Sahabat pembaca sekalian, di samping merayakan kemerdekaan dan mengawal prioritas arah fiskal bangsa, momen bulan Agustus ini juga membawa perenungan mendalam bagi saya pribadi. Beberapa hari lalu, senior dan tokoh bangsa yang sangat saya hormati, Bang Akbar Tandjung, genap berusia 81 tahun.
Dari perjalanan panjang beliau, ada satu karakter yang selalu terang benderang: memilih kompromi, kerja sama, dan konsensus sebagai jalan politik. Bagi Bang Akbar, politik bukanlah seni memperbanyak musuh, melainkan kemampuan menemukan titik temu di tengah perbedaan.
Saya mengenal jejak Bang Akbar bukan hanya sebagai Ketua Umum Partai Golkar, Ketua DPR RI, menteri, atau politisi senior. Jauh sebelum semua jabatan itu, beliau adalah mantan Ketua Umum Pengurus Besar HMI. Karena itulah perjalanan Bang Akbar selalu terasa dekat secara batin bagi saya yang juga pernah mengemban amanah sebagai Ketua Umum PB HMI periode 2013-2015.
Jalan yang menghubungkan HMI dengan pengabdian politik kebangsaan di Golkar tidak selalu mudah. Bahkan pada masanya, pilihan seorang mantan Ketua Umum PB HMI berlabuh ke Golkar merupakan pilihan yang sangat berani.
Ketum APG, Kanda Hajriyanto Y. Thohari pernah mengulas rute politik ini sebagai eksperimen besar pembaharuan politik Islam Indonesia yang digagas Nurcholish Madjid (Cak Nur) sejak awal dekade 1970-an: “Islam, Yes; Partai Islam, No!”. Nilai-nilai Islam tidak harus dibatasi dalam satu kendaraan politik tunggal, melainkan harus hadir seluas-luasnya mengisi ruang-ruang kebangsaan dan kekaryaan.
Jika Cak Nur adalah konseptornya, maka Bang Akbar Tandjung adalah kekuatan operasional utama yang membumikan gagasan pembaruan tersebut ke dalam sistem politik nasional.
Melalui Paradigma Baru Partai Golkar yang dirintisnya pada masa transisi Reformasi, Bang Akbar membuktikan bagaimana sebuah organisasi politik dapat diselamatkan dan ditransformasikan menjadi partai modern yang demokratis, inklusif, dan berbasis meritokrasi.
Apa yang diteladankan oleh Bang Akbar memberikan penegasan atas rute politik yang saya pilih hari ini. Sebagai bagian dari angkatan muda:
Pertama, Politik Kekaryaan: Politik bukan sekadar mengejar kekuasaan, melainkan ruang pengabdian (service) untuk menghadirkan nilai-nilai kebaikan dan kemaslahatan publik di tengah masyarakat.
Kedua, Merawat Jalan Tengah: Di tengah polarisasi dan dinamika politik yang sering kali memecah belah, anak muda harus berani memilih ‘jalan tengah’, yakni politik yang mengutamakan persatuan, dialog, dan kolaborasi inklusif.
Refleksi atas 81 tahun Bang Akbar Tandjung memberikan keyakinan bahwa keputusan orang muda untuk masuk dan berkarya di Partai Golkar serta AMPI adalah bagian dari melanjutkan rute panjang pembaruan politik kebangsaan.
Selamat ulang tahun ke-81 untuk Bang Akbar Tandjung. Terima kasih atas warisan keteladanan, kebersahajaan, dan rute politik jalan tengah yang terus menginspirasi kami, generasi muda, untuk merawat Indonesia.