Agenda Pertemuan kelompok G-20 kembali menyuarakan keberlanjutan atau sustainability. Ekonomi masa depan, adalah ekonomi yang minim dampak lingkungan, sehingga terus terjalin keberlanjutan. 

Konsep keberlanjutan ini bisa dikatakan sangat syariah. Maqasid syariah yang mendorong manusia untuk menjaga agama, menjaga jiwa, menjaga pikiran, menjaga keturunan, dan menjaga harta selaras dengan tiga pilar pembangunan berkelanjutan, yaitu pembangunan ekonomi, perbaikan sosial, dan kelestarian lingkungan.

Selain itu, industri keuangan syariah juga sudah mulai bergerak untuk menyalurkan pembiayaan hijau, yang sejalan dengan program TPB/SDGs.

Sebagai negara dengan populasi muslim terbesar di dunia atau 11.92% dari total populasi muslim global, Indonesia memiliki potensi yang sangat besar untuk berkontribusi terhadap pertumbuhan dan penguatan ekosistem ekonomi global melalui ekonomi dan keuangan syariah. 

Kebetulan, Indonesia mendapat panggung lagi pascapertemuan G-20 lalu.

Tahun 2022 nanti, Indonesia ditunjuk menjadi presidensi untuk G-20. Kesempatan emas untuk menunjukkan upaya hingga capaian terkait pembangunan berkelanjutan.

Indonesia, kata Presiden Jokowi, harus menunjukkan kekuatan sebagai negara populasi Muslim terbesar di dunia. Menteri BUMN yang juga Ketua MES Bang Erick Thohir juga mengatakan, ekonomi syariah dapat berkontribusi besar untuk pembukaan lapangan kerja, dan menjaga keseimbangan ekonomi antara masyarakat ekonomi baik, menengah, dan miskin. 

Indonesia juga harus menunjukkan komitmennya secara serius dalam mewujudkan prinsip utama TPB/SDGs, yaitu memastikan tidak seorang pun tertinggal di belakang alias “No One Left Behind”.

Bagi saya, kita pemuda harus jadi lokomotif agar tidak ada yang tertinggal. Jadi, kalau merasa muda, jangan sampai ketinggalan kereta!