Normalnya, perjalanan kita selesai setelah ban pesawat menyentuh landasan. Tapi, tak jarang, perjalanan kita baru mulai saat tiba di landasan. Bagi saya, perjalanan memenuhi undangan sebagai narasumber Intermediate Training (LK II) HMI Cabang Fakfak, Papua Barat, adalah tipe yang kedua.
Di sana, saya merasakan dinamika perjalanan khas Indonesia Timur. Jadwal penerbangan pulang dari Bandara Siboru yang mendadak mengalami reschedule akibat tantangan geografis dan cuaca memberi ruang jeda yang tidak terduga. Namun, di balik penundaan jadwal pesawat tersebut, saya mendapat hikmah: jadwal yang tidak pasti menjelma menjadi ruang perekat silaturahmi yang hangat.
Meskipun pernah mendapat amanah memimpin PB HMI periode 2013–2015, perjalanan ke ujung timur Nusantara ini justru membuat saya merasa kembali menjadi kader yang duduk menyimak pelajaran. Fakfak membuka mata kita tentang narasi besar Indonesia yang amat kaya.
Pertama, diskusi tentang sejarah 666 tahun Islam di Papua. Diskusi bersama tokoh lokal mengungkap bahwa Islam telah hadir di Fakfak sekitar 666 tahun lalu melalui jejaring perdagangan dan akulturasi budaya dengan Kerajaan Tidore. Islam di Fakfak tumbuh beriringan dengan tradisi lokal tanpa meniadakan kebudayaan setempat.
Kedua, saya mendalami falsafah Satu Tungku Tiga Batu: Kehidupan beragama di Fakfak ditopang oleh nilai Satu Tungku Tiga Batu. Nilai tersebut adalah sebuah simbol keseimbangan dan toleransi nyata bahwa perbedaan agama dan keluarga dapat hidup harmonis dalam satu rumah kebangsaan.
Ketiga, saya merefleksikan tanggung jawab atas manusia dan pembangunan. Di sela penundaan penerbangan, percakapan hangat dengan para tokoh dan warga mempertegas bahwa pembangunan Papua tidak boleh sekadar mengeksplorasi kekayaan alamnya, tetapi harus memuliakan manusianya melalui infrastruktur dan kualitas hidup yang adil.
Ketika menunggu kepastian jadwal pesawat, ruang tunggu bandara berubah menjadi forum silaturahmi yang hidup. Bersama para senior, alumni, dan kader, kami berdiskusi panjang mengenai sejarah pengabdian HMI di daerah. Salah satu cerita yang paling menyentuh adalah jejak Kanda Najamudin Mokan (Ketua HMI Cabang Jayapura 1992) yang kala itu berinisiatif mendirikan perguruan tinggi di Fakfak agar anak-anak lokal tidak perlu jauh-jauh merantau untuk mengenyam pendidikan tinggi. Dari satu gagasan kaderisasi itu, kini telah lahir ribuan sarjana dan alumni yang mengabdi di berbagai sektor.
Momen silaturahmi yang tercipta akibat penundaan penerbangan ini semakin mempertegas komitmen yang harus kita jaga bersama. Pertama, HMI di Zaman Algoritma: Kader HMI hari ini dituntut tidak hanya adaptif terhadap kemajuan kecerdasan buatan (AI) dan media sosial, tetapi harus memiliki kedalaman berpikir, tradisi membaca yang kuat, dan pemahaman utuh atas Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP).
Kedua, bahwa kader adalah pembawa misi, bukan penikmat kekuasaan. Kader HMI telah berkiprah di beragam partai, baik di Golkar, Gerindra, Nasdem, PKS, PAN, Demokrat, maupun ranah publik lainnya. Di manapun berkiprah, kekuasaan harus dijadikan instrumen pengabdian, bukan sekadar tempat berburu posisi.
Ketiga, kita harus terus berperan untuk mewujudkan lima kualitas Insan Cita: Insan akademis, pencipta, pengabdi, bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas masyarakat adil makmur harus menjelma dalam tindakan nyata di tengah masyarakat.
Kadang-kadang, kita harus melangkah jauh hingga ke Fakfak untuk kembali memahami Indonesia secara utuh. Penundaan penerbangan dan dinamika perjalanan di Papua Barat bukan sekadar hambatan teknis, melainkan cara Allah mempertemukan kita dalam ruang-ruang silaturahmi yang memperkaya jiwa.
Salam hangat untuk rekan-rekan semua. Semoga awal pekan ini menjadi awal untuk produktivitas dan berkah bagi kita sekalian.