Baru saja saya kembali dari Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB). Di tengah padatnya aktivitas, berkunjung ke daerah untuk menyapa kawan-kawan kader selalu menghadirkan energi baru. Kali ini, saya hadir memenuhi undangan kawan-kawan HMI Cabang Mataram untuk menjadi narasumber pada Latihan Kader II (LK 2), membawakan materi “Aktualisasi Lima Kualitas Insan Cita dalam Mewujudkan Masyarakat Adil dan Makmur.”

Membahas Insan Cita di hadapan para peserta LK 2 selalu mengembalikan ingatan saya pada esensi dasar kaderisasi. Mewujudkan Kualitas Insan Cita adalah komitmen konkret. Tujuan akhir dari Insan Cita yakni terwujudnya  insan akademis, pencipta, pengabdi, yang bernafaskan Islam, dan bertanggung jawab atas terwujudnya masyarakat adil makmur

Dalam berbagai kesempatan silaturahmi, saya selalu menekankan pesan penting: jangan mencari hidup di HMI, tapi hidupkanlah HMI. Menghidupkan organisasi berarti menghidupkan Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) serta menerjemahkan kualitas Insan Cita ke dalam gerak pengabdian. Di era perubahan yang begitu cepat hari ini, peran Insan Cita menemukan relevansinya yang semakin krusial:

Pertama, makna Insan Akademis & Pencipta: Kader HMI tidak boleh berhenti pada retorika dan wacana. Di tengah era berbasis data dan teknologi, kita dituntut untuk terus mengasah ilmu pengetahuan, berpikir kritis, serta melahirkan karya dan inovasi konkret yang solutif bagi masyarakat.

Kedua, Insan Pengabdi & Bernafaskan Islam: Setiap gerak kaderisasi harus senantiasa dilandasi oleh nilai-nilai keislaman yang inklusif, terbuka, dan menyejukkan. Kehadiran kader di tengah publik harus membawa rahmat, menjadi simpul perekat, dan memberi manfaat nyata bagi lingkungan sekitar.

Terakhir, Bertanggung Jawab atas Masyarakat Adil Makmur: Orientasi akhir dari seluruh proses kaderisasi adalah keberpihakan pada kemaslahatan rakyat. Kader HMI dididik untuk totalitas berjuang di mana pun ladang pengabdiannya, baik di ranah akademis, profesional, sosial, maupun politik, dengan menjaga integritas dan komitmen kebangsaan.

Selain mengisi materi LK 2, kunjungan ke NTB tentu saya manfaatkan untuk bersilaturahmi. Rasanya selalu ada kehangatan saat bisa duduk melingkar bersama kawan-kawan pengurus, alumni, dan tokoh masyarakat setempat untuk saling mendengar aspirasi daerah dan memperkuat simpul persaudaraan.

Saya ikut mengajak para aktivis muda di NTB untuk tidak hanya berdiri di luar arena sebagai pengkritik, tetapi berani turun langsung dalam pengelolaan sekaligus pengawasan potensi daerah. NTB memiliki kekayaan alam yang luar biasa, mulai dari sektor pangan hingga pertambangan emas. Aktivis harus ambil bagian dalam memastikan bahwa tata kelola sumber daya alam ini benar-benar memberikan dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat lokal.

Terima kasih kawan-kawan HMI Cabang Mataram atas sambutannya. Semoga dari LK 2 ini lahir para pemimpin masa depan yang kokoh secara integritas, matang secara intelektual, dan terus berkhidmat demi kemajuan umat dan bangsa.

0 CommentsClose Comments

Leave a comment