Pendidikan tinggi dan kebijakan pemerintah adalah dua pilar yang tidak boleh berjalan sendiri-sendiri. Keyakinan inilah yang mendorong saya untuk membantu sebuah pertemuan strategis antara Rektor Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ) dengan Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga)/Kepala BKKBN, Bang Wihaji.

Alhamdulillah, silaturahmi yang berlangsung di kantor Kemendukbangga jadi dialog produktif yang menggali potensi besar dalam memperkuat ketahanan keluarga di Indonesia. Pertemuan ini pun akan segera diakomodasi melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) untuk memastikan kerja sama terealisasi.

Rektor UMJ, Prof. Dr. Ma’mun Murod, M.Si., menyampaikan di pertemuan, bahwa universitas memiliki tanggung jawab moral untuk mendukung program pemerintah melalui kacamata ilmiah. Beliau menyampaikan, terdapat keselarasan yang sangat kuat antara program pembangunan keluarga dari Kemendukbangga dengan berbagai program studi yang ada di UMJ.

Tujuan kemitraan ini nantinya, memperkuat pembangunan keluarga sebagai unit terkecil masyarakat, meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), serta memastikan pembangunan kependudukan di Indonesia berjalan secara inklusif dan berkelanjutan.

Bagi saya pribadi, momen ini memiliki makna tersendiri. Sebagai salah satu dosen yang baru saja bergabung di lingkungan UMJ, saya merasa terhormat dapat dipercaya untuk menjembatani kolaborasi produktif ini.

Dunia kampus harus menjadi “pabrik solusi” bagi permasalahan negara. Saya bersyukur dapat membersamai Prof. Ma’mun Murod dan Bang Wihaji dalam merajut sinergi ini. Inilah esensi dari pengabdian, yaitu menghubungkan gagasan besar di ruang akademik dengan eksekusi nyata di ruang kebijakan.

Semoga langkah awal ini menjadi pembuka jalan bagi lahirnya generasi Indonesia yang lebih berkualitas, berawal dari ketahanan keluarga yang kokoh.

0 CommentsClose Comments

Leave a comment