Refleksi HUT ke-47 AMPI: Energi Pembaharu Indonesia Maju

M. Arief Rosyid Hasan (Wakil Ketua Umum AMPI)

AMPI sebagai sebuah organisasi yang didirikan Partai Golkar, kini memasuki usia 47 tahun. Hampir setengah Abad bukanlah usia yang muda bagi organisasi kepemudaan. Perannya harus memperkuat posisi sebagai katalisator pembaruan politik, terutama dalam agenda regenerasi partai dan pelembagaan kaderisasi.

Tahun ini mengangkat tema, “Energi Pembaharu Indonesia Maju”, ia perlu dimaknai sebagai panggilan dalam menghadirkan wajah baru partai politik yang lebih segar, modern, inklusif terbuka, dan memijak bumi – khususnya di hadapan generasi muda yang kini hidup dalam ekosistem nilai dan harapan yang berbeda dari generasi sebelumnya.

Pejuang Politik Tak Musiman

Ketika menjabat sebagai Ketum PB HMI 2013-2015, kami mempelopori Gerakan Pemilu Cerdas yang ditujukan untuk mencerdaskan pemilih Indonesia agar menentukan pilihan secara rasional di Pemilu 2014. Waktu itu kami juga menggiring narasi, Golput bukanlah pilihan politik yang tepat dalam sistem demokrasi bebas dan terbuka.

Ketika Pemilu 2019, kami bergabung dalam Tim Kampanye Nasional Jokowi – KH. Maruf Amin, sejalan dengan masuknya Erick Thohir, Rosan Roeslani, M. Lutfi, dan Bahlil Lahadalia. Kami didaulat sebagai Wakil Direktur Penggalangan Pemilih Muda dibawah Direkturnya Bahlil Lahadalia.

Lalu Pemilu 2024, ketika sedang menjabat sebagai Komisaris Bank Syariah Indonesia, kami diminta untuk terlibat sebagai Komandan Tim Kampanye Nasional Prabowo – Gibran. Tentu tidak ada pilihan lain selain mundur sebagai profesional dan ikut turun gelanggang sebagai pejuang politik.

Dalam proses panjang di dunia politik, kami melihat satu hal yang terus perlu disempurnakan yakni perhatian terhadap pelembagaan kaderisasi. Keaktifan sebagian besar dari generasi muda hanya saat menjelang musim pemilu, lalu menghilang dari ruang-ruang pembentukan kesadaran politik khususnya terkait kebijakan publik.

Partai politik sebagai pilar utama demokrasi memiliki tanggung jawab yang tidak mudah. Tanpa proses kaderisasi yang kuat nan kokoh, mustahil kita menemukan semakin banyak pejuang politik, yang terus ingin mendedkasikan dirinya demi kemaslahatan yang lebih luas.

Dalam konteks inilah, gagasan yang sering disampaikan Ketua Umum Golkar Bahlil Lahadalia menemukan relevansinya, yakni Golkar sebagai sebuah partai politik harus masuk ke sekolah, kampus, dan pesantren. Golkar harus datang menjemput bola, apalagi setelah Putusan MK 65/PUU-XXI/2023.

Generasi muda hari ini tidak anti-politik, mereka hanya tidak menemukan politik yang menyentuh harapan dan dunia mereka. Jika partai politik bisa hadir lebih awal dalam ruang-ruang edukatif dan nilai seperti sekolah dan pesantren, mereka berpeluang besar menjadi institusi pembentuk karakter, bukan sekadar mesin elektoral.

AMPI dan Masa Depan Politik

Sebagai salah satu instrumen kaderisasi Partai Golkar, AMPI seharusnya menjadi garda terdepan dalam agenda transformasi ini. Dengan pengalaman sejarah panjang dan jejaring yang luas, AMPI bisa menjadi ruang awal bagi generasi muda untuk belajar memahami politik secara sehat dan etis.

Namun, agar AMPI tetap relevan, organisasi ini juga perlu beradaptasi dengan cari berpikir generasi baru: lebih terbuka, kolaboratif, dan berbasis nilai. Politik masa depan bukan lagi soal loyalitas buta terhadap tokoh, tetapi kemampuan berjejaring, berpikir sistemik, dan mengeksekusi solusi atas persoalan-persoalan konkret.

AMPI mesti menjadi laboratorium sosial-politik yang inklusif, dimana anak muda dari beragam latar belakang —baik aktivis kampus, santri, pwngusaha muda, influencer, hingga penggiat digital— diberi ruang untuk tumbuh dan berkontribusi. Disitulah energi pembaharu menemukan bentuknya, bukan sebagai retorika belaka, tetapi sebagai ekosistem atau sistem yang hidup dan berkelanjutan.

Momen ulang tahun AMPI ke-47 tahun tidak boleh kita jadikan sekedar perayaan simbolik, melainkan juga titik tolak untuk mengevaluasi kembali arah pembaharuan partai. Pelembagaan kaderisasi tidak bisa lagi bersifat insidental. Ia harus dimulai dari hulu — dari ruang pendidikan, komunitas, hingga basis sosial.

Jika Golkar dan AMPI menjawab tantangan ini dengan sepenuh hati, maka bukan tidak mungkin partai ini akan menjadi rumah besar bagi orang muda di Indonesia. Bukan karena masa lalunya yang besar, tetapi karena kesungguhannya menyongsong masa depan yang lebih relevan. Semoga!