Gagasan besar tidak boleh berhenti di ruang-ruang diskusi. Setelah sukses menggelar Dialog Kebudayaan bersama para pemuda dan akademisi di Sumatera dan Makassar, ikhtiar kami untuk membumikan spirit perjuangan Syekh Yusuf Al-Makassari kini bersiap melangkah ke babak baru.
Baru-baru ini, saya terlibat dalam sebuah diskusi yang sangat seru bersama sineas senior kebanggaan Indonesia, Riri Riza, yang juga merupakan Creative Director di Miles Films. Saya banyak mendapat insight dari Bung Riri tentang film, dan bagaimana mengomunikasikan kreativitas layar lebar untuk menggugah dan menginspirasi.
Yang tak kalah penting, kami juga berdiskusi soal rencana pembuatan film biopik (kisah hidup) sang ulama pejuang, Syekh Yusuf.
Rencana besar pembuatan film ini dipicu oleh sebuah momentum penting yang diinisiasi oleh Menteri Kebudayaan, Fadli Zon. Kementerian Kebudayaan telah mengajukan usulan perayaan 400 tahun Syekh Yusuf ke UNESCO. Kita patut bersyukur dan bangga, badan dunia PBB tersebut menyetujui dan menetapkannya sebagai agenda dunia tahun ini.
Dunia internasional juga mengakui bahwa dampak ketokohan “Tuanta Salamaka” bersifat lintas negara. Jejak spiritual dan politiknya merentang dari Sulawesi Selatan, Banten, Aceh, Sri Lanka, hingga Afrika Selatan. Karya-karyanya tercatat sebagai Memory of the World UNESCO, dan namanya diabadikan oleh Nelson Mandela sebagai salah satu inspirasi terbesar dalam melawan politik apartheid.
Sebagai Ketua Umum Angkatan Muda Syekh Yusuf (AMSY), kelompok anak muda yang mendedikasikan diri untuk mengadvokasi, merawat, dan menyebarkan nilai-nilai kepahlawanan beliau, momentum 400 tahun ini harus kita manfaatkan lewat medium komunikasi yang paling efektif bagi generasi hari ini: film bioskop.
Dalam diskusi tersebut, Bung Riri Riza memberikan sebuah masukan yang sangat tajam dan membuka mata kita semua. Sebagai sutradara legendaris yang melahirkan karya-karya besar seperti Gie dan Athirah, beliau menekankan pentingnya menentukan “pondasi berpikir” yang kuat sebelum masuk ke proses produksi.
Bung Riri mengingatkan, jika rencana ini diwujudkan, maka film biopik Syekh Yusuf tidak boleh hanya menjadi sekadar dokumentasi sejarah. Film ini harus memiliki nilai drama yang kuat, mampu menangkap gejolak batinnya, serta menyentuh sisi kemanusiaan beliau yang paling universal.
Harapannya, para penonton, terutama generasi milenial dan Gen Z, bisa merasakan kedekatan emosional. Kita perlu membawa penonton ikut merasakan rindu beliau pada kampung halaman saat dibuang, keteguhan memegang prinsip di tengah pengasingan, hingga kehangatan beliau saat merangkul sesama hamba Allah di berbagai benua.
Dari pembahasan ini, saya sangat ingin membuka ruang kolaborasi seluas-luasnya bagi sejarawan, budayawan, pemerintah daerah, dunia usaha, hingga seluruh elemen kepemudaan untuk ikut terlibat menyukseskan film Syekh Yusuf. Yuk, mari kita berkolaborasi!