Saya berkesempatan menjembatani silaturahmi antara kawan-kawan Think Policy yang dipimpin oleh Afutami, dengan Sekjen Kementerian ESDM, Prof. Erani beserta tim.

Silaturahmi berfaedah ini intinya membahas Transisi Energi Bersih yang Berkeadilan Antargenerasi.

Mengapa ESDM dan Orang Muda Harus Duduk Satu Meja?

Kita harus objektif melihat bahwa Kementerian ESDM saat ini adalah “pemegang kunci” masa depan lingkungan kita. Melalui berbagai regulasi, ESDM sedang bekerja keras melakukan, Dekarbonisasi Sektor Listrik: Mempensiunkan dini PLTU batu bara dan menggenjot bauran EBT sesuai target; Melaksanakan Hilirisasi Hijau: Memastikan kekayaan mineral kita membawa kesejahteraan lebih besar untuk rakyat; Menciptakan standar kontrak dan tata kelola EBT untuk meningkatkan investasi energi bersih masuk ke Indonesia, yang ujungnya membuka ratusan ribu lapangan kerja bagi kita, orang muda.

Tanpa jembatan kebijakan (policy bridging) antara pemikir muda seperti kawan-kawan Think Policy dan eksekutor di kementerian, agenda besar ini hanya akan jadi wacana di menara gading.

Menjawab Kegaduhan: Alergi Kolaborasi?

Menariknya, usai saya mengunggah foto pertemuan tersebut dengan latar belakang logo KESDM, kolom komentar justru riuh dengan sentimen negatif. Ada yang menuding kawan-kawan Think Policy telah “terkontaminasi” atau “masuk angin” hanya karena berdiskusi dengan pemerintah.

Fenomena ini mencerminkan adanya dikotomi yang keliru di sebagian kalangan kita. Seolah-olah menjadi orang muda yang kritis berarti harus memasang pagar tinggi dan alergi bertemu dengan perwakilan negara.

Pemuda Adalah Pemilik Sah Masa Depan

Rekan-rekan sekalian, masalah bangsa ini—terutama transisi energi—terlalu besar jika hanya dipikirkan sendirian. Kita tidak boleh terjebak dalam sentimen kelompok yang akhirnya menghambat kemajuan.

Orang muda harus berani masuk ke ruang-ruang pengambilan kebijakan. Kita memikirkan negeri ini siang dan malam bukan untuk mencari “panggung pribadi”, tapi untuk memastikan bahwa kebijakan yang lahir hari ini tidak membebani generasi kita di masa depan.

Jangan biarkan pagar-pagar imajiner menghalangi silaturahmi dan dialog yang membangun. Pertemuan antara idealisme pemuda dan realisme kebijakan pemerintah justru menjadi hal yang kita butuhkan sekarang ini.

Mari terus berdialog, karena masa depan Indonesia tidak akan terbangun dari jempol yang menghujat, melainkan dari tangan-tangan yang mau bersalaman untuk mencari solusi. Yuk, positive thinking dan terus urun rembuk buat merah putih!

0 CommentsClose Comments

Leave a comment