Sepertinya belum banyak yang tahu, bahwa hilirisasi adalah salah satu program strategis yang masih berlanjut di pemerintahan Pak Prabowo dan Mas Gibran. Dalam konteks Asta Cita, hilirisasi bahkan melingkupi dua poin sekaligus.
Selain program, hilirisasi juga diupayakan melalui pendekatan kelembagaan. Oleh karena itu, presiden membentuk Satgas Percepatan Hilirisasi dan Transisi Energi. Satgas ini beranggotakan para pemimpin lintas kementerian. Sebab, hilirisasi memang tak hanya urusan hilirisasi mineral, batu bara, minyak, dan gas, tetapi juga ke cabang-cabang industri lain, yakni pertanian, perikanan, hingga industri digital.
Membumikan hilirisasi, atau memperkuat pemahaman orang muda dengan hilirisasi lewat ‘bahasa bayi’, adalah pendekatan yang kami terapkan pada Rembuk Energi dan Hilirisasi 2025, yang telah berlangsung pada Rabu, 10 Desember lalu.
Ide kami ini mendapat dukungan oleh Sekretaris Satgas Hilirisasi, Prof. Ahmad Erani Yustika dan tim. Bersama tim yang dipimpin Bang Bahlil Lahadalia sebagai Ketua Satgas/Menteri ESDM, tim Satgas Hilirisasi telah 11 bulan berkeliling Indonesia. Fokus mereka adalah masuk ke kampus-kampus, menggalang diskursus bersama sivitas akademika, serta menjalin kolaborasi riset bersama kampus atau lembaga yang relevan.
Kami melalui Inisiatif Daulat Energi (IDE), merasa bahagia dapat menjalin kolaborasi bersama Satgas Hilirisasi lewat kegiatan Rembuk Energi dan Hilirisasi yang lalu. Beberapa narasi pada kegiatan tersebut dianggap beberapa pihak telah sukses memotret bahasa bayi dari peristilahan hilirisasi, hingga membuat produk-produk hasil hilirisasi lebih mudah dimengerti karena sesungguhnya dekat dengan kehidupan kita.
Dari kegiatan itu pula, saya pribadi semakin terpacu untuk mendalami bagaimana orang muda lebih luas lagi peranannya. Tanpa orang muda ikut dalam agenda besar ini, akan sulit bagi kita semua untuk mencapai pertumbuhan ekonomi. Data sudah menunjukkan, dengan hilirisasi pada periode lalu, pendapatan negara terkerek signifikan, serta yang penting, kita tak lagi menjual tanah dan air, tetapi membuat hasil alam kita bernilai tinggi.
PR kita bersama ke depan, bagaimana hilirisasi ini benar-benar kita jaga tata kelola sosial dan lingkungannya. Sehingga, kita berharap, efek samping kegiatan yang melibatkan alam, bisa kita mitigasi ke depan.
Sekali lagi, terima kasih kepada Satgas Hilirisasi, serta seluruh pihak yang terlibat untuk suksesnya Rembuk Energi dan Hilirisasi 2025.
Salam hormat!