Arief Rosyid Hasan (Kader Muda Partai Golkar)
Kegiatan Nuzulul Quran di Masjid Syajaratun Thayyibah, DPP Partai Golkar, selalu memiliki nuansa yang berbeda dibandingkan acara keagamaan biasa. Ia bukan sekadar peringatan turunnya Al-Qur’an, tetapi juga ruang refleksi bagi kader tentang makna perjuangan, pengabdian, dan arah masa depan partai. Tahun ini, suasana itu terasa lebih hangat ketika Ketua Umum Golkar, Bahlil Lahadalia, melontarkan kelakar yang cepat menjadi perhatian publik: “Bagi Golkar, Lailatul Qadar itu turun kalau kursi nambah.”
Kelakar itu tentu tidak dimaksudkan sebagai reduksi makna spiritual Ramadan. Sebaliknya, ia adalah metafora politik yang sederhana tetapi tajam. Dalam tradisi Islam, Lailatul Qadr adalah malam yang lebih baik dari seribu bulan—momen ketika keberkahan, pengampunan, dan rahmat Allah terbuka luas bagi mereka yang bersungguh-sungguh beribadah. Ia menjadi simbol kemenangan spiritual setelah perjuangan panjang menahan diri selama Ramadan.
Dalam kehidupan pribadi seorang Muslim, Lailatul Qadr sering dimaknai sebagai titik puncak keberkahan hidup. Ia menjadi momen ketika doa-doa terasa lebih dekat dengan langit, ketika usaha spiritual menemukan jawabannya, dan ketika seseorang merasakan kedamaian batin yang mendalam. Kebahagiaan yang lahir dari Lailatul Qadr bukanlah kebahagiaan material, tetapi kebahagiaan karena merasa berada di jalan yang benar.
Namun dalam dunia politik, terutama dalam organisasi modern seperti partai, ukuran keberhasilan memang harus lebih konkret. Politik tidak hanya diukur dari niat baik atau idealisme semata, tetapi dari hasil yang dapat dilihat oleh publik. Karena itu, ketika Ketua Umum Golkar berseloroh bahwa Lailatul Qadr Golkar adalah bertambahnya kursi, sebenarnya ia sedang mengingatkan sesuatu yang sangat mendasar: kepemimpinan politik harus memiliki ukuran keberhasilan yang jelas.
Partai politik hidup dari kepercayaan rakyat. Ukuran paling nyata dari kepercayaan itu adalah perolehan kursi dalam pemilu. Kursi adalah mandat rakyat yang diterjemahkan dalam sistem demokrasi. Tanpa kursi, gagasan politik tidak memiliki saluran kekuasaan untuk diwujudkan menjadi kebijakan. Karena itu, bagi partai politik, peningkatan kursi bukan sekadar angka statistik, tetapi indikator hidup atau matinya kepercayaan publik.
Dalam perspektif ini, kelakar Bahlil menjadi refleksi kepemimpinan yang jujur. Ia tidak membungkus politik dengan retorika kosong. Ia menyederhanakan pesan kepada kader bahwa kerja politik harus berorientasi pada hasil. Bahwa pengabdian kepada rakyat harus tercermin dalam kemampuan partai memenangkan kepercayaan rakyat.
Di sinilah tanggung jawab seorang ketua umum diuji. Dalam organisasi sebesar Golkar—yang memiliki sejarah panjang dalam perjalanan politik Indonesia—ketua umum tidak hanya berperan sebagai simbol persatuan internal, tetapi juga sebagai arsitek kemenangan politik. Ia harus mampu memastikan bahwa mesin partai bekerja, kaderisasi berjalan, dan strategi politik disusun secara matang.
Golkar sendiri memiliki tradisi panjang dalam hal ini. Sejak awal berdirinya, partai ini dikenal sebagai partai kader yang menempatkan organisasi sebagai kekuatan utama. Tradisi kaderisasi, konsolidasi, dan kerja elektoral selalu menjadi fondasi utama Golkar dalam menghadapi setiap pemilu. Itulah sebabnya, dalam berbagai periode sejarahnya, Golkar mampu mempertahankan posisi sebagai salah satu kekuatan politik terbesar di Indonesia.
Namun zaman terus berubah. Politik hari ini tidak lagi sama dengan politik masa lalu. Pemilih semakin rasional, generasi muda semakin dominan, dan informasi bergerak jauh lebih cepat. Partai tidak cukup hanya mengandalkan nama besar sejarah. Ia harus mampu beradaptasi dengan perubahan zaman, menghadirkan gagasan baru, serta menampilkan kader-kader yang relevan dengan aspirasi masyarakat hari ini.
Dalam konteks ini, pesan yang terkandung dalam kelakar Bahlil sebenarnya lebih dalam dari sekadar humor politik. Ia mengingatkan kader bahwa kemenangan politik adalah hasil dari kerja kolektif yang panjang. Ia lahir dari kaderisasi yang serius, komunikasi politik yang cerdas, dan keberanian menghadirkan solusi bagi persoalan rakyat.
Karena itu, jika Lailatul Qadr bagi individu adalah malam keberkahan yang datang setelah kesungguhan ibadah, maka dalam kehidupan partai, “Lailatul Qadr politik” juga tidak datang secara tiba-tiba. Ia lahir dari kerja panjang: membangun organisasi, menjaga kepercayaan publik, serta menghadirkan kepemimpinan yang kredibel.
Tradisi Nuzulul Quran di DPP Golkar menjadi pengingat bahwa politik dan nilai spiritual tidak harus dipertentangkan. Justru sebaliknya, nilai-nilai Al-Qur’an dapat menjadi sumber etika bagi praktik politik yang lebih bermartabat. Politik yang tidak hanya mengejar kekuasaan, tetapi juga menghadirkan kemaslahatan bagi masyarakat luas.
Pada akhirnya, kursi memang penting bagi partai politik. Tetapi kursi bukanlah tujuan akhir. Ia adalah sarana untuk menghadirkan kebijakan yang berpihak kepada rakyat. Ia adalah jalan untuk memastikan bahwa kekuasaan digunakan bagi kesejahteraan bersama.
Maka jika suatu hari kursi Golkar bertambah, mungkin itulah “Lailatul Qadr politik” yang dimaksudkan oleh Bahlil. Bukan sekadar kemenangan elektoral, tetapi tanda bahwa kerja politik yang dilakukan selama ini mendapat kepercayaan dari rakyat.
Dan seperti dalam ibadah Ramadan, kemenangan itu hanya akan datang bagi mereka yang bekerja dengan sungguh-sungguh.
Baginya (manusia) ada (malaikat-malaikat) yang menyertainya secara bergiliran dari depan dan belakangnya yang menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah apa yang ada pada diri mereka. Apabila Allah menghendaki keburukan terhadap suatu kaum, tidak ada yang dapat menolaknya, dan sekali-kali tidak ada pelindung bagi mereka selain Dia. (QS Ar Ra’d ayat 11)