Oleh: Arief Rosyid Hasan
Dalam Momentum Maulid Syekh Yusuf Al-Makassari & Pengukuhan Ketua Umum Pertama AMSY

Pendopo Lama Gubernur Banten, 3 Juli 2025

“Siapa yang menyalakan obor perjuangan dari iman, tak akan pernah padam meski diterpa zaman.”
(Menginspirasi dari jejak Syekh Yusuf)

Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,

Yang saya muliakan para ulama, para guru bangsa, pewaris perjuangan, tokoh masyarakat, dan sahabat-sahabat seperjuangan yang hadir dengan semangat yang menyala.

Hari ini adalah hari yang penuh berkah.

Kita tidak hanya memperingati Maulid Syekh Yusuf Al-Makassari, tapi juga menyaksikan secara resmi Pengukuhan Angkatan Muda Syekh Yusuf (AMSY) dan penetapan saya sebagai Ketua Umum Pertama—suatu amanah yang besar dan menuntut keberanian jiwa.

Yang membuat hari ini begitu bermakna adalah karena tempat ini:

Kita berdiri di Pendopo Lama Gubernur Banten, sebuah situs sejarah yang pernah menjadi saksi bisu persahabatan dan perjuangan dua tokoh besar bangsa ini: Syekh Yusuf dan Sultan Ageng Tirtayasa.

Syekh Yusuf dan Banten: Jejak Sejarah yang Menyatukan

Di tempat inilah, lebih dari tiga abad silam, Syekh Yusuf meninggalkan jejak perjuangan bersama Sultan Ageng Tirtayasa.
Keduanya bukan hanya pemimpin, tapi pembela rakyat, penentang penjajahan, dan penggerak nilai-nilai Islam yang membebaskan.

Syekh Yusuf datang ke Banten bukan untuk mencari pengaruh, tetapi untuk menjadi perisai bagi kedaulatan dan harga diri bangsa.
Ia membantu Sultan Ageng Tirtayasa dalam perlawanan terhadap VOC, menyatukan kekuatan spiritual dan militer untuk satu tujuan: kemerdekaan dan keadilan.

Warisan Syekh Yusuf yang sangat menonjol antara lain adalah keulamaan yang mendalam, keintelektualan yang mencerahkan, kepahlawanan yang melampaui batas geografis, dan kemanusiaan yang melintasi sekat identitas.
Dan kini, ratusan tahun kemudian, kita—generasi mudanya—berkumpul di titik yang sama, untuk menghidupkan kembali nilai, semangat, dan nyala perjuangan itu.

Warisan Darah, Warisan Nilai

Saya berdiri di sini bukan semata karena pilihan pribadi, tetapi karena takdir sejarah dan panggilan warisan.

Saya adalah cucu dari Syekh Muhammad Ali Affandy (Kali Jampu Pertama) dan salah satu keturunannya Kali Jampu AGH Muhsin Umar (Kakak Ipar KH Ali Yafie – Mantan Ketum MUI dan Rais Aam PBNU), seorang ulama besar murid ideologis dari Syekh Yusuf Al-Makassari. Melalui garis ibu, saya mewarisi mata rantai spiritual dari sang wali pejuang.

Dari sisi ayah, saya berasal dari Bate Salapang Gowa, bagian dari Parlemen Kerajaan Gowa, tempat Syekh Yusuf mengawali perjalanannya sebagai seorang pemuda berani, yang menjadikan ilmu dan iman sebagai senjata perjuangan.

Inilah yang membuat AMSY bukan sekadar organisasi bagi saya, tapi jalan pengabdian untuk melanjutkan darah dan nilai yang diwariskan.

AMSY: Gerakan yang Dilahirkan oleh Iman, Bukan Ambisi

Hari ini saya menerima amanah sebagai Ketua Umum Pertama AMSY dengan rasa haru dan penuh tanggung jawab.

Saya tidak berdiri sendiri. Saya berdiri membawa warisan guru-guru, darah pejuang, dan tekad ribuan pemuda yang menginginkan perubahan.
AMSY bukan tempat untuk mengejar jabatan, bukan kendaraan menuju kekuasaan.
AMSY adalah ruang suci kaderisasi nilai, spiritualitas, dan tanggung jawab sosial.

Pemuda Adalah Penentu Arah Sejarah

Syekh Yusuf bergerak di usia muda. Ia meninggalkan kenyamanan, memilih perjuangan. Ia melintasi pulau, menembus laut, dari Makassar ke Banten, Ceylon hingga Afrika Selatan—menjadi suara kebenaran di tanah yang tak selalu ramah.

Kita, pemuda hari ini, jangan sampai hanya jadi komentar di media sosial. Kita harus jadi penulis sejarah baru yang menanam nilai dalam kebijakan, menyemai cinta dalam perjuangan, dan menghadirkan solusi bagi bangsa.

Spirit Kemanusiaan dan Tanggung Jawab Global

Sebagai seorang doktor kesehatan masyarakat, saya tahu benar bahwa krisis terbesar umat hari ini bukan hanya di ekonomi atau politik, tapi di nilai dan kemanusiaan.

Syekh Yusuf mengajarkan bahwa iman sejati akan melahirkan keberpihakan—pada yang kecil, yang lemah, dan yang tertindas.

AMSY akan membawa misi itu, memperluas kerja kemanusiaan lintas batas, lintas agama, dan lintas bangsa.

Manifesto Ideologis AMSY

Di titik suci sejarah ini, saya tegaskan kembali Manifesto Ideologis AMSY:

Visi:
Menjadi gerakan pemuda spiritual-progresif yang merawat warisan Syekh Yusuf dalam membangun peradaban yang adil, mandiri, dan berkeadaban.

Misi :
-Membangun generasi muda yang berakar pada iman dan ilmu.
-Mengarusutamakan nilai keadilan sosial sebagai panggilan iman.
-Merintis diplomasi budaya antarbangsa berbasis ukhuwah.
-Mendirikan pusat studi Syekh Yusuf lintas benua.
-Menjadi wadah kaderisasi nilai untuk umat dan bangsa.

Nilai-Nilai Dasar:
-Tauhid sebagai fondasi spiritual.
-Ilmu sebagai senjata perubahan.
-Hijrah sebagai jalan transformasi.
-Jihad sebagai daya juang damai.
-Ukhuwah sebagai jembatan peradaban.
-Mandiri sebagai prinsip keberdaulatan.

Penutup

Kita bukan anak muda biasa. Kita adalah anak-anak muda yang sedang menyambung nyala peradaban.

Saya percaya:
Kita dilahirkan di zaman ini bukan kebetulan. Kita hadir untuk menyalakan nyala baru perjuangan Syekh Yusuf.

Mari kita buktikan bahwa pemuda spiritualis dan progresif bisa menjadi agen perubahan zaman.

Mari kita tunjukkan bahwa warisan Syekh Yusuf tidak tinggal dalam kitab sejarah, tapi hidup dalam gerak langkah kita.

Dengan Bismillah, saya nyatakan:

Angkatan Muda Syekh Yusuf (AMSY) resmi berdiri dan siap berkhidmat untuk umat, bangsa, dan dunia.

Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.