Kemarin, 16 Januari 2026, bertepatan dengan momentum Isra Miraj, kami menyimak sebuah dialektika yang menarik antara Kanda Bahlil dan seniornya, Kanda Yayat Biaro. Jika tidak salah, Kanda Bahlil mengenal Kanda Yayat sekitar tahun 1998/1999, jelang momentum Kongres PB HMI di Jambi.

Dalam diskusi tersebut, Kanda Bahlil menjelaskan tentang tiga fase besar perjalanan negara-negara di dunia. Fase pertama adalah fase ideologi, ketika negara sibuk mendefinisikan jati diri dan arah nilai. Fase kedua adalah fase ekonomi, saat pertumbuhan, distribusi, dan kesejahteraan menjadi pusat perdebatan.

Dan kini, kita memasuki fase ketiga: fase survival. Fase survival ini tercermin jelas dari dinamika global hari ini—ketika banyak negara lebih mengutamakan kepentingan nasionalnya sendiri, bahkan sering kali mengorbankan solidaritas kawasan maupun kerja sama internasional.

Kanda Yayat Biaro, yang juga membersamai Kanda Bahlil dalam pertarungan di AMPI tahun 2010, melengkapi diskusi tersebut dengan beragam referensi historis dan pengalaman praksis. Namun yang paling menarik dari refleksi Kanda Yayat, khususnya dalam konteks Isra Miraj, adalah satu catatan penting: Kanda Bahlil dinilai telah berada dalam fase “melompat.”

Melompat—bukan sekadar naik jenjang, tetapi melampaui batas yang dulu terasa mustahil. Tak pernah terbayangkan sebelumnya, seorang aktivis muda dari Papua yang datang ke Jakarta untuk berjuang, kini menjelma menjadi tokoh politik yang sangat berpengaruh di Indonesia. Sebuah perjalanan yang bukan hanya soal karier, tetapi tentang transformasi diri, keikhlasan, dan keberanian.

Dalam semangat Isra Miraj, lompatan itu bukan semata-mata perjalanan fisik atau jabatan, melainkan perjalanan kesadaran—dari pinggiran menuju pusat, dari aktivisme menuju kenegarawanan.