Oleh: Arief Rosyid Hasan (Sekretaris Akademi Partai GOLKAR)

Tulisan saya sebelumnya, “Legacy Ketum Bahlil di Partai GOLKAR”, memperoleh respons beragam. Sejumlah senior mengingatkan bahwa sesuatu baru layak disebut legacy apabila telah melewati ujian ruang dan waktu. Kaderisasi memang hidup kembali, tetapi pertanyaannya: apakah ia akan tetap hidup ketika kepemimpinan suatu hari berganti?

Saya menerima pandangan itu sebagai pengingat yang sangat baik. Sebab legacy memang bukan sekadar sesuatu yang dilakukan seorang pemimpin ketika sedang berkuasa. Legacy sesungguhnya adalah nilai, sistem, dan institusi yang tetap bekerja, bahkan ketika kekuasaan telah berpindah dari tangan orang yang memulainya.

Tetapi saya juga memiliki keyakinan bahwa setiap legacy selalu mempunyai titik mula. Tidak ada institusi besar yang tiba-tiba menjadi mapan. Semuanya bermula dari keberanian mengambil keputusan, membangun fondasi, menyiapkan sistem, kemudian menjaganya sampai akhirnya menjadi tradisi yang melampaui orang-orang yang mendirikannya.

Bagi saya, keputusan menghidupkan kembali kaderisasi Partai GOLKAR setelah belasan tahun terhenti merupakan titik mula yang fundamental. Training of Trainers Akademi Partai GOLKAR pada 3–8 Agustus 2026 bahkan dimaknai sebagai kebangkitan kembali sistem kaderisasi setelah lama terhenti.

Sebagai Sekretaris Akademi Partai GOLKAR, saya berada di dalam proses tersebut. Saya melihat pekerjaan ini bukan sekadar menyelenggarakan pelatihan enam hari, menyusun kurikulum, atau menerbitkan sertifikat. Jauh lebih fundamental, kami sedang berusaha membangun kembali sebuah institusi yang bertugas menjaga mata air kepemimpinan Partai GOLKAR.

Di sinilah saya melihat keberpihakan yang jelas dari Ketua Umum Bahlil Lahadalia bersama Sekjen Muhammad Sarmuji dan seluruh jajaran DPP Partai GOLKAR. Menghidupkan kaderisasi yang belasan tahun terhenti tidak mungkin dikerjakan tanpa kesadaran utuh bahwa regenerasi merupakan kebutuhan mendasar sebuah partai politik.

Sebuah partai dapat menghabiskan hampir seluruh energinya untuk survei, elektabilitas, pencalonan, strategi pemenangan, dan kontestasi pemilu. Semua itu tentu penting. Tetapi kepemimpinan Bahlil memilih menambahkan investasi yang hasilnya mungkin tidak langsung dapat dipanen hari ini, yaitu investasi jangka panjang kepada manusia melalui kaderisasi.

Pilihan tersebut sejalan dengan Pedoman Kaderisasi Partai GOLKAR yang menempatkan kaderisasi bukan sekadar perangkat administratif organisasi, tetapi instrumen strategis untuk memastikan kesinambungan kepemimpinan yang berintegritas dan kompeten. Kekuatan GOLKAR juga diletakkan pada kemampuan kader menghadirkan karya nyata bagi bangsa.

Mereka Juga Lahir dari Kaderisasi

Ada alasan mengapa saya memiliki optimisme terhadap pilihan tersebut. Bahlil Lahadalia, Muhammad Sarmuji, Sari Yuliati, Zulfikar Arse Sadikin, Hajriyanto Y. Thohari, dan banyak kader GOLKAR lainnya bukan pemimpin yang muncul secara instan. Mereka bertumbuh melalui organisasi, penugasan, pergulatan gagasan, dan proses panjang kepemimpinan.

Mereka adalah generasi yang memahami bahwa seorang pemimpin tidak tiba-tiba menjadi pemimpin. Pemimpin ditempa melalui proses, diuji melalui penugasan, diperkaya melalui pengalaman, dan dibesarkan oleh organisasi. Barangkali pengalaman itulah yang membuat kaderisasi memperoleh kembali tempat penting dalam kepemimpinan Partai GOLKAR hari ini.

Karena itu, langkah penting Akademi Partai GOLKAR adalah melibatkan para senior yang memiliki pengalaman panjang sebagai pekerja kaderisasi partai. Mereka tidak sekadar ditempatkan sebagai simbol senioritas, tetapi diharapkan mentransmisikan pengalaman, nilai, pengetahuan organisasi, serta kebijaksanaan politik kepada generasi kader yang sedang dipersiapkan.

Di antaranya terdapat Darul Siska, Syamsul Bachri, Binny Buchori, Erwin Ricardo Silalahi, Ibnu Munzir, Musfihin Dahlan, Saiful Bachri Ruray, Happy Bone Zulkarnain, hingga Zainuddin Amali. Mereka datang dengan pengalaman berbeda, tetapi dipertemukan oleh pengalaman panjang dalam organisasi, pendidikan politik, dan proses kaderisasi Partai GOLKAR.

Komposisi tersebut terlihat pula dalam struktur Akademi yang menempatkan senior partai, akademisi, praktisi, teknokrat, dan tokoh masyarakat dalam Dewan Ahli. Sementara Dewan Pelaksana menjadi ruang kerja kaderisasi yang mempertemukan pengalaman senior dengan energi generasi berikutnya untuk menjalankan pendidikan politik secara sistematis.

Menurut saya, inilah salah satu pilihan yang sangat strategis. Akademi tidak dibangun dengan memutus sejarah, tetapi juga tidak boleh terperangkap dalam romantisme masa lalu. Pengalaman senior harus dipertemukan dengan darah segar generasi muda yang juga lahir dan ditempa melalui berbagai proses kaderisasi yang baik.

Di sanalah terjadi perjumpaan antargenerasi yang penting: pengalaman bertemu energi, sejarah bertemu masa depan, kematangan bertemu kreativitas. Regenerasi tidak berarti menyingkirkan generasi sebelumnya. Sebaliknya, regenerasi adalah kemampuan organisasi mentransmisikan pengetahuan dan nilai sambil memberikan ruang kepada generasi berikutnya untuk melakukan pembaruan.

Dari Program Menjadi Sistem

Tantangan terbesar kami justru dimulai setelah Training of Trainers selesai. Kalau Akademi Partai GOLKAR hanya mampu menyelenggarakan ToT, diklat, seminar, dan kegiatan pendidikan politik, kritik para senior terhadap tulisan saya sebelumnya menjadi benar. Kita belum membangun legacy. Kita baru berhasil menyelenggarakan serangkaian program organisasi.

Karena legacy membutuhkan institusionalisasi. Kaderisasi harus bergerak dari event menjadi sistem, dari kegiatan menjadi kebiasaan, dari kebiasaan menjadi budaya, kemudian dari budaya menjadi institusi. Ketika tahapan itu terjadi, kaderisasi tidak lagi bergantung pada kehendak individual pemimpin, tetapi menjadi kebutuhan permanen organisasi.

Itulah mengapa Akademi Partai GOLKAR menjadi sangat penting. Secara kelembagaan, Akademi dirancang sebagai pusat kaderisasi dan pendidikan politik yang bertanggung jawab menyusun kebijakan, kurikulum, pedoman, serta akreditasi kegiatan kaderisasi di seluruh tingkatan. Artinya, yang sedang dibangun bukan sekadar program, tetapi sebuah sistem.

Kaderisasi harus mempunyai kurikulum, jenjang pendidikan, instruktur, standar kompetensi, mekanisme evaluasi, serta pengendalian mutu. Lebih jauh, proses tersebut harus terhubung dengan database kader, aktivitas kader, talent pool, dan promosi kader, sehingga pendidikan politik memiliki hubungan nyata dengan perjalanan kepemimpinan seseorang.

Dengan demikian, siapa pun yang kelak menjadi Ketua Umum Partai GOLKAR, sistem tersebut harus tetap berjalan. Ketua umum dapat berganti, pengurus dapat berganti, bahkan konfigurasi politik dapat berubah. Tetapi kaderisasi harus tetap hidup karena telah berubah dari kehendak kepemimpinan menjadi sebuah kebutuhan kelembagaan.

Dari Kaderisasi Menuju Meritokrasi

Namun ada satu pekerjaan yang jauh lebih berat. Kaderisasi akan kehilangan makna apabila tidak mempunyai hubungan dengan masa depan kader. Untuk apa seseorang mengikuti pendidikan berjenjang, menjalankan penugasan, meningkatkan kompetensi, dan membuktikan pengabdian apabila kesempatan memimpin akhirnya tidak mempertimbangkan seluruh proses yang telah dilaluinya?

Karena itu, ujung kaderisasi haruslah meritokrasi. Orang yang belajar harus mendapatkan kesempatan, mereka yang bekerja harus tercatat, mereka yang berprestasi harus memperoleh ruang. Kader yang mempunyai integritas, kompetensi, loyalitas, dan rekam jejak pengabdian harus mendapatkan jalan yang semakin terbuka untuk memimpin Partai GOLKAR.

Pedoman Kaderisasi telah meletakkan arah tersebut melalui talent pool dan sistem penilaian objektif. Setiap kader diharapkan tercatat, dievaluasi, dan dikembangkan secara sistematis, sementara promosi diarahkan berbasis prestasi dan integritas. Dengan demikian, GOLKAR ingin menjadi bukan sekadar mesin politik, tetapi sumber kepemimpinan nasional.

Bayangkan apabila sistem tersebut berjalan konsisten. Seorang anak muda dapat masuk GOLKAR melalui komunitas, mengikuti kaderisasi, menerima penugasan, kemudian prestasi dan kompetensinya tercatat. Ia masuk dalam talent pool, mendapatkan pengembangan kapasitas, lalu memperoleh kesempatan memimpin berdasarkan kualitas, integritas, pengabdian, dan kemampuan yang telah dibuktikannya.

Partai GOLKAR dengan demikian harus mengetahui siapa kader terbaiknya dari kecamatan, kabupaten dan kota, provinsi, hingga tingkat nasional. Siapa yang memiliki kapasitas menjadi legislator, kepala daerah, menteri, teknokrat, pemimpin organisasi, bahkan pemimpin nasional. Mereka tidak dicari mendadak, melainkan dipersiapkan melalui proses panjang.

Mata Air Itu Harus Terus Mengalir

Karena itulah saya menyebut kaderisasi sebagai mata air kepemimpinan. Partai politik tidak boleh hanya menjadi muara tempat orang-orang yang telah memiliki kekuasaan berkumpul. Partai harus menjadi mata air tempat manusia ditempa, gagasan dipertajam, karakter dibentuk, dan generasi baru memperoleh kesempatan tumbuh menjadi pemimpin.

Belasan tahun mata air itu nyaris tidak mengalir sebagaimana mestinya. Hari ini ia mulai dialiri kembali. Pertanyaannya tentu sah: apakah semua yang sedang dimulai ini sudah dapat disebut legacy? Saya kira biarlah waktu dan sejarah kelak memberikan penilaian terakhir atas pertanyaan tersebut.

Tetapi tugas generasi kami bukan duduk menunggu sejarah memberikan penilaian. Tugas kami adalah bekerja agar sesuatu yang telah dimulai hari ini benar-benar menjadi legacy. Justru kritik para senior memberikan pekerjaan rumah: memastikan kaderisasi tetap berjalan ketika suatu hari Bahlil Lahadalia tidak lagi menjadi Ketua Umum.

Karena institusi yang kuat adalah institusi yang tidak bergantung kepada satu orang. Pemimpin besar bukan hanya mereka yang mampu membuat organisasi kuat ketika dirinya memimpin, tetapi mereka yang meninggalkan sistem, manusia, nilai, dan tradisi yang membuat organisasi tetap kuat setelah kepemimpinannya berakhir.

Pedoman Kaderisasi sendiri memberikan ukuran yang sangat jelas terhadap cita-cita tersebut: “Kaderisasi harus menjadi budaya organisasi, bukan sekadar program periodik.” Setiap pengurus bahkan ditempatkan memiliki kewajiban moral untuk membina kader, sementara setiap kader mempunyai kewajiban terus belajar dan meningkatkan kompetensi dirinya.

Mendirikan Akademi adalah langkah pertama. Menghidupkan kaderisasi adalah langkah berikutnya. Membangun talent pool dan meritokrasi merupakan perjuangan selanjutnya. Sedangkan memastikan semua itu bertahan melampaui pergantian kepemimpinan merupakan ujian terakhir yang menentukan apakah pekerjaan besar hari ini benar-benar telah berubah menjadi warisan kelembagaan.

Jika kelak itu terjadi, kita mungkin tidak lagi perlu berdebat apakah kebangkitan kaderisasi merupakan legacy Bahlil Lahadalia atau bukan. Sejarah akan memberikan jawabannya melalui institusi yang tetap hidup dan melalui generasi pemimpin baru yang terus dilahirkan Partai GOLKAR untuk mengabdi kepada Indonesia.

Sebab legacy terbaik seorang pemimpin bukanlah namanya yang terus disebut setelah kekuasaannya berakhir. Legacy terbaik adalah institusi yang tetap hidup, sistem yang tetap bekerja, nilai yang terus diwariskan, dan generasi baru yang terus lahir sekalipun orang yang memulainya telah meninggalkan jabatannya.

Mata air itu kini kembali mengalir. Tugas kami di Akademi Partai GOLKAR, bersama seluruh keluarga besar Partai GOLKAR, adalah menjaganya agar tidak pernah kering lagi. Sebab dari mata air kaderisasi itulah kita berharap terus lahir pemimpin-pemimpin terbaik Partai GOLKAR untuk masa depan Indonesia.

0 CommentsClose Comments

Leave a comment