Pada suatu subuh jelang matahari terbit, saya melihat pemandangan yang membuat terenyuh. Saya sedang jalan pagi, dan mendapati ada pedagang kaki lima yang tetap teguh menegakkan salat, meski di luar ruangan dan di atas trotoar. 

Dari gerobaknya, terlihat bahwa pedagang ini menjual aneka kopi dan minuman, serta makanan ringan. Di kepalanya, terlilit aksesoris merah-putih, masih dalam nuansa perayaan HUT proklamasi Indonesia. 

Pemandangan seperti ini membuat hati tergerak untuk selalu bersyukur. Meskipun menjalankan agenda, namun Allah SWT senantiasa memudahkan saya untuk mengingat-Nya dan beribadah pada-Nya. Bahkan, terkadang, ada saja panggilan atau pengingat dari teman yang lain untuk beribadah secara berjemaah. 

Aksi salat di atas trotoar tadi memberi pengingat bagi saya: sesibuk apapun, di manapun, mari tegakkan salat dan ingat pada Allah.