Belum reda ucapan selamat dari rekan-rekan maupun senior-senior, ramai yang bertanya ke saya, apa langkah berikutnya setelah bergabung Partai Golkar. Pertanyaan sejenis juga datang dari rekan media.
‘Ultimate Purpose’ saya masuk partai tidaklah berubah, yakni ingin memberi dampak seluas-luasnya bagi umat dan bangsa. Tetapi mungkin sebagian orang akan menganggapnya utopia, terlalu ideal. Jadi, saya perlu menurunkan maksud dan tujuan saya dalam hal yang lebih konkret.
Melalui partai, saya ingin mendorong lebih banyak anak muda melek politik dan terlibat ‘bermain di dalam lapangan’. Hal ini juga sejalan dengan visi Ketum Bahlil yang mendorong kader partai untuk semakin dekat dengan anak sekolah, remaja, mahasiswa, ataupun aktivis muda.
Mau tidak mau, suka tidak suka, sistem demokrasi di Indonesia masih mengandalkan partai sebagai lembaga formal politik.
Selain itu, partai politik juga menjadi agregasi kepentingan sehingga perannya sangat strategis dalam penentuan kebijakan. Bagaimanalah akan lahir kebijakan yang berpihak ke orang muda kalau tidak ada yang mengawalnya ‘dari dalam lapangan’?
Mobilisasi sosial-politik juga masih sangat dikendalikan oleh partai politik. Organisasi partai menyentuh berbagai level geografi maupun demografi masyarakat – mulai dari DPP, DPD, sampai ke Dewan Pimpinan Anak Ranting (DPARt) di dusun-dusun ataupun kawasan permukiman.
Dengan berbagai poin tadi, semakin kuat alasan untuk melibatkan lebih banyak anak muda dalam kancah politik. Dan sayapun tak hanya saat masuk partai memiliki cita-cita ini.
Melibatkan remaja hingga mahasiswa untuk melek politik telah saya jalankan di masa awal saya menjabat Waketum DPP AMPI maupun sebelumnya melalui keterlibatan saya mengawal kemenangan Prabowo-Gibran lewat peran sebagai Komandan TKN Fanta.
Mohon doa dan dukungan kawan-kawan semua!