Di saat sebagian besar orang memilih menghabiskan musim liburan panjang ini dengan bertamasya atau berekreasi bersama keluarga, langkah kaki saya kembali tertuntun ke ruang-ruang diskusi yang riuh dengan dialektika. Akhir pekan ini, saya berkesempatan hadir di Cianjur untuk mengisi materi pada forum Latihan Kepemimpinan (LK) II Tingkat Nasional HMI Cabang Cianjur.
Kembali ke Cianjur selalu menghadirkan rasa hangat tersendiri. Jika diingat-ingat, mungkin ini sudah kali ketiga atau keempat saya hadir mengabdi di tanah Pasundan ini untuk agenda yang sama. Yang membuat LK II kali ini semakin luar biasa adalah antusiasme pesertanya. Forum ini diikuti oleh 36 peserta yang datang dari 14 cabang berbeda, termasuk kabupaten/kota sekitar seperti Bandung, Tasikmalaya, Garut, hingga Jatinangor.
Bagi saya, setiap forum LK selalu meninggalkan kesan mendalam karena di sinilah bibit-bibit muda terbaik HMI sedang menjalani kawah candradimuka. Di ruang kelas yang sederhana namun sarat energi ini, saya justru memosisikan diri untuk lebih banyak mendengar dan mencatat setiap kegelisahan mereka.
Memasuki materi inti, kami membedah peta studi gerakan Islam sebagai upaya berbasis ajaran Islam untuk perubahan sosial-politik-budaya. Coraknya beragam; ada revivalisme (seperti Wahabisme), reformis/modernisme (seperti pemikiran Jamaluddin Al-Afghani dan Muhammad Abduh), hingga radikalisme (seperti Ikhwanul Muslimin, HTI, bahkan ISIS). Saya mengajak kader untuk membaca latar belakang sejarah dan struktur kekuasaan di balik kemunculan gerakan-gerakan tersebut sebelum terburu-buru menghakimi—terutama di era media sosial yang penuh dengan fenomena hoaks, FOMO, dan je akan jejak digital yang abadi.
Kami juga mendiskusikan bagaimana diskursus ini berevolusi melintasi zaman, mulai dari kritik orientalisme Edward Said hingga bagaimana teknologi dan Artificial Intelligence (AI) mengukur pola gerakan dan kepemimpinan hari ini. Di tengah gempuran narasi Barat, saya mengingatkan para kader untuk menengok kembali sejarah Islam Nusantara dan tokoh-tokoh lokal seperti Syekh Yusuf Al-Makassari. Indonesia memiliki akar organisasi yang kokoh seperti Sarekat Islam, Muhammadiyah, dan NU, di mana HMI berdiri di atas bentangan sejarah tersebut dengan menyandarkan nilai-nilainya pada Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP).
Dari 36 pasang mata yang hadir, lahir rentetan pertanyaan fundamental yang mereka lemparkan, mulai dari isu sosial, dinamika Gen Z, hingga radikalisasi Islam:
- Syaiman (UIN Bandung): Menyoroti bagaimana gerakan Islam hari ini mampu menjaga nilai etik dan spiritual di tengah disrupsi Society 5.0.
- Syifa (UIN Bandung): Mempertanyakan formula gerakan Islam yang paling relevan bagi Gen Z agar anak muda tetap peduli pada isu sosial dan kemanusiaan.
- Bagas (Cianjur): Memberikan otokritik tajam bahwa HMI hari ini terkesan apatis terhadap masalah perjuangan rakyat dan kebijakan yang tidak pro-rakyat.
- Iksan (Tasikmalaya): Mengangkat diskusi menarik seputar dinamika pemikiran tokoh lokal yang kontroversial seperti, ia menyebut nama seorang ulama di Jawa Barat.
- Vanisa (Jatinangor): Gelisah tentang krisis identitas di tubuh himpunan dan bagaimana cara mengembalikan marwah serta identitas asli HMI.
- Ibrahim (Jatinangor): Membedah konteks studi gerakan Islam, gesekan di dalamnya, serta apakah orientasi gerakan Islam melalui jalur partai politik demi kekuasaan adalah sesuatu yang baik.
- Ajmi (Tasikmalaya): Menyoroti fenomena radikalisme dan konsep jihad yang kerap disalahpahami oleh publik.
- Ade (Cianjur): Membedah dinamika sejarah peradaban Islam dan corak revivalisme, serta bagaimana membedakan mana gerakan Islam yang murni membangun peradaban dan mana yang hanya menjadi alat legitimasi politik kekuasaan.
Mendengar rentetan pertanyaan ini, saya optimis bahwa intelektualisme HMI tidak pernah padam. Mereka tidak sedang membicarakan hal-hal remeh, mereka sedang memikirkan masa depan peradaban.
Perkaderan: Privilege Terbaik HMI
Tradisi merawat intelektualitas lewat LK ini adalah privilege terbesar yang dimiliki oleh keluarga besar HMI. Di forum inilah kita dilatih, melatih diri, berbenturan gagasan, dan memperluas cakrawala berpikir tanpa sekat.
Sistem perkaderan intensif seperti ini mengingatkan kita pada pemikiran sosiolog dan teoritikus politik global, Antonio Gramsci, mengenai konsep “Organic Intellectuals” (Intelektual Organik). Gramsci menyatakan bahwa perubahan sosial yang progresif tidak lahir dari ruang hampa, melainkan ditiupkan oleh para intelektual yang tumbuh dan merasakan langsung denyut nadi kegelisahan masyarakatnya.
LK HMI adalah pabrik yang memproduksi intelektual organik tersebut. Melalui LK, mahasiswa tidak hanya dididik menjadi sarjana yang menara gading, melainkan kader umat dan kader bangsa yang siap turun tangan menyelesaikan carut-marut persoalan di tengah masyarakat.
Terima kasih untuk ke-36 peserta dari 14 cabang yang telah mengikhlaskan waktu liburannya demi ilmu. Liburan boleh usai, namun ikhtiar menjaga api perkaderan dan merawat akal sehat bangsa harus terus membara di dada kita semua!