Sejak kabar duka itu datang beberapa hari lalu, media sosial saya seolah dipenuhi oleh koneksi algoritma kenangan. Beranda Instagram dan Facebook terus menampilkan postingan duka, doa, serta cerita-cerita kebaikan tentang almarhum Kanda Airlangga Pribadi. Setiap unggahan menjadi saksi betapa luas jejak pemikiran dan kebaikan yang beliau tinggalkan bagi kita semua.
Kamis pagi (10/9) pukul 08.00 WIB, saya menanti kedatangan jenazah almarhum di TPU Pondok Ranggon. Di sela waktu menunggu, saya berjalan mencari angin segar di pinggir hamparan pemakaman. Di sana, saya melihat Kanda Taufik Hidayat (Ketua Umum PB HMI 1995–1997) sedang duduk sendirian.
Saya mengingat, dari sekian banyak forum di Pondok Bambu, kediaman Kanda Fachry Ali, Kanda Angga sering hadir sebagai panelis. Pemikirannya yang amat dalam dan tajam tentang Bung Karno seringkali membuat orang berbisik atau spontan berteriak, “Beliau ini lebih Soekarnois dibanding GMNI!” Guyonan ini bahkan sempat terlontar langsung dari Mas Hasto Kristiyanto saat disertasinya dibahas hingga larut malam di kediaman Kanda Fachry Ali.
Itulah kesan mendalam tentang Kanda Angga. Bahkan hingga wafatnya, masih ada yang bertanya-tanya, apakah almarhum benar-benar alumni HMI dan bukan GMNI? Pertanyaan itu makin membuktikan bahwa kader HMI berada di mana-mana. Sejak awal doktrinnya, menjadi Islam tidak berarti harus tertutup, melainkan terbuka dengan segala corak pemikiran dan totalitas berjuang di ladang pengabdian masing-masing.
“Hidupkanlah HMI, Jangan Mencari Hidup di HMI”
Saya pribadi pertama kali berinteraksi langsung dengan Kanda Angga tepat 7 tahun lalu, pada 4 September 2019. Saat itu, Kanda Fachry Ali meminta saya mengundang beliau sebagai narasumber dalam tasyakuran usia saya ke-33 sekaligus launching buku di kawasan Menteng.
Di atas panggung diskusi maupun seminar, Kanda Angga selalu berapi-api. Beliau kerap gelisah melihat fenomena umat Islam yang mengidap majority with minority mentality, alias jumlah umat sangat besar, namun kerap terpinggirkan secara sosial, ekonomi, politik, hingga pendidikan.
Namun, di luar panggung wacana, ada satu pesan beliau saat kami duduk ngopi santai yang sangat membekas di benak saya hingga hari ini. Beliau menekankan pentingnya menjaga roh kaderisasi:
“Jangan nyari uang, jangan nyari hidup, dan jangan bergantung pada HMI. Tapi hidupkanlah HMI.”
Menghidupkan HMI bagi beliau berarti menghidupkan Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) serta merawat kesetiaan pada komitmen keumatan dan kebangsaan.
Kembali ke pemakaman hari itu. Kanda Budhi Utomo (alumni HMI ITS) bercerita bahwa sejak masa kuliah di FISIP Unair, Kanda Angga memang dikenal gandrung berdiskusi dan selalu membawa isu-isu nasional untuk dipertajam di Jawa Timur. Meski secara struktural kiprahnya di organisasi berhenti di tingkat komisariat, Kanda Angga adalah cermin ideal kader dan alumni HMI.
Beliau membuktikan bahwa berkontribusi tidak harus selalu berada di struktur teratas. Di mana pun berada, beliau setia berkiprah sebagai insan cita yang utuh: insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur yang diridhoi Allah SWT.
Selamat jalan, Kanda Angga.
Terima kasih atas syiar ilmu, keteladanan, dan kehangatan persaudaraan yang telah diwariskan. Semoga Almarhum husnul khotimah, keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan, dan kita mampu melanjutkan berbagai kebaikan yang telah beliau tanam.
Lahul Fatihah…