Di balik riuhnya algoritma media sosial, saya beruntung bisa menyaksikan sisi lain dari sang Ketua Umum yang jauh dari sorotan kamera. Tepat setelah beliau kembali dari tanah suci menunaikan ibadah haji, kami datang untuk menyambut dan bersilaturrahim di kediaman Bang Bahlil dan keluarga.
Hari itu, kami bertemu juga dengan istri beliau, Caca Sri, serta ibu kandung Bang Bahlil yang bersahaja.
Berada di tengah keluarga mereka membuat saya tersadar: energi yang dimiliki Bang Bahlil hari ini, ketenangannya menghadapi badai ujian, serta ketulusannya memaafkan perundungan digital, tidak pernah lepas dari doa tulus seorang ibu dan kehangatan dukungan sang istri. Beliau kembali ke tanah air bukan hanya sebagai pemimpin parpol, melainkan sebagai seorang “Haji Energik” yang jiwanya telah diperbarui.
Pada salah satu podcast pekan lalu, saya juga menceritakan keteladanan dari Bang Bahlil.
Bagi saya, Bang Bahlil adalah personifikasi dari ketangguhan anak daerah yang menolak tunduk pada keadaan. Beliau mengisahkan kembali bagaimana dirinya kerap diremehkan sejak awal memimpin HIPMI hingga dipercaya menakhodai BKPM (Kementerian Investasi). Alasan penolakan dari para kritikus saat itu selalu sama dan klise: karena beliau bukan lulusan universitas kenamaan, apalagi lulusan luar negeri mentereng sekelas Harvard.
Namun, dunia mencatat bahwa keberhasilan beliau meningkatkan realisasi investasi Indonesia secara masif di masa-masa sulit bukanlah hasil dari deretan gelar luar negeri, melainkan buah dari kerja nyata di lapangan. Bagi Bang Bahlil, anggapan remeh dari kaum elitis itu tidak pernah membuatnya berkecil hati. Sebaliknya, hal itu justru diubah menjadi “vitamin” dan bahan bakar untuk membuktikan kualitas kepemimpinan yang sesungguhnya—mentalitas pembuktian yang kini juga beliau bawa dalam memimpin Partai Golkar.
Kembali ke momen Bang Bahlil pulang haji.
Setelah silaturahmi dan berdoa bersama, Bang Bahlil juga mengundang kami berbincang di meja makan, dan menceritakan pengalaman berkesannya di Tanah Suci.
Beliau mengisahkan berbagai refleksi spiritual, serta hakikat kekayaan dan kekuasaan yang tidak akan dibawa ke liang lahat. Ia mengajak untuk mengungkit kesadaran kolektif bahwa harta dan sifat-sifat material lainnya dijadikan instrumen pengabdian untuk menjadi rahmat bagi semesta alam.
Saya seringkali dicap sebagai ‘penjilat’ Bang Bahlil. Padahal, motivasi saya adalah berbagi cerita dan makna di balik layar dari interaksi bersama beliau.
Saya yakin, pemimpin-pemimpin lainnya juga punya banyak cerita inspirasi, dan nasihat-nasihat. Tak heran, para tokoh biasa meluncurkan biografi ataupun autobiografi selepas menjabat. Nah, yang saya lakukan, adalah memotret kepingan-kepingan kecil catatan saya untuk juga dibagikan ke publik.
Mari kita terus belajar bersama, dan menjadi hari esok lebih baik dari hari ini.
