Dua telepon hari ini terasa seperti pengingat, dari sahabat Eko Arisandi di Pesantren Al Ittifaqiah Indralaya dan Kanda Ahmad Sahal Maemun di Grobogan. Saya menangkap benang merah, bahwa pengabdian tidak mengenal ruang dan tidak mengenal jeda. Di pesantren, di gelanggang politik, atau di tengah masyarakat, setiap ruang adalah ladang amal bagi mereka yang ingin menghadirkan kemaslahatan.
Percakapan itu membawa ingatan saya kembali pada 11 Desember 2025. Saat bersilaturahim ke kantor Kanda Ahmad Zacky Siradj, seorang tokoh yang telah lama menapaki jalan panjang pengabdian, saya mendengar pesan yang sederhana, “Sebagai kader tidak boleh berhenti berkiprah!”. Kita boleh berganti peran, bergeser posisi, bahkan berpindah medan juang, tetapi tidak pernah berhenti menjadi solusi bagi umat dan bangsa.
Di situlah saya menyadari, bahwa berkiprah bukan sekadar aktivitas, melainkan sikap hidup. Ia jauh dari sekedar jabatan, tapi seberapa besar kebermanfaatan. Banyak orang terjebak pada anggapan bahwa kontribusi hanya bermakna ketika berada di posisi formal atau struktural. Padahal, sejarah justru menunjukkan bahwa perubahan besar sering lahir dari mereka yang bekerja dalam senyap, tanpa panggung, tetapi dengan ketulusan, kesabaran, juga ketekunan.
Dalam tradisi keislaman, konsep amal jariyah mengajarkan bahwa nilai seseorang tidak selesai ketika ia berhenti dari sebuah peran. Selama ia terus menebar manfaat, selama itu pula jejaknya hidup. Maka berkiprah sepanjang hayat sebagai bentuk kesadaran bahwa hidup ini sendiri adalah amanah, dan setiap fase memiliki medan juangnya masing-masing. Dalam Majelis Menteng, Kyai Faiz Syukron Mamun menyebut salah satu keistinewaan Rasulullah adalah sikapnya yang istiqomah.
Dalam konteks kebangsaan, semangat ini menjadi semakin penting. Indonesia tidak kekurangan orang pintar, tetapi seringkali kekurangan orang yang konsisten berbuat atau istiqomah. Kita menyaksikan banyak energi besar muncul di masa muda, namun meredup seiring waktu karena kelelahan, kekecewaan, atau godaan kenyamanan. Padahal, bangsa ini membutuhkan kontinuitas atau keberlanjutan atas apa yang sejak dulu kita cita-citakan.
Berkiprah sepanjang hayat juga berarti siap untuk terus belajar dan beradaptasi. Dunia berubah, tantangan bergeser, dan cara berkontribusi pun tidak lagi sama. Apa yang dulu efektif, belum tentu relevan hari ini. Karena itu, pengabdian harus disertai dengan kerendahan hati untuk terus memperbarui diri, agar tetap mampu memberi makna di setiap zaman.
Saya melihat teladan itu pada banyak senior dan sahabat yang tetap aktif, meski tidak lagi berada di posisi yang sama seperti dahulu. Mereka tidak berhenti, hanya berubah cara. Dari panggung depan ke belakang layar, dari pengambil keputusan kini menjadi pembina atau pembimbing, dari aktor utama menjadi penjaga nilai. Namun satu hal yang tidak berubah pada mereka, yakni komitmen dan kesetiaan untuk tetap berkontribusi.
Di titik ini, berkiprah sepanjang hayat sejatinya adalah tentang menjaga nyala. Nyala idealisme, nyala keimanan, dan nyala kecintaan pada bangsa. Ia mungkin tidak selalu menyala terang seperti mercusuar, tetapi cukup seperti lilin. Meminjam syair Mustafa Chamran, “Mungkin ku tak mampu usir gelap ini, tapi dengan nyala nan redup ini, kuingin tunjuk beda gelap dan terang, kebenaran dan kebatilan. Orang yang menatap cahaya, meski temaram, kan menyala terang di hatinya yang dalam.”
Akhirnya, kita dihadapkan pada pilihan, apakah kita ingin hidup sebagai penonton atau pelaku yang terus bergerak. Para pendahulu telah memberi contoh bahwa tugas ini tidak pernah benar-benar selesai. Selama masih ada ruang untuk memberi manfaat, selama itu pula panggilan untuk berkiprah akan selalu ada.