Arief Rosyid Hasan (Wakil Ketua Umum DPP AMPI, Ketua Umum PB HMI 2013-2015)

Dalam perjalanan politik nasional, simbol sering kali berbicara lebih kuat daripada kata-kata. Ketika Bahlil Lahadalia, Ketua Umum Partai Golkar sekaligus Menteri ESDM, dianugerahi Bintang Mahaputera oleh Presiden Prabowo, kita menyaksikan pengakuan negara atas kiprahnya sekaligus peneguhan kembali relevansi Golkar dalam panggung besar republik.

Penghargaan Bintang Mahaputera bukan sekadar tanda jasa, melainkan legitimasi moral dan politik. Ia mengingatkan kita bahwa kepemimpinan yang lahir dari proses panjang kaderisasi, kerja keras, dan integritas akan selalu menemukan jalannya. Bahlil hadir bukan sebagai figur instan, tetapi sebagai simbol meritokrasi kader bangsa yang berhasil menembus lingkaran utama pemerintahan.

Tak lama berselang, Bahlil memimpin puluhan pengurus Golkar bersilaturahim dengan Presiden Prabowo. Silaturahim ini tampak sederhana, tetapi sarat makna: Golkar menegaskan diri sebagai mitra strategis pemerintah, bukan sekadar partai pendukung. Ini adalah momentum peneguhan komitmen, bahwa karya dan pengabdian jauh lebih penting daripada wacana politik sesaat.

Kedua momen ini, bila dibaca bersamaan, menghadirkan narasi kuat. Penghargaan negara diikuti konsolidasi politik adalah tanda keselarasan. Golkar tidak sedang larut dalam riak kecil internal, apalagi tergoda manuver jangka pendek. Sebaliknya, Golkar memilih jalan pengabdian jangka panjang: mendukung penuh pemerintahan demi terwujudnya Indonesia Emas 2045.

Wacana liar tentang Munaslub pun runtuh dengan sendirinya. Tidak ada ruang bagi spekulasi ketika Presiden dan Golkar berjalan beriringan, ketika simbol penghargaan negara bertemu dengan silaturahim politik yang hangat. Stabilitas internal dan kesetiaan eksternal inilah yang justru membuat Golkar semakin relevan di tengah turbulensi politik.

Sebagai kader muda yang lama bersinggungan dengan ruang konsolidasi, saya melihat ini bukan sekadar peristiwa politik, tetapi momentum moral. Generasi saya belajar bahwa loyalitas, konsistensi, dan pengabdian pada bangsa selalu mendapat tempat. Dari HMI hingga Golkar, pesan itu berulang: pengabdian lebih utama dari ambisi pribadi.

Bahlil, yang lahir dari rahim organisasi kepemudaan, menunjukkan bahwa jalur kaderisasi masih sahih. Jalan panjang dari kampus, organisasi, hingga pemerintahan membuktikan bahwa meritokrasi bisa bekerja di republik ini. Inilah inspirasi bagi generasi muda: bahwa politik bukan sekadar perebutan kekuasaan, tetapi ruang pengabdian bagi kemaslahatan rakyat.

Dalam dinamika bangsa, kita membutuhkan kepemimpinan yang tidak mudah tergoda oleh riak sesaat. Golkar di bawah Bahlil memilih jalannya. Dua momentum berdekatan—penghargaan negara dan silaturahim politik—adalah penegasan komitmen. Golkar solid bersama pemerintah, menjaga stabilitas, dan memastikan pembangunan berjalan menuju cita-cita besar Indonesia 2045.

Di tengah politik yang kerap gaduh, kehadiran simbol-simbol positif seperti ini memberi harapan. Bahwa politik bisa tetap mulia, bahwa partai bisa tetap konsisten, dan bahwa pemimpin bisa tetap setia pada janji kebangsaan. Di sanalah letak relevansi Golkar hari ini, dan tantangan besar bagi generasi muda untuk meneruskannya.

Golkar bukan sekadar mesin politik, melainkan institusi yang menjaga arah bangsa. Bahlil telah memberi contoh bahwa kepemimpinan yang lahir dari pengabdian akan menemukan pengakuannya. Dari Bintang Mahaputera hingga silaturahim dengan Presiden, pesan yang sama berulang: Golkar solid bersama pemerintah, Golkar hadir untuk Indonesia.