Di tengah kesibukan sebagai menteri dan ketua umum partai, Bang Bahlil Lahadalia tetap menempatkan silaturahmi dan diskusi dengan berbagai elemen. Beberapa waktu lalu, kediaman beliau menjadi titik temu yang hangat bagi para anggota WhatsApp Group (WAG) KAHMI Pro Ekonomi—sebuah wadah diskusi yang mempertemukan para alumni HMI dari kalangan praktisi, akademisi, hingga pemangku kebijakan yang memiliki atensi khusus pada isu ekonomi nasional.
Pertemuan malam itu masih dalam rangkaian silaturahmi usai Lebaran. Kehadiran tokoh-tokoh lintas disiplin seperti intelektual senior Dr. Fachry Ali, Rektor UICI Prof. Asep Saefuddin, hingga Pemimpin Redaksi Sindo News Aiman Witjaksono, menunjukkan betapa dinamisnya kelompok diskusi yang lahir dari rahim Himpunan.
Dari pengamatan saya, bagi Bang Bahlil, KAHMI adalah rumah kedua. Di tengah gempuran dinamika global yang tak menentu, rumah beliau malam itu justru menjadi ruang dialektika yang jernih, membahas bagaimana bangsa ini harus tetap melaju sesuai visi para pemimpin kita.
Satu hal yang selalu saya kagumi dari sosok Bang Bahlil adalah komitmennya terhadap perkembangan himpunan. Beliau sangat concern mendukung berbagai kegiatan produktif yang berdampak langsung pada kepentingan publik.
Dukungan tersebut, baik secara materiil maupun imateriil, seringkali diberikan tanpa publikasi yang berlebihan. Beliau memilih jalan “tangan kanan memberi, tangan kiri tidak perlu tahu”. Seperti ciri karakter kepemimpinan yang tulus, fokus pada dampak dan solusi, bukan pada citra atau sekadar “koar-koar”.
Nuansa kekeluargaan malam itu semakin lengkap dengan kehadiran istri beliau, Caca Sri. Dengan penuh keramahan, beliau ikut berbaur dan berinteraksi dengan para tamu, khususnya dari kalangan perempuan. Beliau merangkap sebagai ‘ketua panitia’ pada jamuan-jamuan semacam ini.
Sebagai bagian dari generasi yang lebih muda, momen seperti ini menjadi ruang belajar yang sangat mahal bagi saya. Melihat Bang Bahlil dan para senior di KAHMI Pro Ekonomi tetap memikirkan nasib bangsa di sela waktu istirahat mereka adalah inspirasi.
Kesibukan di posisi strategis tidak membuat mereka berjarak dengan akar organisasi. Justru sebaliknya, kedekatan dengan jejaring intelektual seperti ini menjadi ajang refleksi bagi mereka untuk terus melahirkan kebijakan yang pro-rakyat.
Semoga spirit silaturahmi yang produktif dan tulus ini dapat terus kita rawat. Yakusa!