Refleksi 81 Tahun Bang Akbar Tandjung

Oleh : Arief Rosyid Hasan (Sekretaris Akademi Partai GOLKAR, Ketum PB HMI 2013-2015)

Hari ini Bang Akbar Tandjung genap berusia 81 tahun. Dari perjalanan panjangnya, ada satu karakter yang selalu terang: memilih kompromi, kerja sama, dan konsensus sebagai jalan politik. Bukan dengan menabuh genderang perang. Politik baginya bukan seni memperbanyak musuh, melainkan kemampuan menemukan titik temu di tengah perbedaan.

Saya mengenal jejak Bang Akbar bukan hanya sebagai Ketua Umum Partai Golkar, Ketua DPR RI, menteri, atau politisi senior. Jauh sebelum semua jabatan itu, ia adalah aktivis Himpunan Mahasiswa Islam. Beliau pernah mendapatkan amanah menjadi Ketua Umum Pengurus Besar HMI.

Karena itulah perjalanan Bang Akbar selalu terasa dekat secara batin bagi saya. Ada jalan panjang yang menghubungkan HMI dengan pengabdian politik kebangsaan. Jalan itu tidak selalu mudah. Bahkan pada masanya merupakan pilihan berani: seorang mantan Ketua Umum PB HMI justru memilih Golkar sebagai medan perjuangan politiknya.

Hajriyanto Y. Thohari dalam tulisannya Setengah Abad Rute Politik Islam Baru memberikan perspektif menarik mengenai pilihan tersebut. Ia membaca Akbar Tandjung bukan sekadar politisi Golkar, melainkan bagian penting dari sebuah eksperimen besar pembaruan politik Islam Indonesia yang bermula sejak awal dekade 1970-an.

Di belakang eksperimen itu berdiri Nurcholish Madjid atau Cak Nur. Sebagai Ketua Umum PB HMI, Cak Nur melontarkan gagasan pembaruan yang mengguncang zamannya: “Islam, Yes; Partai Islam, No!” Islam tidak harus dipenjarakan dalam satu kendaraan politik. Nilai-nilai Islam justru harus hadir seluas-luasnya dalam kehidupan kebangsaan.

Tetapi setiap gagasan membutuhkan orang yang mengoperasionalkannya. Hajriyanto mengingatkan catatan Ahmad Wahib dalam Pergolakan Pemikiran Islam, yang melihat Akbar Tandjung sebagai kekuatan operasional politik gagasan pembaruan Cak Nur. Jika Cak Nur membangun jalan pemikirannya, Bang Akbar seperti orang yang berani berjalan di atas jalan baru tersebut.

Bang Akbar tidak memilih rute konvensional dengan masuk ke partai Islam. Ia justru memasuki Golkar, sebuah kekuatan politik nasionalis yang ketika itu bahkan memiliki hubungan rumit dengan kelompok-kelompok Islam. Pilihan tersebut kemudian membuka rute baru bagi kader-kader muda Islam untuk berkiprah melalui kekuatan politik kebangsaan.

Cak Nur sendiri melihat perjalanan Bang Akbar dengan perspektif yang sangat personal. Dalam Sekapur Sirih buku Membangun Konsensus : Pemikiran dan Praktik Politik Akbar Tandjung, ia mengenang telah mengenal Bang Akbar sejak sama-sama aktif di HMI sekitar 1963. Latar keluarga yang plural membuat Akbar terbiasa menghadapi perbedaan dan konflik sejak usia muda.

Menariknya, Cak Nur menghubungkan keberanian politik Bang Akbar dengan pendidikan moralnya di HMI. Ketika Golkar menghadapi krisis kepercayaan setelah Reformasi, banyak kader kehilangan keberanian menghadapi masyarakat. Bang Akbar memilih berdiri di depan. Menurut Cak Nur, keberanian tersebut berakar pada basis moral yang diperolehnya ketika berada di HMI.

Di titik inilah HMI menjadi lebih dari sekadar organisasi tempat seseorang pernah berproses. Nilai kebaikan dan kebenaran yang diperoleh di sana harus dibawa ke medan pengabdian yang lebih luas. Bang Akbar menunjukkan bahwa identitas keislaman tidak mengecil ketika seseorang memasuki ruang politik kebangsaan yang plural.

akbar tanjung hmi

Cak Nur bahkan membaca transformasi Golkar sebagai proses yang berlangsung bertahap. Islam, tulisnya, lama-kelamaan “merembes ke dalam” Golkar, antara lain melalui kader-kader HMI, hingga akhirnya Bang Akbar tampil sebagai Ketua Umum. Baginya, Akbar melambangkan perkembangan hubungan baru antara Islam, Golkar, dan kebangsaan.

Ada bagian lain dari penilaian Cak Nur yang menurut saya menjelaskan Bang Akbar hingga hari ini. Sebagian orang mungkin menganggapnya terlalu lemah karena selalu mencari jalan tengah. Tetapi Cak Nur justru membalik penilaian tersebut: kemampuan mencari jalan tengah itulah kekuatannya—halus, tidak gemar mengumbar perkataan, berkeadaban, dan memiliki moral.

Maka, kompromi dalam tradisi politik Bang Akbar bukanlah tanda kehilangan prinsip. Konsensus bukan berarti menyerahkan keyakinan. Jalan tengah justru membutuhkan keteguhan sekaligus keluasan hati: mengetahui kapan harus berdiri tegak mempertahankan prinsip dan kapan harus duduk bersama mencari jalan keluar bagi kepentingan yang lebih besar.

Warisan itu mencapai titik paling menentukan ketika Reformasi datang. Golkar menghadapi tekanan politik yang luar biasa. Bang Akbar tidak meninggalkan gelanggang. Ia memilih mempertahankan dan mentransformasikan Golkar melalui kompetisi demokratis. Pilihan itu membuat Golkar tetap menjadi salah satu kekuatan utama politik Indonesia setelah berakhirnya Orde Baru.

Karena itu, saya melihat rute politik Bang Akbar bukan sekadar perjalanan seorang individu. Ia merupakan mata rantai panjang pembaruan politik Islam Indonesia: dari gagasan Cak Nur, keberanian operasional Bang Akbar, hingga lahirnya generasi kader Islam yang tidak lagi melihat keislaman dan kebangsaan sebagai dua kutub berlawanan.

Hajriyanto menyebut rute tersebut telah berjalan sekitar setengah abad. Banyak aktivis mahasiswa dan pemuda Islam kemudian mengikuti jalan yang dirintis Bang Akbar: memasuki partai kebangsaan tanpa harus meninggalkan sumber nilai keislamannya. Mereka membawa nilai, bukan sekadar membawa identitas organisasi, ke dalam arena politik nasional.

Di usia Bang Akbar yang ke-81 tahun, refleksi itu menjadi sangat personal bagi saya. Saya teringat banyak percakapan, nasihat, dan harapan beliau kepada generasi setelahnya. Salah satunya sederhana tetapi mendalam: kader-kader terbaik HMI jangan hanya berdiri di luar kekuasaan. Mereka harus berani masuk dan ikut memperbaikinya.

Kini saya ingin mengatakan kepada Bang Akbar: Bang, kini sudah kulakukan apa yang sejak dulu engkau harapkan. Setelah pernah mengemban amanah sebagai Ketua Umum PB HMI, saya memilih bergabung dan berjuang di Partai Golkar. Jalan yang puluhan tahun sebelumnya juga pernah Bang Akbar pilih dan perjuangkan.

Tentu zaman kami berbeda. Tantangannya juga berubah. Tetapi satu hal tidak boleh berubah: politik harus tetap mempunyai basis moral. HMI mengajarkan nilai, sedangkan politik menyediakan ruang untuk mengoperasionalkan nilai itu menjadi karya, kebijakan, dan keberpihakan nyata kepada masyarakat, umat, bangsa, dan negara.

Mungkin inilah makna terdalam sebuah kaderisasi. Seorang senior tidak meminta generasi berikutnya menjadi fotokopi dirinya. Ia membuka jalan, menunjukkan keberanian memilih, kemudian membiarkan generasi berikutnya menemukan bentuk perjuangannya sendiri. Cak Nur membuka gagasan, Bang Akbar mengoperasionalkannya, dan generasi kami berkewajiban melanjutkan serta memperbaruinya.

Pada akhirnya, politik bukan tentang siapa yang paling keras bersuara atau paling banyak menciptakan lawan. Bang Akbar mengajarkan sesuatu yang semakin langka: kekuatan politik justru dapat lahir dari kemampuan merawat persahabatan, membangun konsensus, mempertemukan perbedaan, dan tetap teguh pada nilai yang diyakini.

Selamat ulang tahun ke-81, Bang Akbar Tandjung. Sehat dan panjang umur. Teruslah menjadi tempat kami belajar tentang HMI, Golkar, Islam, dan Indonesia. Tentang bagaimana memperjuangkan kebenaran tanpa kehilangan persaudaraan, memenangkan politik tanpa menabuh genderang perang, serta berkuasa tanpa kehilangan basis moral perjuangan.

Insya Allah, rute itu akan kami lanjutkan.

0 CommentsClose Comments

Leave a comment