Akhir pekan baru saja berakhir. Momen akhir pekan biasanya kita manfaatkan untuk liburan, menghadiri pernikahan, atau rutinitas lain yang lebih rileks dan menyenangkan.
Kebetulan sekali, Sabtu (19/07) kemarin, saya mendapat undangan Gubernur NTT, Bang Melki Laka Lena untuk hadir di Festival Gawi Sia di Taman Mini Indonesia Indah.
Senang sekali berada di momen kebudayaan dan ke-Indonesiaan ini, dan melihat langsung keragaman budaya kita.
Festival Gawi Sia adalah sebuah festival budaya khas dari Nusa Tenggara Timur (NTT), khususnya dari daerah Ende Lio. Festival tersebut adalah sebuah ritual budaya yang sangat penting dan memiliki makna mendalam.
Tarian Gawi, yang menjadi inti dari festival ini, berasal dari Suku Lio di Pulau Flores, Kabupaten Ende dan Sikka. Nama “Gawi” berasal dari kata “Ga” (segan/sungkan) dan “Wi” (menarik), yang bisa diartikan sebagai “menyatukan diri” atau “berkumpul bersama”.
Gawi sering digunakan dalam upacara adat seperti “Penti” (upacara syukur panen) dan ritual penting lainnya. Festival ini menjadi ruang kebersamaan untuk menari, bernyanyi, dan menyuarakan pesan-pesan sosial. Tarian Gawi sendiri melambangkan persatuan, kebersamaan, dan siklus kehidupan.
Beberapa orang juga meyakini bahwa nilai-nilai dalam Gawi Sia menjadi inspirasi bagi Soekarno dalam merumuskan Pancasila, yang menjadikan Ende sebagai “Kota Pancasila”.
Terima kasih undangannya, Bang Melki, dan salam hangat untuk saudara-saudara warga NTT di manapun berada.