Ramadan selalu menghadirkan ruang refleksi yang lebih luas dari sekadar ibadah personal. Ia juga menghadirkan ruang untuk merenungkan perjalanan umat, bangsa, dan peradaban. Suatu malam di Masjid At-Taqwa UMJ, saya berkesempatan mengikuti pengajian Ramadan yang dihadiri Rektor Ma’mun Murod, Wakil Rektor, serta civitas akademika Universitas Muhammadiyah Jakarta. Narasumbernya adalah Hajriyanto Thohari, seorang intelektual yang oleh Prof. Ma’mun dijuluki “perpustakaan berjalan” karena kemampuan dan keluasan bacaan.
Sebagai seseorang yang hidup di persimpangan dunia akademik, aktivisme organisasi, dan politik, saya merasa ceramah itu tidak sekadar tausiyah Ramadan biasa. Ia terasa seperti kuliah singkat tentang peradaban. Mas Hajri mengajak kami memikirkan kembali satu konsep penting: spirit keunggulan. Menurutnya, setiap peradaban besar memiliki keyakinan kolektif bahwa mereka memiliki misi historis untuk unggul dan memimpin dunia.
Bangsa Amerika memiliki konsep American exceptionalism, keyakinan bahwa mereka memiliki mandat sejarah untuk menjadi bangsa pemimpin dunia. Dalam tradisi Yahudi terdapat konsep chosen people, bangsa pilihan yang merasa memiliki peran khusus dalam perjalanan sejarah manusia. Keyakinan seperti ini bukan sekadar konsep teologis, tetapi menjadi energi sosial yang membentuk mentalitas maju sebuah bangsa.
Lalu bagaimana dengan umat Islam? Dalam Al-Qur’an, umat Islam disebut sebagai khairu ummah, umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia. Allah SWT berfirman dalam QS Ali Imran ayat 110:
“Kuntum khaira ummatin ukhrijat lin-nāsi ta’murūna bil-ma‘rūfi wa tanhauna ‘anil-munkari wa tu’minūna billāh.”
“Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia: menyuruh kepada yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.”
Ayat ini tidak hanya menyebutkan identitas umat Islam sebagai umat terbaik, tetapi juga menjelaskan syaratnya. Keunggulan itu tidak datang begitu saja. Ia harus diwujudkan melalui komitmen moral, keberanian sosial, dan iman yang hidup dalam tindakan nyata.
Namun refleksi Mas Hajri mengajukan pertanyaan yang menggugah: jika konsep keunggulan itu sudah jelas dalam ajaran Islam, mengapa dalam realitas global hari ini umat Islam sering kali tertinggal dalam banyak bidang?
Pertanyaan ini terasa sangat relevan bagi dunia kampus. Universitas pada dasarnya adalah ruang pembentukan keunggulan. Dalam sejarah Islam, pusat-pusat peradaban lahir dari tradisi ilmu pengetahuan yang kuat. Baghdad, Cordoba, dan berbagai pusat ilmu klasik Islam menjadi bukti bahwa kejayaan umat pernah dibangun di atas budaya membaca, menulis, dan berpikir yang kuat. Keunggulan peradaban tidak lahir dari retorika, tetapi dari disiplin intelektual yang panjang.
Mas Hajri juga menyinggung satu fakta menarik: di beberapa negara Timur Tengah, institusi pendidikan unggul justru banyak dibangun oleh lembaga misionaris Kristen. Di Lebanon, Suriah, hingga Yordania, sekolah dan universitas yang didirikan oleh misi Kristen melahirkan banyak pemimpin politik dan intelektual di kawasan tersebut. Pendidikan, dalam banyak kasus, menjadi instrumen paling efektif dalam membangun pengaruh peradaban.
Bagi saya, refleksi ini terasa sangat relevan tidak hanya sebagai dosen, tetapi juga sebagai aktivis organisasi dan bagian dari dinamika politik nasional. Dalam pengalaman berorganisasi dan berpolitik, saya melihat bahwa keunggulan sebuah bangsa tidak lahir secara tiba-tiba. Ia dibangun melalui ekosistem pendidikan, kepemimpinan, serta budaya meritokrasi yang memberi ruang bagi generasi muda untuk tampil dan berkontribusi.
Dalam konteks kebangsaan Indonesia, spirit keunggulan itu juga berkaitan erat dengan pembangunan sumber daya manusia. Negara membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas moral dan semangat pengabdian. Tanpa itu, pembangunan hanya akan menghasilkan kemajuan yang rapuh.
Bulan Ramadan memberikan momentum yang sangat tepat untuk menumbuhkan kembali kesadaran ini. Puasa bukan hanya latihan spiritual, tetapi juga latihan membangun disiplin diri dan ketangguhan mental. Dalam konteks umat dan bangsa, Ramadan seharusnya menjadi momentum untuk membangkitkan kembali semangat berprestasi dan berkontribusi bagi masyarakat.
Dalam bagian akhir ceramahnya, Mas Hajri menyampaikan pesan penting tentang regenerasi. Ia menyebut generasi muda sebagai “darah segar” yang harus tampil mengambil peran kepemimpinan, sementara generasi yang lebih senior memberi pengalaman dan dukungan agar proses regenerasi berjalan sehat.
Pesan ini terasa sangat relevan bagi banyak ruang kehidupan kita—baik di kampus, organisasi masyarakat, maupun dalam dunia politik. Regenerasi bukan sekadar pergantian generasi, tetapi proses menjaga kesinambungan nilai dan visi perjuangan.
Refleksi malam itu di Masjid At-Taqwa UMJ seakan mengingatkan kembali satu hal mendasar: keunggulan umat tidak lahir dari nostalgia kejayaan masa lalu. Ia lahir dari kerja keras intelektual yang terus-menerus, dari institusi pendidikan yang kuat, dari kepemimpinan yang berintegritas, dan dari generasi muda yang berani mengambil tanggung jawab bagi masa depan.
Spirit keunggulan pada akhirnya bukan sekadar soal menjadi lebih hebat dari orang lain. Ia adalah komitmen untuk terus memperbaiki diri dan menghadirkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat. Dalam tradisi Islam, ukuran keunggulan selalu diukur dari kemaslahatan—seberapa besar kontribusi kita bagi umat manusia.
Dan mungkin di situlah makna terdalam dari Ramadan: membangun manusia yang unggul, yang tidak hanya saleh secara personal, tetapi juga mampu memberi cahaya bagi umat dan bangsanya.