“Kalau sampai hari ini masih merah kehitam-hitaman padahal semua sudah turun tangan, giliran bonek yang ambil bagian membuat Surabaya menjadi hijau kembali. Hijau adalah warna kebanggaan Persebaya, sehingga tak boleh ada asosiasi warna lain yang melekat padanya. Merah, hitam, apalagi biru.”

Kurang lebih seperti itu komitmen dari Presiden Persebaya Azrul Ananda, Mas Nanang, Manajer Candra Wijaya, Fans Relation Alex Tualeka, dan Yahya Alkatiri dari manajemen Persebaya. Juga tentu saja dikuatkan oleh teman-teman perwakilan bonek yang hadir di tempat terpisah, Cak Cong, Capo Ipul, Bojes Arif, Cak Eyik, dan Cak Sinyo.

Menemukan bonek ibarat menemukan sebuah mutiara dikedalaman laut. Prosesnya cukup panjang, tapi tidak lama, cukup dua hari di Surabaya. Mula-mula kami silaturrahim ke abah Dahlan Iskan sebagai tokoh nasional, tokoh media, pengusaha, dan tentu saja tokoh masyarakat. Tiga dari unsur pentahelix melekat pada beliau.

Abah DI, begitu saya sering memanggilnya sejak 2013, adalah ayah dari Presiden Persebaya Azrul Ananda. Abah sendiri punya andil besar kepada saya sampai dititik hari ini. Sejak beliau Menteri BUMN, oleh Kanda Arip Musthopa dan Bang Abdul Azis saya diperkenalkan sebagai Ketum PB HMI.

Sejak saat itu bantuan mengalir mulai melunasi hutang Kongres HMI, kegiatan-kegiatan PB HMI, hingga CV saya diminta untuk dimasukkan sebagai Komisaris disalah satu perusahaan BUMN meski usia saya waktu itu masih berumur 26 tahun.

Waktu itu sederhana saja kata Beliau, kalian sebagai generasi muda harus punya pengalaman mengabdi di perusahaan negara. Tidak hanya belajar dari senior-senior kalian yang lebih dulu masuk, tapi juga terlibat langsung, seperti kata pepatah “pengalaman adalah guru terbaik”.

Meski akhirnya, saya mengurungkan niat dan secara halus menyampaikannya kepada abah DI. Tidak bermaksud menolak maksud baik dan besar abah, tapi karena ingin konsentrasi mengabdi dulu sebagai Ketua Umum PB HMI.

 

Bonek adalah Koenjti!

Kembali ke urusan Bonek, pertemuan mulus dengan mereka punya sejarah yang panjang bersama Abah DI. Ketika menyampaikan maksud kedatangan saya kepada abah DI dirumahnya, selain untuk silaturrahim tapi juga ingin dipertemukan dengan putranya yang kini menjabat sebagai Presiden Persebaya.

Beliau langsung mencoba menelpon, namun belum peroleh respon. Abah DI menyampaikan nanti jika sudah direspon akan saya teruskan info yang diperoleh dari kami.

Karena rencana pertemuan berikutnya dengan Bu Risma belum menemukan titik terang, kami diajak abah DI sekalian menunggu di kantornya yang baru DIs Way, di depan Balaikota Surabaya.

Kami bersama-sama bergerak menuju kesana dari rumah abah DI. Sambil menunggu waktu berjumpa dengan Bu Risma, kami juga berharap kemungkinan untuk bertemu Mas Azrul disana.

Sekitar dua jam mondar mandir DIs Way, Balaikota, dan Warung Makan, akhirnya Mas Azrul tiba juga. Abah DI langsung memperkenalkan kami dan tentu saja Mas Azrul menyambut dengan hangat.

Begitulah awal mula silaturrahim kami, setelah itu melanjutkan pertemuan ke kantor Persebaya di Surabaya Town Square. Jumpa dengan Mas Chandra dan Bang Alex Tualeka. Kami membicarakan rencana pertemuan dengan bonek dan acara deklarasi bersama dengan mereka.

Keesokan harinya, kami diajak berkunjung ke basecamp Green Nord. Diajak bang Alex dan Cak Yahya, ketemu dengan Cak Cong, Capo Ipul, dan Bojes Arif. Dari sana kami peroleh penjelasan yang cukup utuh bagaimana bonek sudah berbuat maksimal di awal pandemi Covid-19.

Mulai bulan Maret 2020, sebelum orang lain banyak menyadari bahaya Covid-19, bonek sudah melakukan banyak hal. Mereka menyurahkan energinya mulai dengan melakukan penyemprotan berkala diratusan fasilitas umum, membagikan puluhan hingga ratusan ribu sembako dan nasi bungkus, hingga sosialisasi menegakkan protokol kesehatan.

Sampai disuatu titik mereka bosan dan jengah, apa yang dilakukannya tak juga membuat kompak Pemerintah Provinsi Jatim dan Pemerintah Kota Surabaya. Sesekali menggelengkan kepala, tak mengerti sebab keduanya tak kunjung menyelesaikan perbedaan. Bagi mereka, “gajah” asyik bertempur antar sesamanya, rakyat bergelimpangan “positif” hingga pergi untuk selamanya.

Begitulah secara sederhana mereka menggambarkan situasi yang terjadi di Surabaya dan Jawa Timur. Bagi Bojes Arif (Tim Kebencanaan Green Nord), yang juga memiliki pengalaman sejak 2004 sebagai relawan di Aceh, masyarakat sudah peroleh 4 hal : disorientasi (kehilangan arah), distrust (kehilangan kepercayaan), disiden (pembangkangan), dan disintegrasi pemimpin.

Semata-mata karena kemanusiaanlah yang memaksa mereka untuk melawan rasa bosan, jengah, marah, dan hal-hal yang kontraproduktif lainnya. Mereka berdiri pada pijakan yang sama, bahwa manusia yang terbaik adalah mereka yang paling banyak manfaatnya untuk sesama.

Wani Lawan Covid-19

Istilah Wani Lawan Covid-19 mengemuka diawal kunjungan kami, ketika menemui teman-teman aktivis cipayung plus, forum pelajar, dan influencer. Mereka menjelaskan bahwa wani yang artinya berani kini bermakna kontraproduktif.

Ada kisah ketika Satpol PP yang ingin berkunjung ke pasar diusir oleh sejumlah pedagang pasar dengan mengatakan wani! Mereka seperti menganggap Covid-19 ini mengada-ada sehingga tak lagi percaya.

Sehingga waktu itu, mengingat arahan Jenderal Doni untuk menggunakan kearifan dan bahasa lokal, kami menyodorkan istilah wani itu diadaptasi dalam sebuah gerakan sosial melawan Covid-19.

Gayung bersambut semua menyetujui, resmilah Wani Lawan Covid-19 mengudara. Lalu peroleh tambahan edukasi protokol kesehatan dengan wani pakai masker, wani cuci tangan, dan wani jaga jarak.

Sebelum kembali ke Jakarta, bersama Kapolda dan Pangdam, kami menghadiri acara peluncuran gerakan Bonek Wani Lawan Covid-19. Juga sepulang kami ke Jakarta, ada juga peluncuran Relawan Milenial Arek Suroboyo Wani Lawan Covid-19.

Ayo rek, hijaukan Surabaya Jatim!