Operasional perusahaan nikel yang juga anak perusahaan ANTAM, PT Gag langsung dihentikan sementara oleh Menteri ESDM Bahlil Lahadalia. Penghentian sementara ditempuh untuk segera mengevaluasi operasional perusahaan tersebut. 

Langkah cepat ini disertai kunjungan langsung Menteri Bahlil ke Pulau Gag, di Papua Barat Daya. Bahlil yang besar di Papua menampakkan sensitivitasnya terhadap perhatian publik yang luas usai foto dari teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence – AI) mengguncang dunia maya dan lahir tagar untuk menyelamatkan Raja Ampat dari pertambangan nikel. 

Saya pun pada Minggu pagi mengunggah beberapa konten dengan nuansa yang berbeda dengan publik kebanyakan: kawasan konservasi Raja Ampat masih baik-baik saja. 

Bahwa operasional pertambangan nikel letaknya puluhan kilometer dari area konservasi Raja Ampat, yang sering kita nikmati keindahannya sebagai salah satu lokasi pariwisata unggulan Indonesia. 

Selain itu, dari sumber yang berbeda, dengan judul “Menelusuri Raja Ampat Lewat Mata Satelit, Apa yang Terlihat?”. Unggahan dari Fadhillah Rizki itu menyimpulkan, aktivitas pertambangan nikel berlangsung secara bertanggung jawab dan tetap menjaga keanekaragaman hayati, baik di daratan maupun di perairan terdekat. 

Sekali lagi, mari adil sejak dalam pikiran. Perubahan menuju kemajuan memang akan selalu menanggung protes dari pihak-pihak yang konvensional. Hilirisasi memang tak mudah, dan butuh banyak ‘effort’ agar bangsa ini mencapai ‘purpose’ dari kebijakan tersebut. 

Di sisi lain, jika di kemudian hari mudarat dari tambang-tambang maupun aktivitas manusia yang masif lebih besar dari manfaatnya, maka kita dorong agar regulasi adil diterapkan demi nusa dan bangsa kita tercinta. 

Salam hangat, jangan lupa ngopi di Senin pagi 🙂