Jumat lalu saya menerima amanah sebagai Sekretaris Jenderal DPP Angkatan Muda Pembaharuan Indonesia (AMPI).

Saya bersyukur atas kepercayaan tersebut. Namun bagi saya, jabatan bukanlah garis akhir, melainkan titik awal untuk bekerja lebih keras. Amanah organisasi hanya akan memiliki makna apabila segera diterjemahkan menjadi gerakan, kolaborasi, dan karya nyata.

Karena itu, saya tidak ingin momentum ini berhenti pada seremoni pelantikan ataupun pemberitaan mengenai penyegaran kepengurusan. Saya justru ingin memastikan bahwa sejak hari pertama, AMPI mulai bergerak membuka ruang-ruang kolaborasi baru.

Tidak menunggu lama setelah penunjukan tersebut, kami langsung menggelar silaturahmi informal dengan Majlis Belia Malaysia (MBM) di Jakarta. Pertemuan itu menjadi langkah awal memperkuat diplomasi kepemudaan Indonesia–Malaysia sekaligus mematangkan penyelenggaraan Kuala Lumpur–Jakarta Nusantara Youth Nexus (KLJ Nexus) yang akan berlangsung pada 7–9 Agustus 2026.

KLJ Nexus mengusung tema One Region, One Generation, One Future. Sebagai organisasi payung kepemudaan di Malaysia, MBM memiliki posisi strategis yang setara dengan KNPI, sehingga kolaborasi ini membuka peluang yang sangat baik untuk mempererat hubungan generasi muda kedua negara.

Dalam pertemuan tersebut, kami berdiskusi mengenai berbagai tantangan yang sedang dihadapi kawasan ASEAN. Mulai dari transformasi digital, perubahan lanskap ketenagakerjaan, kebutuhan mencetak pemimpin muda yang adaptif, hingga dinamika geopolitik yang semakin kompleks.

Saya menyampaikan bahwa geopolitik ASEAN tidak lagi hanya menjadi urusan diplomat ataupun pemerintah. Generasi muda juga harus memahami arah perubahan kawasan, karena masa depan ASEAN akan sangat ditentukan oleh kualitas kepemimpinannya.

Kolaborasi kepemudaan hari ini tidak cukup hanya berbicara mengenai pertukaran kunjungan ataupun kegiatan seremonial. Yang jauh lebih penting adalah bagaimana anak-anak muda mampu menghadirkan gagasan strategis, membangun jejaring lintas negara, dan bersama-sama menawarkan solusi bagi masa depan kawasan.

Bagi saya, inilah makna sebuah organisasi kepemudaan.

Organisasi harus mampu mempertemukan orang-orang baik, memperluas jejaring, memperkaya perspektif, dan melahirkan kerja sama yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Hal inilah yang ingin kami bangun di DPP AMPI.

Beberapa hari terakhir, banyak pemberitaan menyoroti revitalisasi kepengurusan DPP AMPI yang menghadirkan tokoh-tokoh muda dari berbagai latar belakang organisasi kepemudaan, termasuk unsur Cipayung Plus. Saya melihat langkah tersebut bukan sekadar penyegaran struktur, melainkan upaya memperluas ruang kolaborasi bagi generasi muda Indonesia.

Namun, saya memiliki harapan yang lebih besar daripada sekadar membentuk kepengurusan baru.

Saya ingin AMPI menjadi rumah yang mampu menarik semakin banyak anak muda untuk berkarya.

Masih banyak anak muda yang memandang politik hanya dari apa yang mereka lihat di media sosial, penuh perdebatan, konflik, dan saling menyerang. Padahal, politik memiliki fungsi yang jauh lebih mendasar daripada itu.

Politik adalah ruang tempat berbagai kepentingan publik dipertemukan.

Di dalamnya, aspirasi masyarakat dihimpun, diperdebatkan, diprioritaskan, lalu diperjuangkan menjadi kebijakan.

Setiap gagasan mengenai pendidikan yang lebih baik, lapangan pekerjaan yang lebih luas, ekonomi yang lebih inklusif, atau pelayanan publik yang lebih berkualitas, pada akhirnya membutuhkan proses politik agar dapat berubah menjadi keputusan yang mengikat dan memberi manfaat bagi masyarakat.

Di sinilah partai politik memiliki peran yang sangat penting.

Partai politik bukan sekadar kendaraan untuk mengikuti pemilu. Ia adalah institusi demokrasi yang bertugas mengagregasi aspirasi masyarakat. Berbagai suara dari daerah, komunitas, kampus, organisasi profesi, hingga kelompok-kelompok anak muda dikumpulkan, disusun menjadi agenda perjuangan, kemudian dibawa ke ruang-ruang pengambilan keputusan di parlemen maupun pemerintahan.

Tanpa proses tersebut, banyak gagasan baik akan berhenti menjadi percakapan. Banyak aspirasi akan berhenti menjadi keluhan. Banyak kritik tidak pernah menemukan jalannya menjadi kebijakan.

Karena itu, saya selalu mengajak anak-anak muda untuk tidak hanya menjadi penonton demokrasi.

Masuklah ke ruang-ruang pengabdian. Masuklah ke organisasi. Masuklah ke partai politik.

Bawalah kompetensi, integritas, pengalaman profesional, dan keberanian untuk bekerja bersama orang-orang yang mungkin berbeda pandangan. Demokrasi justru tumbuh karena adanya dialog, kolaborasi, dan kesediaan mencari titik temu demi kepentingan yang lebih besar.

Saya percaya, perubahan ke arah yang lebih baik tidak lahir hanya dari kritik. Perubahan juga membutuhkan orang-orang yang bersedia masuk ke dalam sistem, memperbaikinya dari dalam, serta menghadirkan solusi yang dapat diwujudkan menjadi kebijakan.

Harapan saya sederhana.

Semoga DPP AMPI dapat menjadi rumah yang terbuka bagi siapa pun anak muda Indonesia yang ingin berkontribusi. Rumah yang tidak hanya melahirkan aktivis, tetapi juga pemimpin. Tidak hanya membangun jaringan, tetapi juga membangun kapasitas. Tidak hanya memperjuangkan aspirasi, tetapi juga mampu mengubah aspirasi itu menjadi karya nyata bagi bangsa.

Sebab pada akhirnya, politik bukanlah tujuan. Politik adalah ruang untuk berkarya.

AMPI, Jaya!