Arief Rosyid Hasan (Wakil Ketua Umum DPP AMPI)
Dalam suatu pidato politik yang menyentuh dan penuh makna di Kongres PSI, Presiden Prabowo Subianto menyampaikan pesan mendalam:
“Boleh cita-citamu menjadi politisi. Tetapi lebih mulia, lebih hebat, lebih gagah kalau saudara lebih dari politisi. Saudara menjadi pejuang politik.”
Pernyataan ini bukan sekadar retorika. Ia adalah panggilan nurani bagi siapa pun yang memasuki ruang politik dengan kesadaran bahwa jabatan bukanlah tujuan akhir, melainkan alat untuk memperjuangkan keadilan, kejujuran, dan kebaikan bersama. Prabowo menegaskan bahwa politik yang sejati adalah jalan perjuangan: untuk rakyat, bukan sekadar untuk diri sendiri.
Sebagai generasi muda yang kini bergabung di AMPI dan Partai Golkar, saya menangkap seruan itu sebagai ajakan untuk berjuang lebih keras. Untuk melampaui ambisi pribadi, ikut menghadirkan politik yang berpihak kepada kaum kecil dan tertindas, kepada orang-orang muda yang jauh dari akses kebijakan publik.
Golkar Baru: Jalan Terbuka untuk Orang Muda dari Rakyat Biasa
Di tengah apatisme orang muda terhadap politik, Partai Golkar di bawah kepemimpinan Ketua Umum Bahlil Lahadalia menghadirkan angin perubahan. Sebagai sosok yang berasal dari rakyat biasa, dari kampung kecil di Papua dan pernah aktif sebagai Ketua Umum HIPMI, Bahlil memahami betul betapa politik seharusnya menjadi jalan mobilitas sosial yang inklusif.
Transformasi Golkar hari ini nyata. Bukan hanya membuka ruang bagi elite, tetapi juga mengajak orang-orang muda dari berbagai latar belakang untuk masuk, berproses, dan berkontribusi. Termasuk mereka yang lahir dari rahim gerakan—kelompok Cipayung, para pemimpin BEM, dan komunitas muda akar rumput yang punya semangat perubahan.
Saya sendiri lahir dari dunia aktivisme. Pernah memimpin organisasi mahasiswa Islam terbesar, terlibat dalam gerakan pemberdayaan orang muda, dan mendorong berbagai inisiatif sosial-ekonomi di tengah masyarakat. Ketika saya masuk ke politik, saya membawa serta semangat itu: bahwa politik bukanlah akhir dari perjuangan, tetapi perluasan dari makna perjuangan itu sendiri.
Menjadi Pejuang Politik: Seruan Zaman untuk Generasi Muda
Politik masa depan bukan lagi milik segelintir elit, tapi milik kita semua—orang-orang muda yang mau bekerja untuk rakyat, bukan hanya bicara di ruang seminar. Kita membutuhkan lebih banyak politisi yang punya akar, bukan sekadar yang punya gelar. Kita butuh pejuang, bukan sekadar pengincar jabatan.
Komitmen Ketua Umum Bahlil Lahadalia dalam berbagai kesempatan bahwa sebagai penduduk mayoritas, orang muda harus dilibatkan secara penuh dalam aktivitas politik, karena segala hal yang terkait mulai dari lahir sampai mati, tidur, bangun, kerja, nongkrong ngopi di cafe, harga dan keamanan skincare, harga paket pulsa, game online, kemudahan berusaha, modal kerja, dan lain-lain diputuskan melalui kebijakan publik atau jalur politik.
Sejalan dengan itu, seruan Presiden Prabowo diawal adalah penanda zaman: bahwa kita membutuhkan semakin banyak orang muda yang menjadi pejuang politik. Berjuang untuk politik yang bernurani, politik yang membela rakyat kecil, dan politik yang dijalani dengan keberanian serta ketulusan. Saya percaya, jika generasi muda hari ini menjawab tantangan itu, maka masa depan Indonesia akan berada di tangan yang tepat. Semoga!