Arief Rosyid Hasan
Ketua Umum Angkatan Muda Syekh Yusuf (AMSY)
Pada tanggal 3 Juli ini, kita kembali mengenang Milad Syekh Yusuf Al-Makassari — ulama pejuang, pahlawan peradaban, dan tokoh lintas dunia. Tapi bagi saya pribadi, nama Syekh Yusuf bukan sekadar sosok historis. Ia adalah bagian dari warisan darah, budaya, dan spiritualitas yang membentuk siapa saya hari ini.
Saya tumbuh dengan cerita-cerita tentang keberanian dan kealiman beliau, tentang jejak perjuangannya dari Gowa ke Banten, dari Makkah ke Afrika Selatan. Dan kini, takdir mempertemukan saya kembali dengan namanya, saat dipercaya memimpin Angkatan Muda Syekh Yusuf (AMSY) — sebuah organisasi yang ingin menjadikan semangat Syekh Yusuf sebagai suluh bagi generasi muda.
Syekh Yusuf dan Api Perjuangan Tanpa Batas
Syekh Yusuf adalah simbol dari sebuah Islam yang membebaskan, mempersatukan, dan mencerahkan. Ia bukan hanya ulama, tetapi pemimpin spiritual yang menjadi penggerak perubahan sosial. Beliau menjadikan keilmuan sebagai senjata, pengasingan sebagai medan dakwah, dan spiritualitas sebagai kekuatan perlawanan terhadap penjajahan.
Dalam jejak beliau, saya belajar bahwa agama dan kebangsaan bukan dua kutub yang berseberangan, tapi justru saling menguatkan. Bahwa perjuangan membela umat tidak bisa dilepaskan dari tanggung jawab memperbaiki bangsa.
Ikhtiar Pribadi: Dari Ruang Masjid ke Ruang Publik
Selama ini, saya mencoba menapaki jalan itu. Dari musholla-musholla kecil saat remaja, ke ruang-ruang dakwah mahasiswa melalui HMI, lalu terus bergerak ke forum-forum nasional, bahkan ke ranah kebijakan publik.
Dalam bidang kesehatan, saya turut menyuarakan hak masyarakat atas akses layanan yang adil. Dalam politik, saya memperjuangkan ruang lebih besar bagi generasi muda untuk berkontribusi secara strategis, bukan sekadar simbolis.
Bukan tanpa tantangan. Tapi Syekh Yusuf mengajarkan kita untuk tabah dalam pengasingan, teguh dalam kebenaran, dan bersetia pada amanah, bahkan dalam keterbatasan.
Tugas Generasi Kita: Menjadi Waris Syekh Yusuf
Hari ini, kita hidup di zaman yang berbeda, tetapi tantangannya tak kalah besar: ketimpangan sosial, krisis identitas, polarisasi umat, dan pragmatisme politik. Maka tugas kita bukanlah menjadi pengagum Syekh Yusuf — tapi menjadi waris perjuangannya.
Apa yang bisa kita lakukan?
- Meneguhkan spiritualitas di tengah era yang kering makna.
- Memperjuangkan keadilan dalam sistem sosial dan politik.
- Menjadikan ilmu dan nilai sebagai senjata perlawanan atas kebodohan dan kezaliman.
- Merajut ukhuwah umat dan bangsa dalam satu simpul perjuangan.
Menyalakan Api yang Pernah Dinyalakan
Saya percaya, jejak ini adalah tanggung jawab. Maka menjadi bagian dari warisan Syekh Yusuf bukanlah kehormatan, melainkan beban sejarah. Tapi juga harapan — bahwa api yang dulu pernah dinyalakan dari Indonesia dan Dunia, kini bisa kita nyalakan kembali, dalam bentuk baru, dengan semangat lama: membebaskan, mencerahkan, dan menyatukan.