Sejarah bukan sekadar deretan angka tahun, melainkan kompas yang mengarahkan kita ke masa depan. Akhir pekan ini, dalam rangka merayakan 400 Tahun Syekh Yusuf Al-Makassari, Angkatan Muda Syekh Yusuf (AMSY) menggelar Dialog Kebudayaan yang sarat akan makna. Acara ini menjadi ruang refleksi bagi kita semua untuk kembali meneladani sosok “Tuanta Salamaka”, sang pejuang lintas benua yang jejaknya abadi dari Gowa, Banten, hingga Cape Town.
Suasana dialog menjadi begitu magis dan penuh haru saat budayawan senior, Aspar Paturusi, membacakan puisi berjudul “Sang Rajawali dari Timur”. Bait demi bait yang beliau suarakan seolah memanggil kembali ruh perjuangan Syekh Yusuf ke tengah-tengah kita.
Dalam puisinya, Kanda Aspar menggambarkan Syekh Yusuf sebagai “Manusia Langka” dan “Sang Pemburu Ilmu” yang merantau dari Aceh, Mekkah, Madinah, hingga Yaman. Beliau adalah sosok sufi yang menghayati tasawuf dengan mensucikan batin dan menjernihkan pikiran, namun di saat yang sama memiliki gelora juang yang tak padam dalam menegakkan keadilan dan mengusir penjajah dari bumi Nusantara.
Satu poin yang saya garis bawahi dalam diskusi tersebut adalah bagaimana keteguhan Syekh Yusuf menjadi magma inspirasi bagi tokoh dunia sekelas Nelson Mandela. Saat mendekam 27 tahun di penjara, Mandela menghayati arti kemerdekaan dan kehormatan manusia dari riwayat hidup Sang Rajawali dari Timur.
Meskipun dibuang jauh ke Sri Lanka hingga ujung selatan Afrika, dipisahkan dari keluarga dan pengikut setianya, Syekh Yusuf tetap menjadi obor penerang. Beliau tetap mengajar ilmu agama dan mengobarkan semangat perjuangan. Beliau membuktikan bahwa kebenaran harus ditegakkan di mana pun kaki berpijak.
Dalam dialog tersebut, saya menekankan bahwa tugas kita di AMSY bukan sekadar mengagumi sejarah, melainkan mewarisi “api” perjuangannya. Seperti kutipan penutup puisi Bang Aspar: “Tidak harus jadi seorang sufi, Angkatan Muda harus tegak kokoh pada pilihan pengabdian untuk bangsa dan negara. Ayo Angkatan Muda, di manapun kalian berada, tunjukkan karyamu, tunjukkan wajahmu, tunjukkan kobaran semangatmu!”
Syekh Yusuf telah mewariskan kecerdasan, keberanian, dan kesucian rohani. Kini, pertanyaannya kembali kepada kita: Adakah api perjuangan itu menyala berkobar di dada kita hari ini?
Melalui momentum 400 tahun ini, mari kita buktikan bahwa Angkatan Muda Syekh Yusuf siap menjadi garda terdepan dalam mengawal benteng keadilan dan memberikan karya nyata bagi Indonesia tercinta.