Pada pekan ini, kami mendapat beberapa berita duka cita.
Catatan duka ini diawali pada Kamis (15/10) atas berpulangnya ibunda tercinta dari Kak Dr. dr. Ulla Nuchrawaty Usman (Ketua Umum KOHATI PB HMI Periode 1981–1983).
Kemudian pada Jumat (16/10), kita kembali berduka atas wafatnya Almarhumah Ibu Emma Suhartrimah Heryatty binti Hamid Arifin, istri tercinta dari senior kita Kanda Dr. Abdullah Hehamahua (Ketua Umum PB HMI Periode 1978–1981).
Kabar duka kembali datang pada Minggu (18/10), ulama sepuh, guru bangsa, sekaligus Pengasuh Pondok Pesantren Daarul Rahman Jakarta, K.H. Syukron Makmun, berpulang ke Rahmatullah.
Kiai Syukron Makmun adalah ulama yang mendedikasikan seluruh hidupnya untuk jalan dakwah dan pendidikan. Lewat untaian ceramah dan bimbingannya, beliau senantiasa menyampaikan ajaran Islam secara sejuk, mendalam, dan penuh ketegasan moral.
Membangun dan membesarkan Pondok Pesantren Daarul Rahman sejak 11 Januari 1975 bersama kiai seperjuangan (KH. Abdul Qodir Rahman, KH. Antung Ghozali, dan KH. Masyhuri Baidlowi) adalah salah satu legacy terbesar beliau. Berawal dari kawasan Senopati hingga kini berpusat di Ciganjur serta meluas ke Bogor dan Depok, Daarul Rahman memadukan disiplin bahasa Pondok Modern Gontor dengan kedalaman kajian kitab kuning salafiyah.
Melalui sistem Pendidikan Muadalah, ribuan alumninya kini berkiprah di berbagai lini kehidupan. Tradisi pengabdian masyarakat seperti Muhadhoroh (pidato tiga bahasa) dan Safari Dakwah/KKM tahunan menjadi bukti nyata komitmen Daarul Rahman bagi kemaslahatan umat.
Kehangatan sanad keilmuan beliau juga kami rasakan secara erat melalui putra beliau, K.H. Faiz Syukron Makmun (Gus Faiz). Bagi saya dan kawan-kawan di Jalan Surabaya 45, Gus Faiz adalah sosok pencerah yang sudah sangat familiar. Beliau secara rutin hadir mengisi majelis pengajian bulanan kami di Jalan Surabaya 45, memberikan kedalaman tatanan ilmu serta oase keilmuan Islam yang menyejukkan bagi gerakan orang muda.
Semoga Allah SWT melimpatkan rahmat para almarhum dan almarhumah, serta memberi ketabahan pada keluarga yang ditinggalkan.