Pendidikan selalu menjadi panggilan hati bagi saya. Semester ini, saya mendapatkan amanah yang luar biasa untuk kembali ke ruang kelas, kali ini di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ). Saya dipercaya mengampu empat kelas untuk jenjang S1, yang mana jadwal mengajar saya terbagi cukup padat: hari Jumat khusus untuk mahasiswa S1, sementara hari Sabtu saya membersamai rekan-rekan mahasiswa di jenjang S2 dan S3.
Di kelas S1, fokus diskusi kami sangat strategis, yakni mengenai relasi antara pembangunan ekonomi dan kesehatan. Bagi saya, bertukar pikiran dengan para mahasiswa ini adalah pengalaman yang sangat memperkaya batin.
Kita seringkali membicarakan pertumbuhan ekonomi atau investasi besar, namun kita lupa bahwa kesehatan adalah hal yang paling fundamental sebelum kita bicara masa depan. Isu kesehatan ini amat kompleks; ia terhubung langsung dengan produktivitas kerja, daya saing investasi, hingga menjadi solusi kunci dalam mengatasi kemiskinan, kesenjangan, dan kebodohan. Tanpa masyarakat yang sehat secara fisik dan mental, mustahil kita bisa mencapai kemajuan ekonomi yang berkelanjutan.
Sebenarnya, aktivitas berbagi ilmu bukan hal baru bagi saya. Melalui perkaderan di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), saya telah terbiasa mengisi berbagai kelas dalam konteks Latihan Kepemimpinan (LK). Hingga saat ini pun, saya masih sering diminta oleh adik-adik di daerah, dari satu kabupaten ke kota lainnya, untuk menjadi instruktur atau narasumber di forum-forum LK.
Jika di LK HMI kami lebih banyak mengasah mentalitas, kepemimpinan, dan ideologi, maka di ruang kelas UMJ ini saya mencoba menarik teori-teori tersebut ke dalam koridor akademis yang lebih formal. Namun, napasnya tetap sama: semangat untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.
Terjun langsung sebagai pengajar formal membuat saya semakin menyadari dan mengagumi bakti para guru serta dosen. Mereka adalah pejuang yang tak kenal lelah mentransfer ilmu, mendidik karakter, dan memastikan nilai-nilai kebangsaan tetap tertanam kuat di sanubari mahasiswa.
Sejak masa aktif di organisasi kemahasiswaan, saya selalu memiliki kerinduan untuk berkontribusi lebih jauh pada Tridharma Perguruan Tinggi: Pendidikan, Penelitian, dan Pengabdian kepada Masyarakat. Berada di UMJ saat ini adalah salah satu bentuk nyata dari upaya saya untuk mewujudkan komitmen tersebut.
Di tengah maraknya teknologi Artificial Intelligence (AI) dan perkembangan teknologi yang begitu cepat, akses terhadap informasi memang menjadi sangat mudah. Namun, ada satu hal yang tidak bisa digantikan oleh mesin: adab terhadap guru dan esensi dari proses belajar itu sendiri.
Informasi bisa didapat dari layar ponsel, tetapi nilai, inspirasi, dan keteladanan hanya bisa didapat dari interaksi tulus antara guru dan murid. Oleh karena itu, pesan saya untuk seluruh rekan mahasiswa: teruslah hormati guru-gurumu. Seraplah ilmu semaksimal mungkin, namun jangan lupakan kerendahan hati dalam belajar.
Mari kita jadikan pendidikan sebagai senjata paling ampuh untuk memenangkan masa depan Indonesia. Sampai jumpa di ruang belajar berikutnya!