Pekan ini saya berkesempatan ikut berdiskusi bersama keluarga besar LP3ES di Akademi Partai Golkar.
Bagi saya, pertemuan ini terasa istimewa. Bukan semata karena mempertemukan dua institusi, tetapi karena mempertemukan dua tradisi yang sama-sama percaya bahwa politik yang baik harus bertumpu pada ilmu pengetahuan.
Dalam diskusi tersebut kami kembali mengingat akar sejarah Partai Golkar. Sejak awal, Golkar dibangun di atas tiga pilar utama: kekuatan politik, kekuatan ekonomi atau kekaryaan, serta kekuatan akademik.
LP3ES pun memiliki perjalanan sejarah yang beririsan dengan fase awal pembangunan nasional, sehingga pertemuan ini menjadi ruang untuk menghidupkan kembali tradisi berpikir yang selama ini menjadi fondasi lahirnya banyak kebijakan publik.
Saya meyakini bahwa partai politik dan aktivis harus selalu lekat dengan kehidupan akademik. Mengapa?
Karena studi, riset, dan data sejatinya adalah kepingan-kepingan suara rakyat yang disusun secara sistematis. Tidak semua persoalan masyarakat terdengar keras di ruang publik, tetapi banyak yang dapat dibaca melalui penelitian, statistik, maupun kajian kebijakan.
Karena itulah saya menyambut baik arah pengembangan Akademi Partai Golkar. Akademi ini tidak hanya diproyeksikan sebagai tempat kaderisasi formal, informal, dan nonformal, tetapi juga berkembang menjadi think tank yang menghasilkan riset, menyusun modul kaderisasi, dan memberikan masukan konseptual bagi pembangunan nasional.
Yang membuat saya semakin optimistis adalah komitmen kolaborasi yang dibangun bersama LP3ES. Ada empat agenda besar yang kami sepakati untuk dikerjakan bersama.
Pertama, mengembangkan Sekolah Kebangsaan, sebuah ruang belajar yang membekali calon pemimpin dengan pemahaman mengenai filsafat, sejarah bangsa, moral publik, hingga tantangan lingkungan hidup.
Kedua, menyelenggarakan diskusi rutin dan podcast agar gagasan-gagasan akademik tidak berhenti di ruang seminar, tetapi menjangkau generasi muda melalui media digital.
Ketiga, mengembangkan Jurnal Karya, sebuah publikasi ilmiah yang diharapkan menjadi wadah lahirnya ide, analisis, dan pemikiran kader maupun para intelektual mengenai pembangunan Indonesia.
Keempat, memperkuat riset bersama mengenai berbagai isu strategis sebagai dasar penyusunan kebijakan publik yang lebih berkualitas.
Bagi saya, empat agenda tersebut memiliki satu benang merah: mengembalikan tradisi politik berbasis pengetahuan.
Dalam beberapa tahun terakhir, kita sering melihat bagaimana perdebatan politik berlangsung sangat cepat, tetapi tidak selalu diiringi oleh kedalaman analisis. Padahal, kualitas kebijakan sangat ditentukan oleh kualitas pengetahuan yang melandasinya.
Saya percaya, setiap karya kekaryaan harus bertumpu pada fakta. Setiap keputusan politik seharusnya berangkat dari pemahaman yang utuh terhadap realitas di lapangan. Karena itu, membangun budaya membaca, berdiskusi, meneliti, dan menulis di lingkungan partai bukanlah pelengkap, melainkan kebutuhan.
Harapan saya sederhana. Semoga Akademi Partai Golkar dapat menjadi rumah bagi tumbuhnya kader-kader yang bukan hanya piawai berpolitik, tetapi juga memiliki kapasitas intelektual, kemampuan teknokratis, dan keberanian menghadirkan solusi berbasis data bagi Indonesia.
Karena pada akhirnya, politik yang baik bukan sekadar tentang memenangkan pemilu, melainkan tentang memenangkan masa depan melalui ilmu pengetahuan.