Sabtu sore, 21 Februari 2026, di NRA Building Mampang, saya mendapat amanah menjadi moderator dalam Buka Puasa bersama BPN IKKG, BPP KKSS, pilar-pilar KKSS, dan warga Gowa di Jabodetabek. Tausyiah Dr. Mukhlis Paeni tentang membumikan nilai kejuangan dan religiusitas Syekh Yusuf terasa bukan sekadar forum Ramadan, melainkan panggilan sejarah.
Sebagai Ketua Umum Angkatan Muda Syekh Yusuf, saya tidak sekadar memandu diskusi. Saya merasakan beban reflektif yang dalam. Nama besar Syekh Yusuf bukan hanya kebanggaan genealogis, melainkan amanah generasi. Setiap kali beliau disebut, kita tidak hanya mengenang masa lalu, tetapi sedang dihadapkan pada standar moral yang tinggi.
Di tengah suasana Ramadan yang hening dan khusyuk, saya merenung bahwa Syekh Yusuf bukan tokoh yang bisa diperlakukan hanya sebagai simbol. Ia adalah cermin kepemimpinan, integritas, dan keberanian moral. Pertanyaannya sederhana namun mendalam: apakah generasi hari ini siap memikul warisan sebesar itu?
Warisan yang Tidak Ringan
Syekh Yusuf lahir di Gowa pada abad ke-17 dan dibentuk oleh tradisi adat, kedalaman ilmu, serta kewiraan. Ia bukan hanya ulama, tetapi intelektual kosmopolitan yang menjelajah Banten, Aceh, Gujarat, Yaman, Mekkah, Madinah, hingga Damaskus, membangun jejaring spiritual global yang melampaui batas geografis dan politik zamannya.
Beliau memperoleh lima ijazah tarekat besar dunia dan diakui sebagai mursyid dalam jaringan tasawuf internasional. Namun kebesarannya tidak berhenti pada kedalaman spiritual. Ia memilih berdiri dalam pusaran konflik politik melawan dominasi kolonial, membuktikan bahwa kesalehan sejati tidak pernah terpisah dari keberpihakan terhadap keadilan.
Ketika ditangkap dan diasingkan ke Ceylon, lalu ke Afrika Selatan, Syekh Yusuf tidak runtuh. Dalam keterasingan ia membangun komunitas, menanamkan nilai kesetaraan, dan menjadi inspirasi perjuangan melawan ketidakadilan. Warisannya bahkan diakui lintas bangsa, menunjukkan bahwa integritas melampaui ruang dan waktu.
Warisan seperti ini bukan warisan simbolik. Ia adalah warisan moral yang menuntut konsistensi. Membawa nama Syekh Yusuf berarti membawa standar integritas yang tinggi, keberanian dalam bersikap, dan kesediaan berkorban demi prinsip. Ia bukan sekadar kebanggaan sejarah, tetapi mandat etis bagi generasi.
Religiusitas Syekh Yusuf membumi karena tidak berhenti pada ritual. Ia menyatu dengan keberanian sosial. Di era modern, ketika agama sering terjebak dalam polarisasi, teladan beliau mengajarkan keseimbangan antara spiritualitas dan tanggung jawab publik. Inilah pelajaran penting bagi generasi muda hari ini.
Syekh Yusuf juga menunjukkan bahwa menjadi global tidak berarti tercerabut dari akar. Ia menjelajah dunia, tetapi tetap membawa identitas Gowa dan nilai-nilai adatnya. Dalam dunia digital yang tanpa batas, generasi muda harus mampu mendunia tanpa kehilangan karakter, adab, dan akar kulturalnya.
Dalam pengasingan pun ia tetap berkarya dan berdakwah. Kondisi sulit tidak membuatnya berhenti memberi manfaat. Ini mengajarkan bahwa keterbatasan bukan alasan untuk menyerah. Justru dalam ruang sempit sekalipun, nilai dapat tumbuh dan membentuk sejarah yang panjang.
Sebagai Ketua Umum Angkatan Muda Syekh Yusuf, saya menyadari bahwa organisasi ini tidak boleh berhenti pada nostalgia. Ia harus menjadi gerakan nilai yang melahirkan generasi spiritual, intelektual, dan berani. Warisan besar hanya bermakna jika diterjemahkan menjadi tindakan konkret dalam kehidupan hari ini.
Ramadan sebagai Momentum
Ramadan adalah bulan penyucian niat dan penataan arah hidup. Membicarakan Syekh Yusuf dalam suasana Ramadan terasa sangat relevan, karena keduanya berbicara tentang transformasi diri. Puasa melatih pengendalian diri, sementara perjuangan beliau menunjukkan bagaimana kekuatan spiritual melahirkan keberanian sosial.
Ramadan mengajarkan disiplin, empati, dan kesetaraan. Nilai-nilai itu juga tercermin dalam perjalanan hidup Syekh Yusuf yang membangun komunitas lintas bangsa dan ras. Dalam dunia yang semakin terfragmentasi, Ramadan mengingatkan kita untuk kembali pada nilai kemanusiaan yang universal.
Buka puasa kemarin bukan sekadar tradisi tahunan. Ia adalah ruang konsolidasi nilai. Diaspora Gowa di Jabodetabek berkumpul bukan hanya untuk berbagi hidangan, tetapi untuk menyambung ingatan kolektif bahwa dari tanah Gowa pernah lahir tokoh yang memengaruhi dua benua.
Ramadan memberi kesempatan untuk memperbaharui komitmen. Jika Syekh Yusuf dahulu melawan kolonialisme fisik, maka generasi hari ini menghadapi kolonialisme bentuk baru berupa ketimpangan ekonomi, krisis moral, dan disinformasi. Perlawanan kita bukan dengan senjata, tetapi dengan ilmu, karakter, dan integritas.
Momentum Ramadan juga mengingatkan bahwa kepemimpinan lahir dari kedalaman batin. Tanpa spiritualitas, kekuasaan mudah tergelincir. Tanpa integritas, organisasi kehilangan arah. Karena itu, Angkatan Muda Syekh Yusuf harus membangun kader yang kuat secara moral dan profesional secara kompetensi.
Menjadi Syekh Yusuf zaman now bukan berarti meniru konteks abad ke-17. Ia berarti menyalakan nilai yang sama dalam zaman berbeda. Religiusitas yang melahirkan keberanian, identitas yang tidak menghalangi keterbukaan, serta integritas yang tidak tunduk pada kepentingan sesaat.
Ketika azan magrib berkumandang sore itu, saya merasakan bahwa refleksi ini bukan akhir, melainkan awal. Warisan tidak boleh berhenti pada seremoni. Ia harus hidup dalam gerakan, dalam kebijakan, dan dalam sikap sehari-hari generasi muda.
Syekh Yusuf tidak dilahirkan untuk sekadar dikenang. Ia adalah api nilai yang harus dijaga. Dari Gowa pernah lahir sosok yang menggetarkan dunia. Kini tanggung jawab kita adalah memastikan bahwa api itu tetap menyala dalam jiwa generasi hari ini.
Ramadan ini menjadi momentum untuk memilih. Apakah kita hanya akan bangga menyebut namanya, atau benar-benar meneladani keberanian dan integritasnya. Saya memilih yang kedua, karena warisan sebesar ini tidak boleh kita sia-siakan begitu saja.