Tiada hari tanpa berpikir kritis sejak saya menjadi peserta P3N Lemhannas. Selain perjumpaan fisik melalui berbagai materi yang menarik, tugas-tugas ‘take home’ yang diberikan oleh para mentor maupun pengelola program, juga tak kalah intens. 

Pekan lalu, kami diminta untuk mengerjakan sebuah paper. Saya pun menulis dan mengulas mengenai Pemuda, STEM (sains, teknologi, teknik, dan matematika), serta kaitannya dengan kesehatan mental. Tujuan pembangunan berbasis STEM ini diarahkan untuk membangun ekosistem pembelajaran positif demi ketahanan sosial-budaya. 

Dibanding ketahanan pangan dan energi, ketahanan sosial-budaya cenderung belum naik ke permukaan. Diskursus mengenai ketahanan sosial-budaya belum banyak dikemukakan, kemungkinan besar karena publik (maupun pemerintah), memang harus memiliki skala prioritas mengenai ‘basic needs’ yang perlu diselesaikan sehingga memiliki dampak ke sektor lainnya. 

Saya menyadur ⁠Hasil Indeks Ketahanan Nasional 2023–2024: Gatra Sosial Budaya masih “kurang tangguh”. Selain itu, indikator lemah terjadi pada area: kerukunan sosial, nilai tradisional, perilaku sosial, dan manfaat Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK). Kemudian, kesehatan mental juga belum menjadi sub-indikator ketahanan. Terakhir, stigma gangguan mental menurunkan partisipasi dan solidaritas sosial pemuda. 

Dari latar belakang tersebut, sebenarnya isu pemuda, STEM, dan ketahanan sosial memiliki relevansi terhadap Asta Cita ke-4 serta RPJPN 2025-2045.

Oleh karenanya, saya mengusulkan arah kebijakan yakni integrasi STEM dengan pendekatan humanistik, serta kurikulum yang terkait dengan tujuan menumbuhkan empati dan kesejahteraan psikologis. Saya juga mengusulkan dorongan untuk meningkatkan literasi kesehatan mental bagi pemuda, serta dukungan bagi komunitas gotong royong yang menjadi salah satu pilar dalam ketahanan sosial-budaya. 

Memantik sensitivitas terhadap isu kekinian dan menguji pemikiran kritis dan wawasan memang adalah salah satu peranan penting Lemhannas. Yang cukup jarang diketahui publik, selain menjadi kampus untuk para pemimpin nasional, Lemhannas juga bertugas untuk membuat kajian-kajian strategis untuk dijadikan bahan pertimbangan pemerintah atau pemangku kepentingan yang relevan. 

Semoga segores tinta dan gagasan tentang Pemuda dan STEM tadi kelak menjadi salah satu kajian strategis dengan implementasi taktis dan mampu mendorong capaian menuju Indonesia Emas 2045.