpin. Publik menyukai Bang Bahlil karena ia tampil apa adanya, autentik, dan tidak jaim.

Bahkan, daya tembus lagu MBG ini terbukti sudah melintasi batas negara. Baru-baru ini viral sebuah video yang memperlihatkan fenomena ini sudah sampai ke luar negeri. Di Madinah, seorang konten kreator yang juga bekerja sebagai pramuniaga di toko oleh-oleh lokal ikut melantunkan “MBG Mas Bahlil Ganteng” dengan fasih. Lirik tersebut ia gunakan sebagai strategi kreatif untuk menarik perhatian dan merayu para jemaah haji serta umrah asal Indonesia yang sedang berbelanja. Ini membuktikan bahwa pesona jingle jenaka ini benar-benar telah menjadi bahasa universal yang melekat di benak siapa saja.

Setelah itu, ada satu momen lagi yang ‘pecah’ di akhir pekan ini. 

Manifestasi dari julukan “Haji Energik” itu kembali terbukti. Sebuah video mendadak viral memperlihatkan momen jenaka saat Bang Bahlil menghadiri Musyawarah Nasional (Munas) KOSGORO.

Saat namanya dipanggil untuk memberikan sambutan, dengan ciri khasnya yang penuh stamina, beliau berlari kecil (lari energik) menuju podium. Menariknya, panitia di ruangan justru memutar lagu MBG sebagai backsound kedatangan beliau!

Seketika seluruh ruangan riuh rendah. Bang Bahlil yang berada di atas podium sempat terlihat salah tingkah mendengarnya. Namun, alih-alih emosi, beliau justru senyam-senyum, melambaikan tangan, dan melanjutkan pidato dengan penuh wibawa. Kedewasaan sikap seperti inilah yang justru membuat martabat beliau semakin naik di mata kader dan publik.

Melihat semua rentetan kejadian ini, saya menarik sebuah kesimpulan spiritual. Jika di tengah masyarakat kita sering mendengar idiom “rezeki anak soleh”, maka fenomena meledaknya popularitas Bang Bahlil lewat jalur MBG ini adalah hadiah untuk “Kanda Soleh”.

Hujatan yang diubah menjadi berkah, ejekan fisik yang berbalik menjadi lagu pemersatu yang disukai lintas generasi, hingga pencapaian politiknya yang stabil, adalah buah dari hati yang bersih dan bakti yang tak pernah putus pada orang tua dan agama. Golkar beruntung memiliki nakhoda yang tidak hanya cerdas dan energik, tetapi juga diberkahi kelapangan hati yang luar biasa.

Keep shining, Kanda!

Masjid Al Hilal atau Masjid Tua Katangka adalah saksi bagaimana penyebaran agama Islam dilawali oleh para ulama lewat pemuda, yaitu Sultan Alauddin, raja Gowa yang saat itu berusia sekitar 17 tahun. Sultan ini juga yang kemudian mendukung penyebaran dakwah Islam ke seluruh Sulawesi Selatan.

Empat abad berlalu, DMI dan Irmahi Katangka, menyadari visi ulama masa lampau, bahwa dakwah Islam harus mengarusutamakan para pemuda.

Lewat kegiatan Tablig Akbar dan Halalbihalal, bertajuk ‘Kebangkitan Kaum Muda Milenial Literat dan Enterpreneurship dari Masjid’, kami membawa misi dakwah Islam kepada para milenial dan Generasi Z. Islam yang toleran dan damai lewat kesadaran literasi dan pemberdayaan ekonomi.

Dan saya bangga dipercayakan untuk berbagi di acara ini. Di hadapan para generasi muda calon pelanjut estafet negara, bangsa, dan Islam ini.

drg. M. Arief Rosyid
Anggota Pokja Pelayanan Kepemudaan