M. Arief Rosyid Hasan (Ketua Umum PB HMI 2013–2015)

Sore itu di kediaman almarhum Prof. Dr. Nurcholish Madjid (Cak Nur), suasana hangat membalut perbincangan saya bersama Ibu Omi Komariah Madjid. Di tengah nostalgia yang mengalir jernih, Bu Omi mengenang bagaimana Cak Nur memilih nyaur—mengendapkan pikiran, merefleksikan gerakan, dan berkontemplasi selama lebih dari tiga tahun di rumah—setelah menuntaskan amanah sebagai Ketua Umum PB HMI dua periode (1966–1969 dan 1969–1971).

Jeda organik pasca-kepemimpinan itu bukanlah bentuk pengasingan diri dari realitas sosial, melainkan fase inkubasi intelektual yang krusial. Dari ruang kontemplasi yang sunyi itulah lahir tatanan gagasan besar Pembaharuan Pemikiran Islam Indonesia. Silaturahim tersebut mendorong saya melakukan refleksi kritis: bagaimana kontinuitas gagasan antar-generasi kepemimpinan PB HMI merespons tantangan zamannya masing-masing melalui keterpaduan visi yang utuh?

Sebagai sesama yang pernah mengemban amanah di tampuk kepemimpinan PB HMI (periode 2013–2015), pertemuan tersebut menegaskan adanya tali simpul yang tak pernah putus antara keislaman dan keindonesiaan. Pergumulan intelektual Cak Nur di abad ke-20 dan perjuangan aktivisme anak muda hari ini dipersatukan oleh satu imperatif moral: keberanian untuk selalu menangkap “Api Islam”, bukan sekadar menyembah “Abu”-nya.

Dari Dialektika NDP ke “HMI untuk Rakyat”

Pada dekade 1960-an, Bung Karno kerap mengingatkan pentingnya mengambil “Api Islam”—semangat kemajuan, keadilan, dan pembebasan. Cak Nur membumikan amanat tersebut dengan merumuskan Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP) sebagai doktrin ideologis kader HMI. NDP lahir sebagai sintesis teologis-filosofis yang menautkan tauhid, kemanusiaan, serta keadilan sosial. Lewat NDP, Cak Nur mendobrak jebakan formalisme politik melalui tesis “Islam Yes, Partai Islam No”—sebuah penegasan bahwa substansi ajaran Islam harus mewujud dalam nilai-nilai kebangsaan, keadilan, dan kemanusiaan universal.

Namun, tatanan teologis NDP menuntut reaktualisasi konkret ketika memasuki abad ke-21. Menghadapi disrupsi zaman, nilai-nilai idealisme dalam NDP tidak boleh berhenti sebagai naskah akademis yang hanya diyakini di ruang-ruang latihan kader. Dari situlah, pada kepengurusan PB HMI 2013–2015, kami memformulasikan gagasan “HMI untuk Rakyat”.

“HMI untuk Rakyat” adalah derivasi praksis dari NDP. Jika NDP menyediakan fondasi epistemologis tentang kemanusiaan dan keadilan sosial, maka “HMI untuk Rakyat” menarik ideologi tersebut turun ke bumi perjuangan nyata. Gagasan ini menegaskan bahwa HMI lahir dari rahim rakyat dan harus kembali mengabdi di tengah rakyat. Kader tidak boleh hanya mahir bersilat kata dalam panggung politik elitis, melainkan harus hadir memberikan solusi atas persoalan riil masyarakat: ketimpangan ekonomi, akses pendidikan, hingga kemandirian generasi muda.

“Rute Baru” Kader Islam dan “Mazhab Karya”

Silaturrahim yang terentang panjang dari Aceh hingga Papua dengan keluarga besar HMI, juga pengalaman berkarya di berbagai tempat selama puluhan tahun menghadirkan sintesis. Pertautan antara semangat “Api Islam” dan praksis “HMI untuk Rakyat” secara otomatis menuntut pembukaan Rute Baru Gerakan Pemuda—sebuah manifestasi lahirnya Islam Mazhab Karya.

Tradisi keilmuan dan perjuangan Islam senantiasa memegang teguh kaidah al-’ilmu nurun, wal-’amalu burhanuhu—ilmu adalah cahaya, dan amal adalah buktinya. Silsilah ini terentang dari perjuangan Syekh Yusuf al-Makassari, kerja-kerja kebudayaan Wali Songo, hingga tafsir praksis Teologi Al-Ma’un oleh KH. Ahmad Dahlan dan Al Qanun Al Asasi karya KH. Hasyim Asy’ari. Menangkap “Api Islam” hari ini berarti memindahkan orientasi keagamaan dan aktivisme kita dari “mazhab wacana” yang sibuk dalam perdebatan retoris-formalistik menuju “mazhab karya” yang berfokus pada pembuktian amal dan pelembagaan kemaslahatan.

Transformasi mendalam menuju pembudayaan dan pemberdayaan ini ditandai oleh tiga pergeseran krusial. Pertama, dari Doktrinal ke Kontekstual-Solutif. Api Islam tidak lagi diukur dari nyaringnya jargon dan retorika politik, melainkan dari keberpihakan nyata pada penguatan ekonomi umat, inklusi keuangan syariah, pengembangan wirausaha muda, dan pengentasan kemiskinan.

Kedua, Kaderisasi Berbasis Profesionalisme dan Sains. Menjawab tatanan kemanusiaan NDP, gerakan mahasiswa modern harus mencetak teknokrat, enterpreneur, teknopreneur, dan profesional yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi modern, juga mampu membangun tata kelola kelembagaan yang prudent, demi memperkuat daya saing bangsa di kancah global.

Ketiga, Inklusivisme Kolaboratif. Sebagaimana Cak Nur menjalin dialog terbuka lintas kelompok, pemuda hari ini harus mampu menjadi bridging generation—penghubung berbagai elemen bangsa untuk merajut kolaborasi demi kemakmuran yang berkeadilan. Indonesia First adalah tujuan utama kita, kepentingan bangsa dan negara diatas segala agenda pribadi, keluarga, kelompok, hingga partai politik.

Mengendapkan Gagasan, Menatap Masa Depan

Refleksi atas perjalanan Cak Nur memberi pelajaran berharga bahwa kepemimpinan dalam organisasi kepemudaan adalah “laboratorium awal” untuk menempa kematangan berpikir. Momen nyaur atau perenungan pasca-kepemimpinan merupakan syarat mutlak agar aktivis tidak kehilangan kompas moral dan tetap melahirkan pemikiran jernih yang berdampak jangka panjang.

Bentuk perjuangan generasi muda saat ini tentu berbeda secara ruang dan dinamika dibanding era 1960-an. Namun, roh dasarnya tetap sama komitmen keumatan dan kebangsaan melalui karya-karya nyata. Mengutip pendiri HMI, almarhum Prof. Lafran Pane, “dimanapun kau berkiprah, tak ada masalah, yang terpenting adalah semangat keislaman dan keindonesiaan itu yang harus kau pegang teguh”.

Meneruskan estafet gagasan Cak Nur berarti mengartikulasikan doktrin NDP ke dalam kerja nyata “HMI untuk Rakyat” melalui “Rute Baru” Kader Islam yang bertransformasi menjadi “Mazhab Karya”—memastikan bahwa “Api Islam” yang menyala di dada para pemuda Islam senantiasa menjadi penerang dan pembukti bagi masa depan umat dan bangsa. Semoga!

0 CommentsClose Comments

Leave a comment