Jumat lalu (4/9), saya memasuki sebuah momentum yang sangat personal sekaligus reflektif: genap berusia 40 tahun. Empat dekade perjalanan hidup, dengan lebih dari dua puluh tahun di antaranya dihabiskan dalam ruang aktivisme, kaderisasi, kepemudaan, hingga politik.

Saya setuju dengan pernyataan bahwa “40 is the new 20”. Kita tidak menua, tapi menjadi lebih muda dan gesit. 

Untuk menandai momentum tasyakuran dan harlah ke-40 ini, saya menggelar diskusi bertajuk “Memimpin Rute Baru Politik Islam” serta meluncurkan delapan buku karya di kawasan Menteng, Jakarta Pusat. Diskusi hangat ini makin kaya berkat kehadiran dua sosok yang amat saya hormati: Cendekiawan Muslim Kanda Fachry Ali dan Direktur Akademi Partai Golkar Ayahanda Hajriyanto Y. Thohari.

Melihat ke belakang, perjalanan ini dimulai dari tradisi intelektual dan kaderisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), hingga saya dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua Umum PB HMI 2013–2015. Dari sanalah kiprah terus berkembang ke berbagai ruang pengabdian publik, kepemudaan, pendidikan politik, hingga kini sebagai Sekretaris Akademi Partai Golkar dan Sekretaris Jenderal DPP AMPI.

Di usia 40 tahun ini, saya menyadari betul bahwa perubahan tidak pernah lahir secara instan. Ia membutuhkan proses panjang, pengalaman, kompetisi, dan yang paling utama: kaderisasi yang tak boleh terputus.

Demokrasi pada dasarnya adalah arena kompetisi. Karena itu, regenerasi kepemimpinan anak muda tidak cukup hanya dilakukan dengan memberi mereka panggung atau ruang untuk bicara.

Orang muda harus memperoleh kesempatan untuk belajar, berproses, bertanding, menang, kalah, lalu kembali bertanding. Jam terbang inilah yang akan membentuk kapasitas, pengalaman, dan daya juang. Sehingga regenerasi tidak berhenti sekadar pada pergantian usia, tetapi benar-benar melahirkan pemimpin yang matang.

Refleksi perjalanan ini membawa saya pada gagasan “Memimpin Rute Baru Politik Islam”. Sudah saatnya politik Islam bergerak melampaui perdebatan identitas menuju politik gagasan, karya, dan kontribusi nyata bagi bangsa.