Ada pepatah tua yang selalu relevan dalam kehidupan kita: tak kenal maka tak sayang. Pepatah ini mendadak terngiang kuat di benak saya dalam sepekan terakhir, ketika saya berkesempatan melintasi dua pulau untuk melihat dari dekat kekayaan luar biasa yang Tuhan titipkan di bumi Indonesia: energi hijau geothermal (panas bumi).
Awal pekan kemarin, saya memenuhi undangan untuk berkunjung ke Sarulla yang terletak di Kecamatan Pahae Jae dan Pahae Julu, Kabupaten Tapanuli Utara, Sumatra Utara. Di sana beroperasi Sarulla Operations Ltd (SOL), pengelola salah satu proyek pembangkit listrik tenaga panas bumi (geothermal) terbesar di dunia yang memanfaatkan potensi energi bersih secara efisien dan berkelanjutan.
Jujur saja, jika selama ini saya lebih banyak berdiskusi dan berdialog dengan para stakeholder di ruang-ruang rapat mengenai transisi energi, ini adalah kunjungan perdana saya untuk melihat langsung site panas bumi secara komprehensif.
Begitu tiba di area site Sarulla yang berada di dataran tinggi yang sejuk, mata saya langsung tertuju pada gumpalan uap tebal yang membumbung tinggi ke udara. Itu bukanlah asap polusi industri, melainkan murni uap air dari dalam perut bumi. Geothermal adalah sumber energi bersih yang Allah SWT anugerahkan untuk bangsa kita.
Satu hal yang paling membuat saya takjub: tidak ada polusi sama sekali. Area di sekitar pabrik geothermal justru masih sangat asri, hijau, dan rindang. Industri ini membuktikan bahwa kita bisa menghasilkan energi listrik dalam skala besar tanpa merusak habitat alam, sekaligus memberikan benefit ekonomi dan sosial jangka panjang yang berkelanjutan bagi masyarakat sekitar.
Kunjungan ke Tapanuli Utara ini terasa kian berkesan karena letaknya yang berdekatan dengan Sipirok, kampung halaman mendiang Prof. Lafran Pane, pendiri HMI dan Pahlawan Nasional yang mendedikasikan hidupnya untuk ke-Islaman dan ke-Indonesiaan. Saya teringat kembali momen saat terlibat di balik layar pembuatan Film Lafran, di mana keindahan dan keteguhan alam Sipirok sempat terekam pada film itu.
Perjalanan tak berhenti di Sumatra Utara. Dari Sarulla, saya melanjutkan perjalanan menuju Bandung, Jawa Barat.
Di sana, saya berkesempatan duduk melingkar dan berdiskusi hangat bersama para pemuda serta influencer dari kalangan mahasiswa dalam agenda bertajuk “Discover Geothermal”. Mereka telah hadir dan melihat langsung operasional di dua site geothermal yakni PLTP Patuha dan PLTP Kamojang.
Diskusi mengalir, orang muda ternyata memiliki rasa ingin tahu yang sangat besar ketika diberikan ruang untuk melihat langsung fakta di lapangan.
Melalui rangkaian perjalanan dari Sarulla hingga Patuha ini, saya menaruh harapan besar: semakin banyak lapisan masyarakat, khususnya orang muda, yang mengenal dan akrab dengan geothermal.
Sebab sekali lagi, tak kenal maka tak sayang. Jika kita tidak mengenalnya, kita akan mudah termakan disinformasi. Dan jika kita tidak memanfaatkannya, kita bukan saja melewatkan kesempatan emas untuk melakukan diversifikasi energi nasional, tetapi juga memubazirkan anugerah luar biasa yang telah diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa di bumi Nusantara.
Mari kita terus belajar, mengedukasi, dan menjadi bagian dari generasi penjelajah yang siap mengawal kedaulatan energi bersih Indonesia!