14 Januari 2020 lalu, saya peroleh pesan istimewa di WAG Ketua Umum PB HMI. Dikirim oleh kanda Zaky Siradj (Ketua Umum periode 1981-1983) tentang pemimpin.

Tulisannya tentang pemimpin yang disebut pemimpin karena jabatan formalnya sebagai pejabat publik, juga ada pemimpin yang diakui kepemimpinannya karena keteladanannya.

Sejatinya bagi beliau, pemimpin adalah orang yang diteladani, bukan atas perintah atau ada paksaan. Tapi atas dorongan kemuliaan hidup, penuh keikhlasan dan kejujuran. Jadi berkali-kali ditegaskan beliau, pemimpin adalah guru kehidupan karena keteladanannya (uswah hasanah).

Apa yang disampaikan beliau tentu saja menjadi hal yang kita semua tahu, tapi apakah kita semua telah berhasil menjadi pemimpin sejati tersebut?

Pesan-pesan kebaikan yang disampaikan dalam sosial media, yang mungkin berulang-ulang kita peroleh sejak kecil tersebut yang mesti terus dilestarikan. Kita viralkan kesegala penjuru, agar menjadi pesan pengingat setiap saat.

Kebaikan harus diperbanyak dan diorganisir sebaik mungkin. Tak boleh kalah dengan keburukan atau kebohongan/hoax yang diumbar sebanyak-banyak dan diorganisir serapi mungkin.

Menjadi Wakil Tuhan

Cerita pemimpin diatas yang sesungguhnya menjadi pemantik kesadaran kita bahwa kita mampu hadir sebagai pemimpin dimanapun kita berada. Sebagaimana tugas dari Pencipta kepada manusia sebagai khalifatullah fil ardhi.

Tugas kekhalifaan inilah yang sesungguhnya menjadi sangat berat dalam arti sebagai wakil Tuhan di muka bumi. Bisa dibayangkan, bagaimana Dia yang Mahasempurna menitipkan penciptaan-Nya yang mahaluas kepada manusia.

Tergambar fitrah kemanusiaan kita sebagai pemimpin, yang dituntut bekerja untuk kemakmuran bumi dan seisinya. Dimana kaki berpijak, maka tugas kepemimpinan kita harus dilaksanakan sebaik-baik dan sebenar-benarnya.

Jadi tak ada alasan, untuk tak berguna sekecil apapun itu. Apalagi telah peroleh tanggung jawab sebagai pejabat publik, segala tindak tanduknya memiliki konsekuensi sekecil apapun untuk masyarakat luas.

Keringat dan Darah Pemimpin

Ada yang menarik, sejak mulai rutin menulis kembali tentang akhlak dan kawan-kawannya, saya peroleh banyak balasan pesan yang baik. Baik yang ikut menyampaikan keluh kesahnya, maupun yang sekedar berbagi pengalaman.

Beberapa waktu lalu, oleh Kepala BKKBN Dokter Hasto mengirimkan pesan balasan kepada saya setelah menulis tentang “Pahlawan Milenial, Mana Akhlakmu?”. Beliau menyampaikan bahwa tekad yang kuat untuk berintegritas disertai penghayatan kemiskinan, kesenjangan, dan kebodohan serta empati yang dalam akan menjadi harapan yang menumbuhkan dan melahirkan “pahlawan milenial”.

Semangat kepahlawanan inilah yang juga melatarbelakangi beliau dalam pelantikan pejabatnya untuk memberi jempol darah. Harapannya agar semua pejabat dan pegawai BKKBN hanya loyal tanpa batas pada bangsa dan negara NKRI.

Tentu kita berharap hal tersebut tak sekedar gimik belaka, yang luntur sesaat setelah prosesI pelantikan tersebut. Kita butuh banyak pemimpin yang rela darah dan keringatnya ngucur untuk setiap agenda kemajuan.

Karena sesungguhnya darah para pemimpin kini, apalagi sekedar keringat, hanya melanjutkan tiap tetes keringat dan darah pahlawan yang telah membawa bangsa Indonesia peroleh kemerdekaan.

Dipundak kitalah sebagai pewaris pemimpin dan pahlawan masa kini untuk terus berbuat yang terbaik. Kebaikan yang kita gelar tersebut itulah yang akan mengantarkan kita pada masa depan yang terbaik.

Semoga!