Beberapa waktu lalu, dalam sesi obrolan seru di podcast Resonansi, saya sempat diajak mengenang kembali masa-masa awal ketika saya pertama kali menginjakkan kaki di Jakarta sekitar tahun 2010/2011 silam. Salah satu topik yang memantik diskusi mendalam malam itu adalah tentang bagaimana saya memandang dan merawat sebuah konsep yang sangat mendasar: silaturahmi.
Bagi saya pribadi, silaturahmi bukanlah sekadar agenda musiman atau formalitas. Sejak belasan tahun lalu hingga hari ini, silaturahmi telah saya transformasikan menjadi sebuah rutinitas wajib, baik dalam kapasitas profesional maupun personal.
Melihat kemudahan mobilitas hari ini, saya sering teringat betapa kontrasnya perjuangan membelah Jakarta pada zaman awal saya merantau dahulu. Saat itu, belum ada kemudahan aplikasi ojek online (ojol) seperti sekarang. Peta transportasi bahkan Google Maps belum secanggih hari ini.
Namun, keterbatasan itu tidak menjadi alasan bagi saya untuk berdiam diri di kamar kos. Demi menemui para senior, menyapa rekan-rekan aktivis HMI, dan membangun jejaring, saya rela mencampur semua moda transportasi umum yang ada. Hari-hari saya dihabiskan dengan naik-turun TransJakarta, menyambung mikrolet, mengandalkan bisingnya bajaj, hingga tak jarang mengendarai sepeda motor menembus kemacetan dan polusi ibu kota.
Meski zaman masih serba terbatas secara infrastruktur, saya menetapkan target yang cukup tinggi untuk ukuran seorang pendatang baru saat itu. Dalam sehari, saya menerapkan target pribadi untuk mendatangi minimal 7 sampai 10 tujuan silaturahmi.
Mengapa target itu menjadi begitu penting bagi saya?
Latar belakang saya adalah seorang sarjana kedokteran gigi dari HMI Komisariat Kedokteran Gigi Universitas Hasanuddin (Unhas), Makassar.
Pada masa itu, sangat jarang, bahkan bisa dihitung dengan jari, senior HMI dari rumpun profesi kedokteran gigi yang memilih berkiprah di jalur gerakan, aktivisme, atau politik nasional di Jakarta. Sebagian besar senior saya setelah lulus langsung fokus menjadi praktisi, membuka klinik, dan merintis karier sebagai dokter gigi profesional.
Karena tidak punya “jalur tol” atau karpet merah dari senior seprofesi di ibu kota, saya harus berjuang membuat simpul jejaring saya sendiri dari nol. Dan satu-satunya modal yang saya miliki saat itu adalah keberanian untuk mengetuk pintu, memperkenalkan diri, dan bersilaturahmi.
Dari ribuan pintu yang saya ketuk bersama para senior lintas generasi, saya tidak hanya mendapatkan jaringan, tetapi juga menyerap begitu banyak hikmah hidup.
Salah satu pesan penting yang dititipkan oleh seorang senior pada masa-masa awal tersebut, dan masih saya pegang teguh hingga hari ini, hampir dua dekade kemudian, adalah anjuran sederhana namun mendalam: Selalu luangkan waktu untuk hadir pada momen pernikahan dan kematian.
Hadir di hari pernikahan adalah bentuk ikut merayakan kebahagiaan dan memberikan restu bagi pengantin. Sebaliknya, hadir di hari kematian atau takziah adalah bentuk empati terdalam, ruang untuk saling menguatkan di masa-masa sulit. Dua momen transisi terbesar dalam hidup manusia inilah yang menguji seberapa otentik kualitas hubungan kemanusiaan yang kita bangun.
Sahabat sekalian, memulai hari Senin ini, saya ingin mengingatkan kita semua, terutama adik-adik mahasiswa dan aktivis muda: jangan pernah meremehkan kekuatan sebuah perjumpaan.
Hubungi seniormu, datangi kawan lamamu, luangkan waktu untuk mendengar. Karena investasi sosial terbesar dan terbaik yang bisa kita lakukan untuk masa depan bukanlah tumpukan materi, melainkan jabat tangan dan silaturahmi yang dirawat dengan tulus.
Selamat menyambut pekan yang baru. Mari kita terus melangkah ke tengah lapangan!