Usia 40 tahun baru saja saya tapaki beberapa hari lalu. Dalam tradisi refleksi yang biasa saya rawat, momen pergantian usia bukanlah sekadar selebrasi, melainkan ruang untuk melihat kembali arah pengabdian. Alhamdulillah, tepat di bulan kelahiran dan di usia yang baru ini, Allah SWT mengamanahkan satu kado sekaligus tanggung jawab baru yang cukup besar.
Selasa (15/9) lalu, Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) resmi meluncurkan Indonesian Center for Health Evidence-Informed Policy (I-CHIP). Di saat yang sama, saya dipercaya untuk menahkodai pusat studi strategis ini sebagai Direktur I-CHIP UMJ. Amanah ini rasanya seperti kado yang mengingatkan saya bahwa ikhtiar untuk umat dan bangsa tidak pernah boleh berhenti, melainkan harus terus diperluas spektrumnya.
Peluncuran I-CHIP dan Seminar Internasional hari itu menjadi sangat spesial karena dihadiri oleh jajaran tokoh nasional dan lintas sektor: Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Prof. Dr. Abdul Mu’ti, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, Kepala BRIN Prof. Dr. Arif Satria, Prof. Dr. Din Syamsuddin, Rektor UMJ Prof. Dr. Ma’mun Murod, Direktur Utama BPJS Kesehatan, hingga akademisi internasional seperti Prof. Kristen dari Johns Hopkins University.
Kehadiran para senior, akademisi, dan pejabat publik ini menegaskan satu hal penting: tantangan kesehatan Indonesia hari ini semakin kompleks dan tidak mungkin lagi diselesaikan secara sektoral maupun intuisi semata.
Mengapa I-CHIP Hadir?
Mendengar paparan dari para narasumber hari itu semakin memperjelas mandat yang harus kami jalankan di I-CHIP.
Mendikdasmen Prof. Abdul Mu’ti menyoroti pentingnya kesehatan mental dan wellbeing anak-anak kita di lingkungan sekolah. Menkes Budi Gunadi Sadikin menekankan perlunya kebijakan berbasis data dan bukti ilmiah (evidence-informed policy) demi mewujudkan kedaulatan kesehatan nasional agar kita tak terus-menerus bergantung pada produk luar negeri. Sementara itu, Kepala BRIN Prof. Arif Satria mengingatkan pergeseran paradigma ilmu pengetahuan menuju pendekatan transdisiplin—seperti One Health yang menyatukan kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan.
I-CHIP didirikan bukan sekadar untuk menambah daftar pusat studi di lingkungan kampus. Lebih dari itu, kami ingin memosisikan I-CHIP sebagai knowledge broker—jembatan yang menghubungkan antara riset akademis di laboratorium dan jurnal dengan keputusan strategis yang diambil oleh pemerintah.
Riset tidak boleh berhenti hanya sampai di rak perpustakaan atau publikasi ilmiah semata. Bukti ilmiah harus mampu diterjemahkan menjadi rekomendasi dan policy brief yang ringkas, tajam, serta dapat langsung dieksekusi oleh para pemangku kebijakan.
Melalui lima misi utamanya—sintesis pengetahuan, pengawalan kebijakan strategis, advokasi berbasis keadilan, kolaborasi transdisiplin, dan penguatan kedaulatan sains—I-CHIP ingin menjadi rumah bagi akademisi, peneliti, pemerintah, industri, hingga masyarakat sipil untuk duduk bersama.
Kedaulatan kesehatan bangsa ini mustahil terwujud tanpa adanya kedaulatan pengetahuan. Kita tidak akan pernah menjadi bangsa yang mandiri jika keputusan-keputusan strategis menyangkut hajat hidup masyarakat tidak dibangun di atas kemampuan kita sendiri dalam mengolah data dan bukti empiris.
Mohon doa dan dukungan dari kawan-kawan sekalian. Semoga kado amanah di usia 40 tahun ini dapat kami jalankan secara istiqomah, sehingga I-CHIP benar-benar hadir membawa manfaat konkrit dan memastikan kebijakan kesehatan kita selalu berpihak pada masyarakat yang paling membutuhkan.
Bismillah, mari terus berkolaborasi dan berkarya!