Jika istilah survival mode berfungsi sebagai alarm, maka penyebutan “deep state” adalah penunjukan langsung pada sumber persoalan. Dalam pidato Ketua Umum Bahlil Lahadalia, istilah ini digunakan sebagai peringatan tentang kekuatan yang bekerja di luar mandat formal dan agenda resmi partai.

Secara historis, konsep “deep state” berasal dari pengalaman politik Turki dengan istilah derin devlet, yang menggambarkan jaringan kekuasaan non-elektoral—terdiri dari elite birokrasi, ekonomi, dan politik—yang tetap bertahan meskipun kepemimpinan formal berganti. Dalam ilmu politik modern, “deep state” dipahami sebagai kekuatan bayangan yang mampu memengaruhi arah kebijakan tanpa akuntabilitas publik.

Dalam praktik kepartaian, “deep state” tidak selalu hadir dalam bentuk konspirasi besar. Ia sering muncul sebagai jejaring kepentingan lama, pola relasi personal, dan kebiasaan internal yang menghambat perubahan. Inilah yang disinggung Bahlil secara terbuka: bahwa ancaman Golkar bukan hanya datang dari luar, tetapi juga dari dalam.

Ada oknum dan kelompok yang selama ini menjadikan partai sebagai alat mengurus diri, keluarga, dan bisnis—bukan sebagai alat perjuangan politik. Ketika arah partai diperjelas, ketika loyalitas dan disiplin ditegakkan, kelompok-kelompok ini merasa terancam. Resistensi pun muncul, sering kali dibungkus atas nama stabilitas atau senioritas.

Pernyataan Bahlil bahwa setiap pemimpin ada masanya, dan setiap masa ada pemimpinnya harus dibaca dalam konteks ini: penegasan bahwa partai tidak boleh disandera oleh kekuatan lama. Tanpa keberanian menghadapi “deep state”, setiap agenda perubahan hanya akan berhenti sebagai retorika.