Bersama para senior, perwira tinggi, akademisi, dan profesional dari berbagai angkatan, saya berkesempatan menghadiri Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I DPP IKAL-Lemhannas Periode 2026-2031 yang diselenggarakan pada tanggal 18 Juli 2026 di Bandung.
Duduk di tengah-tengah forum para pemikir strategis bangsa ini menghadirkan rasa syukur bagi saya. Sebagai alumni muda yang dipercaya oleh Ketua Umum DPP IKAL-Lemhannas, Prof. Purnomo Yusgiantoro, Ph.D., untuk mengemban amanah sebagai Wakil Ketua Bidang Kesehatan dan Sosial Budaya, saya memandang tanggung jawab ini dengan penuh rasa hormat dan kerendahan hati.
Amanah ini adalah panggilan untuk belajar lebih banyak dari para senior sekaligus wadah mengabdi demi menjaga teguhnya marwah ketahanan nasional.
Rakernas I ini dibuka secara khidmat oleh Prof. Purnomo Yusgiantoro didampingi oleh Gubernur Lemhannas RI, Kanda Ace Hasan Syadzili. Dalam arahan dan visi strategisnya, Prof. Purnomo menekankan tiga langkah fundamental organisasi ke depan: memperkuat konsolidasi internal, mendukung keberlanjutan almamater Lemhannas, serta memberikan kontribusi riil bagi kepentingan bangsa dan negara.
Rakernas I di Bandung ini berhasil menelurkan Komunike Rakernas I DPP IKAL-Lemhannas yang memuat tujuh poin makro komitmen bersama. Dokumen strategis ini menegaskan posisi IKAL-Lemhannas sebagai mitra pemikiran strategis (think tank) pemerintah yang bertugas menjembatani sinergi antara pemerintah, pebisnis, akademisi, dan masyarakat luas.
Melalui Komunike Bandung, organisasi secara bulat menyatakan komitmennya untuk mendukung penuh pelaksanaan Asta Cita Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto demi mewujudkan cita-cita Indonesia Emas 2045. Dukungan ini diwujudkan melalui pemberian kontribusi pemikiran strategis, penguatan kualitas kepemimpinan nasional, tata kelola pemerintahan yang baik, serta penguatan otonomi daerah yang sejalan dengan kepentingan nasional.
Sebagai alumni dari rumpun Program Pendidikan Pemantapan Pimpinan Nasional (P3N), saya melihat relevansi yang amat kuat dalam poin penguatan sumber daya manusia melalui literasi geopolitik. Di era transformasi global yang multipolar ini, metodologi pembelajaran nilai-nilai kebangsaan kini mulai mengintegrasikan unsur digital guna menjangkau Gen Z dan Milenial yang membentuk sekitar 60% populasi Indonesia.
Di jajaran pengurus pusat, tugas saya di Bidang Kesehatan dan Sosial Budaya memiliki kaitan erat dengan pilar modal sosial dan ketahanan non-fisik bangsa. Berdasarkan draf pemikiran kebijakan jaminan kesehatan nasional yang saya teliti di FKM UI, kesehatan masyarakat dan integrasi budaya adalah bentuk ketahanan nasional yang paling mendasar. Sesuai instruksi Rakernas, seluruh bidang akan segera bergerak menjabarkan rencana program lima tahun menjadi target tahunan yang konkret serta melakukan sinkronisasi anggaran guna menghindari tumpang tindih program.
Namun, di atas seluruh program kerja fisik tersebut, hal paling mendasar yang ditekankan dalam Rakernas kemarin adalah tentang keteladanan watak. Pimpinan Lemhannas memberikan pengingat keras bahwa alumni IKAL-Lemhannas wajib menjaga integritas tinggi dan menjunjung etika publik.
Menutup catatan dari Bandung ini, mari kita resapi kembali semboyan abadi almamater Lemhannas, “Tan Hana Dharma Mangrwa”, bahwa tiada pengabdian yang mendua. Di mana pun alumni Lemhannas berada, mari kita menjadi perekat persatuan dan garda terdepan dalam menjaga kepentingan nasional. Selamat memulai pekan yang produktif!