Bulan Syawal selalu memiliki cara tersendiri untuk menarik kita kembali ke rumah—bukan sekadar rumah fisik, melainkan rumah ideologi dan emosional tempat kita tumbuh. Bagi saya, momen Halal Bihalal tahun ini menjadi kesempatan berharga untuk melakukan “re-koneksi” dengan jejaring yang telah membentuk karakter saya sejak dini, khususnya keluarga besar Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan para tokoh senior yang dedikasinya melampaui zaman.
Pada Sabtu, 4 April kemarin, suasana hangat menyelimuti kediaman Kanda Ahmad Doli Kurnia. Di sana, berkumpul keluarga besar KAHMI yang tergabung dalam Yayasan Lotus Kita, Pelita 16, hingga rekan-rekan seperjuangan di PB HMI periode 1997-1999.
Ada satu pesan mendalam dari Mas Anas Urbaningrum yang sangat membekas bagi saya dalam pertemuan tersebut. Beliau menekankan bahwa silaturahmi haruslah otentik. Silaturahmi yang otentik bukan sekadar seremonial bersalaman atau berfoto bersama, melainkan pertemuan yang bermakna lahir dan batin. Dengan keotentikan itu, energi persaudaraan tidak akan padam saat acara usai, melainkan tetap terhubung dan menjadi bahan bakar untuk kolaborasi-kolaborasi berikutnya.
Sehari sebelumnya, pada Jumat, 3 April, saya berkesempatan mengunjungi kediaman Kanda Prof. Lukman Hakim. Di sana hadir pula Kanda Antony Zeidra Abidin. Keduanya bukan hanya senior di organisasi, melainkan tokoh mahasiswa UI yang legendaris di zamannya.
Berdiskusi dengan beliau-beliau adalah pengingat bagi saya bahwa semangat intelektual dan idealisme harus terus dirawat, tak peduli apa pun posisi kita saat ini. Kita belajar bahwa keberlanjutan sebuah bangsa sangat bergantung pada bagaimana generasi hari ini mampu menyerap kearifan dari para pendahulu tanpa kehilangan relevansi dengan masa depan.
Rangkaian perjalanan Syawal ini juga membawa saya menghadiri Halal Bihalal sekaligus Milad ke-55 Masjid Agung Sunda Kelapa beberapa hari lalu. Berada di tengah-tengah pengurus, tokoh masyarakat, dan jamaah masjid yang bersejarah ini memberikan perspektif yang menyejukkan.
Masjid bukan hanya tempat ibadah secara vertikal, tetapi juga pusat peradaban dan titik temu berbagai lapisan masyarakat. Di usia yang ke-55, Masjid Agung Sunda Kelapa terus membuktikan perannya sebagai simpul pemersatu umat di Jakarta.
Rangkaian silaturahmi ini mempertegas keyakinan saya bahwa kekuatan kita ada pada jejaring. Namun, jejaring yang kuat bukan yang dibangun di atas kepentingan sesaat, melainkan yang didasari pada ketulusan dan visi yang sama untuk membangun bangsa.
Semoga di sisa bulan Syawal ini, kita semua bisa terus merajut tali silaturahmi yang otentik, yang menguatkan simpul-simpul kebaikan di mana pun kita berada.
Selamat Idul Fitri, Mohon Maaf Lahir dan Batin.