Indonesia punya sosok legenda yang menghubungkan tanah Gowa, Banten, hingga jauh ke Cape Town, Afrika Selatan. Jejak itu adalah warisan intelektual dan perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari. Bagi saya pribadi yang lahir di Gowa, Sulawesi Selatan, sosok Syekh Yusuf amatlah dekat.
Syekh Yusuf lahir dengan nama Muhammad Yusuf di Gowa, dan dalam beberapa catatan lontara, beliau memiliki pertalian darah dengan keluarga kerajaan Gowa. Beberapa sumber menyebutnya sebagai putra dari Gallarang Moncongloe, saudara Sultan Alauddin.
Dalam rangka menghidupkan kembali spirit kepahlawanan dan kedalaman ilmu Syekh Yusuf, saya bersama kawan-kawan di Angkatan Muda Syekh Yusuf (AMSY), dengan dukungan dari Kementerian Kebudayaan, akan menggelar rangkaian acara istimewa: Diskusi, Pameran Manuskrip, dan Peringatan 400 Tahun Syekh Yusuf.
Acara ini akan diselenggarakan pada beberapa harimulai Selasa, 28 April hingga Minggu, 3 Mei 2026. Kami memilih tempat yang sarat akan nilai sejarah, yakni, Halaman Masjid Agung Banten serta Museum Situs Kepurbakalaan Banten.
Banten kami pilih karena relasi kekeluargaan antara Syekh Yusuf dan Sultan Ageng Tirtayasan. Di Banten pun, Syekh Yusuf diangkat sebagai mufti kerajaan dan guru agama karena kedalaman ilmunya.
Syekh Yusuf adalah sosok fenomenal. Lahir di Gowa, beliau belajar ke berbagai penjuru dunia hingga ke Yaman dan Damaskus. Beliau adalah ulama sufi sekaligus juga panglima perang yang gigih. Keteguhannya melawan penjajah membuatnya dibuang oleh Belanda ke Sri Lanka, lalu berakhir di Afrika Selatan.
Di Afrika Selatan, Syekh Yusuf ternyata tidak berhenti. Beliau justru membangun komunitas Muslim pertama di sana, hingga Nelson Mandela menjulukinya sebagai “Salah satu putra terbaik Afrika dan salah satu pejuang kemerdekaan yang paling gigih.” Syekh Yusuf adalah teladan tentang keimanan, konsistensi, dan nasionalisme.
Pameran manuskrip nanti akan menjadi ruang bagi generasi muda, terutama milenial dan Gen Z. Para generasi muda kami ajak untuk melihat langsung bukti-bukti pemikiran Syekh Yusuf yang tersimpan dalam teks-teks klasik. Melalui AMSY, kami ingin menyebarluaskan nilai-nilai keberanian, keteguhan prinsip, dan kedalaman spiritual Syekh Yusuf.
Syekh Yusuf telah membuktikan bahwa keterbatasan fisik dan pembuangan tidak bisa memenjarakan gagasan. Kami mengundang rekan-rekan semua untuk hadir dan meresapi kembali perjalanan hidup Syekh Yusuf.
Mari kita jadikan peringatan 400 tahun Syekh Yusuf sebagai momentum untuk memperkuat karakter bangsa melalui teladan sang Guru Bangsa. Sampai jumpa di Banten!