Arief Rosyid Hasan (Alumni YPL Golkar Institute, Ketum PB HMI 2013–2015)

Partai Golkar adalah partai besar dengan akar sejarah yang panjang. Namun di balik narasi resminya yang sering menekankan stabilitas dan kekuasaan, ada bab penting yang jarang disinggung. Golkar lahir dari rahim kekuatan masyarakat fungsional, termasuk para aktivis mahasiswa dan umat Islam, terutama Himpunan Mahasiswa Islam.

Pada tahun 1964, di tengah ketegangan politik nasional, Sekretariat Bersama Golkar didirikan sebagai benteng terhadap menguatnya komunisme. Dari sembilan puluh tujuh organisasi yang menjadi pendiri Sekber, HMI adalah salah satu yang paling aktif dan berpengaruh bersama organisasi buruh, petani, pemuda, perempuan, dan profesi lainnya. Dalam Sekber inilah semangat kekaryaan dan pengabdian non partisan menjadi fondasi kelahiran Golkar. Bukan sekadar kendaraan politik, melainkan tempat bertemunya energi bangsa yang ingin membangun tanpa gaduh ideologi.

Namun seiring waktu, jejak intelektual dan militansi kader mahasiswa dalam sejarah Golkar semakin memudar. Narasi kekuasaan menggeser narasi gerakan. Partai ini terlihat lebih birokratis ketimbang ideologis, lebih administratif ketimbang aspiratif. Di sinilah letak sejarah yang hilang itu, sejarah tentang semangat muda, tentang gotong royong antar golongan, tentang Golkar sebagai rumah bagi kekuatan fungsional bangsa.

Hari ini di bawah kepemimpinan Bahlil Lahadalia, sejarah itu seperti dipanggil pulang. Bahlil yang lahir dari gerakan mahasiswa dan tumbuh sebagai pengusaha muda nasional mengembalikan Golkar ke semangat asalnya. Ia membuka diri bagi anak muda, aktivis kampus, komunitas pesantren, dan kelompok fungsional lainnya. Ia datang ke kampus, ke forum aktivis Cipayung – BEM, ke pesantren NU dan Muhammadiyah bukan sekadar membagi baliho, melainkan membuka ruang dialog.

Inilah momentum penting. Transformasi Golkar tidak dimulai dari perubahan struktur semata, tetapi dari kesadaran sejarah. Sejarah sebagai sumber kekuatan, sejarah sebagai pijakan untuk kembali menyatu dengan rakyat.

Dalam dokumen resmi Transformasi Partai Golkar di bawah Bahlil, terlihat arah baru yang jelas, yakni membangun partai modern, solid, dan mengakar. Menciptakan kaderisasi berbasis meritokrasi. Membuka ruang ekspresi politik anak muda yang kreatif, menyenangkan, dan relevan dengan ekosistem digital. Tetapi semua itu tidak akan berarti tanpa jiwa. Jiwa itu ada dalam sejarah Golkar sendiri. Sejarah tentang mahasiswa, umat, dan rakyat yang bergotong royong membangun republik.

Transformasi yang tak berpijak pada sejarah hanya akan menjadi pembaruan kosmetik. Tetapi transformasi yang tumbuh dari akar sejarah akan menjadikan Golkar bukan hanya relevan, melainkan juga punya daya hidup yang tahan uji zaman.

Kini dengan potensi ratusan juta pemilih muda di Pemilu 2029, Golkar punya peluang besar jika kembali pada wataknya. Bukan partai elite, melainkan partai rakyat pekerja. Bukan menara gading kekuasaan, melainkan rumah besar karya dan pengabdian.

Menghidupkan kembali sejarah Golkar bersama HMI dan organisasi fungsional lainnya bukanlah nostalgia. Itu adalah syarat mutlak agar transformasi tidak kehilangan arah. Sejarah itu tidak pernah hilang. Ia hanya menunggu dipanggil kembali oleh generasi muda yang ingin berpolitik dengan akal sehat, hati nurani, dan semangat membangun bangsa.